Immortal Beloved by Ida R. Yulia | Book Review



 
Judul : Immortal Beloved
Penulis : Ida R. Yulia
Penerbit : Grasindo
Tahun Terbit : September, 2016
ISBN : 9786023756889
Jumlah Hlm : 256 hlm
*
“Aksa, ya? Perkenalkan, saya Kania.”
Kesan pertamaku tiap kali bertemu orang, aku selalu lebih fokus pada suaranya, meski visual juga mendukung. Suara gadis di depanku ini terdengar... entahlah, aku tak yakin. Seperti sensasi liukan biola di Four Seasons Spring-nya Vivaldi.
~
Kania datang di saat aku tak butuh apa pun, kecuali keberanian dan rasa percaya diri. Peristiwa tiga tahun lalu mengikis habis nyaliku bermain biola, satu hal yang menjadi sumber kebahagiaanku selama tinggal di London. Kini, pindah ke Jogja dan mencoba melepaskan diri dari kenangan menyakitkan, aku bersumpah tak akan lagi menyentuh biola, apalagi memainkannya.
Kania hanyalah mahasiswi 22 tahun jurusan Pendidikan Fisika yang ditunjuk Mama sebagai tutor MIPA untuk program homeschooling-ku. Dia bagian dari proyek ambisius Mama mengerem hobiku yang terlalu sering memecat tutor. Aku tak mau kalah dari Mama. Justru aku ingin langsung mengusir gadis itu di pertemuan pertama. Tak kusangka, tekad kuatku menggulingkan segala kebijakan Mama langsung buyar begitu aku mengenal Kania.
-Aksa Harsaya Kalandra, 17-
*

Berkisah tentang Aksa, seorang remaja 17 tahun yang mengalami trauma sehingga ia tak lagi percaya diri untuk memainkan biolanya lagi. Semula dia tinggal di London, Westminster, mempelajari biola dengan tekun sehingga mimpinya sedikit lagi bisa ia gapai, tetapi karena suatu musibah semua tinggal mimpi saja. Selain membuat Aksa tak lagi percaya diri, trauma tersebut juga membuat perubahan dalam diri Aksa. Ia menjadi seorang remaja yang introvert, tidak suka berbaur—sehingga memutuskan untuk homeschooling, suka membentak, dan menyebalkan. Terlebih, Aksa bukanlah remaja biasa, dia adalah seorang difabel. Setelah beberapa kali dilempar dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya, akhirnya berlabuhlah Aksa di Yogyakarta—kota yang diharapkan Aksa dapat membuatnya terlepas dari kenangan menyakitkan di masa lalu.
Homeschooling yang dijalani Aksa membuat Aksa harus bertemu dengan tutor-tutor yang didatangkan oleh mamanya. Aksa bukanlah orang yang ramah, jadi banyak tutor yang memilih untuk tidak mengajar Aksa—karena dipecat maupun mengundurkan diri. Hingga suatu hari, datanglah seorang tutor bernama Kania.
Kania tidak luar biasa—hanya mahasiswi yang kebetulan dibimbing oleh mama Aksa. Namun, Kania mengubah pemikiran Aksa. Kania memang satu-satunya orang yang mampu membuat Aksa merasa asyik berbicara tentang musik klasik. Aksa dibuatnya luluh. Gadis imut itu membuat Aksa melanggar sumpahnya untuk tidak menyentuh biola lagi. Bersama Kania, Aksa mampu untuk membuka case Ludwig—biola yang sarat akan kenangan pahit itu, bahkan sampai memainkan biola itu. Hadirnya Kania membuat Aksa merasakan rasanya pipi menghangat—rasa jatuh cinta.
Sayangnya, jatuh cinta tak pernah mudah. Ada banyak hal yang bisa tidak memuluskan cinta Aksa. Namun, ada banyak hal pula yang membuat hidup Aksa lebih baik lagi.  

Suara gadis di depanku ini terdengar... entahlah. Aku tak yakin. Seperti sensasi liukan biola di Four Seasons Spring-nya Vivaldi. –Hlm 19


Four Seasons Spring I. Allegro by StepanViolin
Yeay! Novel Romance pertama Miss Ida. Sebagai novel pertama yang membawa unsur cinta-cintaan, novel ini cukup sukses meskipun Miss Ida masih tidak bisa lepas dari ciri khasnya di novel karya beliau yang sudah-sudah—membawa unsur psikologi dan hangatnya keluarga. Memang seharusnya seperti itu, saya memang berharap Miss Ida tidak melepaskan ciri khasnya tersebut. Bagi saya, seorang penulis tidak seharusnya melepaskan ciri khasnya sendiri sepenuhnya demi suatu genre yang berbeda dari tulisannya. Miss Ida dengan sukses menjalankan misi novel romens pertamanya tanpa meninggalkan identitasnya. Saya acungi jempol untuk itu.
Seperti yang sudah terlihat dari kavernya, novel ini tentang biola. Ya, unsur musik dalam buku ini begitu kental sehingga tanpa ragu saya masukkan novel ini sebagai salah satu buku berbobot nan menghibur di rak saya. Riset yang penulis lakukan dalam novel ini benar-benar detail. Bahkan saya salut dengan penamaan babnya yang menggunakan nama tempo (in mood markings). Saya senang menyimak setiap pembahasan tentang musik klasik dalam buku ini. Yaaa, meskipun terkadang saya merasa tersindir karena saya tahu musik klasik hanya di luarannya saja. Saya bahkan nggak tahu kalau Beethoven masuk dalam dua periode musik di Eropa—Klasik dan Romantik. Harusnya saya membaca lebih banyak lagi supaya lebih tahu tentang musik klasik. Dari membaca novel ini, saya jadi ingin membaca kisah dengan balutan musik klasik. Mungkin tentang piano, cello, atau oboe?
Seperti yang sudah kusinggung sebelumnya, Miss Ida memiliki ciri khas untuk memasukkan unsur psikologis dan keluarga dalam novel-novelnya. Di Immortal Beloved unsur psikologis ditunjukkan pada bagian trauma Aksa. Di Immortal Beloved dijelaskan bahwa Aksa memiliki momen saat dia kehilangan kepercayadiriannya sehingga berdampak menjadi sifatnya yang tidak ramah dan pemarah. Aksa seperti mengalami PTSD sehingga dia tak mampu untuk menghalau saat kenangan-kenangan pahit menghantamnya, akibatnya Aksa menjadi remaja yang ‘lari’ dari bakatnya. Terkadang hal seperti yang dialami Aksa sering terjadi. Memang sulit untuk melawan perasaan sakit karena masa lalu, tapi bagaimana pun juga, rasa sakit itu seharusnya dihadapi, bukannya dihindari.
Sementara, unsur keluarga yang saya rasakan dari Immortal Beloved adalah betapa hangatnya keluarga tanpa ayah yang dimiliki Aksa ini. Meskipun ada kekurangan karena ayah Aksa telah meninggal, namun sang mama tetap mengusahakan segala hal untuk Aksa. Bu Widya—mama Aksa—adalah sosok yang sabar dan begitu telaten dalam menghadapi Aksa. Dari Bu Widya, aku belajar tentang parenting yang keren, yeay!

Hanya saja, segala upaya orang tua untuk anak, jika sang anak memang tidak sejalan dengan pemikiran orang tua, jatuhnya memang tak baik. Bisa jadi orang tua akan tertekan, atau malah si anak yang tersudut. –Hlm 91

Selain Mama, di sekitar Aksa ada Kakek dan Neneknya yang pengertian, Bi Nah, Pak Langlang, serta Mas Oki yang membuat hidup Aksa lebih berwarna. Keluarga yang dimiliki Aksa memang tidak sempurna, tapi ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya begitu indah.
Di Immortal Beloved, kita akan bertemu dengan banyak macam tokoh. Ada Aksa yang tidak ramah, Bu Widya yang diam-diam menyebalkan, Bi Nah dan Pak Langlang yang lucu, dan ada juga... Kania. Ya, Kania yang membuat Aksa merasa seolah mendengar alunan Four Seasons Spring-nya Vivaldi itu. Kania digambarkan sebagai gadis berusia 22 tahun yang imut. Dia adalah gadis yang pantang menyerah dan patuh akan janjinya sendiri. Sebagai seorang calon guru, Kania benar-benar pandai membuat hati murid-muridnya luluh (Aksa aja luluh xD). Selain ada Kania, ada pula Arziki (siapa diaaa???)—cowok yang membuat mulut tanpa saringan. Dia bisa mengucapkan hal-hal yang menusuk hati dan jujur saja, aku kurang suka dengan tokoh ini karena sifatnya itu.
Novel ini diceritakan dari dua sudut pandang. Sudut pandang Aksa dan sudut pandang penulis. Ada keterangan penggunaan sudut pandang Aksa dalam novel ini sehingga tidak perlu khawatir bingung saat membacanya. Tetapi, ada hal yang membuatku kurang suka dengan keterangan sudut pandang yang dituliskan ini. Penulis cenderung berulang-ulang menuliskan “Aksa’s PoV” padahal di scene sebelumnya juga Aksa’s PoV. Kalau PoV-nya sama, kurasa tidak perlu mengulang-ulang keterangan tersebut. Rasanya kurang nyaman saja saat lagi serius-serius baca kisahnya, eh ada tulisan Aksa’s PoV. Penulisan Aksa’s PoV-nya yang diletakkan saat perpindahannya saja sudah cukup.
Karena penulis juga menggunakan sudut pandang Aksa (yang menggunakan aku-an), maka gaya bahasa yang digunakan pun menyesuaikan dengan gaya bahasa Aksa. Bahasa yang digunakan tidak kaku sama sekali, justru terkesan santai. Bahkan seringkali penulis menuliskannya layaknya bahasa sehari-hari. Misalnya menggunakan “ni” daripada “ini”. Saya tidak masalah dengan bahasa santai (yang terkadang kelewat santai) ini, tapi jika dilihat dari sudut pandang “menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar”, sudut pandang Aksa ini perlu diperbaiki lagi sehingga lebih baku—bukan baku dalam artian yang kaku, namun baku namun tetap luwes.
Sebenarnya, konflik utama dalam novel ini adalah keterpurukan dalam diri Aksa. Perasaan menyerahnya. Aksa seolah-olah hilang arah dalam kehidupannya sehingga memilih untuk menjauhi sesuatu yang membuatnya senang, yaitu bermian biola. Ia mengorbankan kebahagiaannya dan masa depannya karena kesedihannya di masa lalu dan ketidakpercayaan dirinya. Sekali lagi, banyak yang mengalami hal seperti Aksa ini. Konflik ini adalah representasi dari banyak remaja yang bingung, takut, dan ragu dengan masa depannya.
Bersama konflik utama tersebut, hadirlah suatu konflik sampingan yaitu perasaan suka yang hadir dalam diri remaja 17 tahun—perasaan menggebu-gebunya dalam menyukai lawan jenis. Keputusan penulis untuk fokus pada perasaan Aksa sangat saya sukai karena dengan memfokuskan diri pada perasaan Aksa, penulis seolah menunjukkan bagaimana sih saat remaja jatuh cinta. Dan di sinilah penulis mencoba memberitahu pada pembaca bahwa menyukai orang tak perlu berlebihan, karena perasaan yang muncul sebagian besar hanyalah ‘suka’ belaka, bukan ‘cinta’ yang sarat makna.
Saya menyukai latar tempat yang digunakan dalam novel ini. Yogyakarta, Gejayan. Lagi-lagi saya mengacungi jempol riset tempat yang digunakan. Rasanya, penulis begitu dekat dengan kawasan Gejayan ini karena seingat saya, pada novel penulis yang berjudul Cermin Tak Pernah Berteriak, juga menggunakan setting Gejayan, Yogyakarta. Selain karena saya terpukau dengan risetnya, ada perasaan menggebu-gebu setiap saya membaca novel dengan setting Yogyakarta. Entahlah, seperti perasaan rindu pada kota itu. Jogja memang ngangenin.
Kalau ditanya bagian favorit... saya menyukai bagian saat Aksa melihat mamanya menumpahkan segala emosinya. Saya sangat menyukai momen Aksa dan Mama karena di saat itulah saya merasakan kedekatan mereka. Saat Aksa gerundel tentang kebiasaan Mamanya hingga saat Aksa membalas ucapan “I love you” mamanya dengan “I love you too, Ma.” Itu dalem banget maknanya.
Oh, ya, saya suka dengan endingnya karena ... ending-nya begitu realistis. Penulis berusaha mengajak pembaca tetap menjejak tanah. Dengan ending yang begitu adil ini, penulis berhasil membahagiakan pembaca tanpa memaksakan endingnya. Begitu natural dan menarik.
Immortal Beloved mengajarkan pada kita tentang bangkit dan berani untuk melangkah ke depan. Rasa takut yang dimiliki janganlah terus dipelihara karena rasa takut itu semu belaka. Ketakutan tersebut akan menghambat langkah kita. Jika ada suatu kenangan menyakitkan di masa lalu, move on-lah karena jika tidak move on, yang ada kita akan terjebak dalam kenangan pahit tersebut dan lagi-lagi masa depanlah yang harus dikorbankan.  
Secara keseluruhan, Immortal Beloved menyuguhkan kisah yang sarat makna. Bukan hanya cinta-cintaan belaka, melainkan juga tentang kasih sayang keluarga, kepercayaan diri, dan harapan-harapan. Recommended!
3.5 of 5 stars untuk Immortal Beloved!

Satu-satunya cara agar aku bisa terbebas dari trauma adalah dengan berani menghadapi ketakutan-ketakutan ‘imaginer’ yang seolah muncul di hadapan. Aku harus berlatih membedakan realita sekarang dan masa lalu. Penting untuk selalu mengingatkan diri sendiri bahwa aku aman dan baik-baik saja saat ini. –Hlm 128



XO,
PutriPramaa


0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon