Malam Sastra Dewan Kesenian Kota Probolinggo



Halo!
     Apa yang kalian lakukan saat liburan?
     Menurutku, liburan kemarin aku hanya meliburkan otak. Menenangkan otak, baca yang nggak berat-berat banget dan hanya me-warming-up otak dengan mengingatkan lagi apa yang terlupa. Kebetulan sekali, di hari pertama 2017, aku berkesempatan untuk menyegarkan otak. Hahaha!
     Aku pergi ke...

MALAM SASTRA DEWAN KESENIAN KOTA PROBOLINGGO


     Malam Sastra ini adalah acara puncak apresiasi sastra *aku lupa juga namanya apa xD* di Kota Probolinggo. Bertempat di Museum Kota Probolinggo, acara ini dihelat tepat di pelataran depan museum. Aku secara pribadi diundang untuk hadir karena aku adalah salah satu peserta lomba yang mereka adakan.
Menurut pemberitahuan yang tersebar, acara akan dimulai pada pukul 19.00. Tapi ternyata, pukul 19.00 ini merupakan dimulainya cek sound saja karena panitia sedang menyanyi di depan. Mungkin lebih tepat jika disebut dengan pra-acara aja, ya, hehehe.
     Sekitar jam 20.00 acara dimulai. Dibuka dengan penampilan akustik sebuah band bernama CONFUSED. Aku nggak tahu apa yang mereka nyanyikan sebagai lagu pembuka, tapi yang pasti di lagu kedua mereka menyanyikan salah satu grup indie kesukaanku, yaitu... Payung Teduh! Judulnya pun nyastra (atau baper?) banget lagunya, yaitu: Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan. Asek banget dah lagunya, nyahdu dan nyandu! :D
     Acara dilanjut dengan Baca Puisi oleh Pak Untung (aku nggak tahu ini dia siapa, seriusan deh. Mungkin aku kurang piknik ya xD) Karena ini adalah acara sastra pertama yang kuhadiri, aku kaget karena puisinya panjang banget. Atau memang begitu kalau baca puisi di acara sastra begini ya, hehehe. Puisi yang dibacakan pun kurang lebih membahas negeri yang telah ditinggal oleh bapak ibu pendirinya. Judul puisinya ... Negeri Yatim.
     Setelah itu, hadirlah acara yang sangat kusukai malam itu, yaitu penampilan dari Juru Papat. Nah, Juru Papat ini adalah sekumpulan mahasiswa UNEJ dari Kota Probolinggo yang punya hobi musikalisasi puisi gitu. Nah di kesempatan itulah, aku suka banget dengan musikalisasi puisi karya Bapak Sapardi Djoko Damono yang berjudul Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka yang mereka bawakan. Nadanya menarik dan menyenangkan untuk didengar. Lalu dilanjut dengan musikalisasi puisi karya Umbulan Ruparanggi yang berjudul Melodia.
     Menjelang pukul 9 acara dilanjut dengan pembawaan puisi oleh Bapak Budi yang tampaknya sering berperan dalam event-event seperti ini di Kota Probolinggo. Beliau membacakan puisinya yang berjudul Burung Birokrasi.
     Lalu acara terus berlanjut tanpaku, karena aku memutuskan pulang. Sudah pukul 9, apalah daya seorang anak gadis macam aku ini. Jadilah aku tak menyaksikan musikalisasi puisi dari DKKP dan kelanjutan musikalisasi puisi dari Juru Papat, serta pengumuman lombanya.
     Sejauh ini, acara Malam Sastra ini sangat menarik bagiku. Dan alhamdulillah juga untuk lombanya karena aku menjadi salah satu yang beruntung. Terima kasih banyak, DKKPRO. Semoga acara-acara kedepan lebih sukses lagi.


Salam,
Putri

1 komentar:

  1. Halo, mau dengerin lagi lagunya? bisa dicek di sini.

    https://soundcloud.com/user-158277553/ketika-jari-jari-bunga-terluka-selimut-dingin-new-version-live-record1

    BalasHapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon