DUBLIN by Yuli Pritania | Book Review


Judul : DUBLIN
Penulis : Yuli Pritania
Penerbit : Grasindo
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 9786023756520
Jumlah Hlm : 232 hlm
*

Mia salah akan satu hal: Dublin tidak seindah yang dia bayangkan.
Dia berharap melihat pegunungan, padang rumput, tebing, kastel, dan jalanan yang dipagari dinding batu seperti yang muncul dalam film-film favoritnya. Yang dia dapatkan adalah gedung-gedung tua berwarna seragam dengan tampilan membosankan, pusat kota yang penuh turis, dan suhu musim semi yang membuat beku.
Lalu dia bertemu Ragga, lelaki dari masa lalunya, yang menunjukkan pada Mia sisi lain dari Dublin, menguak harta karun yang tersembunyi di balik bangunan-bangunannya yang tidak menarik. Dari Sungai Liffey, mereka menjelajahi museum-museum, berbagi sejarah tentang puluhan patung, mengunjungi taman-taman dengan rumpun bunga yang belum mekar, bergabung dengan keriuhan Temple Bar, melewati ratusan pub yang tersebar di seluruh bagian kota, mendaki salah satu tebing Inishmore di Aran Islands demi mengabadikan matahari terbit, hingga menyaksikan matahari tenggelam di Phoenix Park.
Saat kunjungannya menuju akhir, Mia merasa dirinya enggan kembali ke Indonesia. Ke rutinitasnya, skenario filmnya yang tak kunjung usai, dan tunangan yang menunggunya pulang. Sampai dia teringat, bahwa sedari awal, Ragga tidak pernah menjadi pilihan yang dia rencanakan untuk masa depan.

*


“Tapi seharusnya aku ingat, keinginan kita biasanya tidak akan terwujud saat kita benar-benar mengharapkannya. Malah, biasanya, hal sebaliknyalah yang akan terjadi.” Hlm. 31

Saat Mia berusaha membangun masa depannya bersama orang lain, Mia dihadapkan pada sebuah skenario sekaligus satu hari beraninya yang menentukan masa depannya . Sebagai seseorang introvert, Mia tidak terlalu menyukai berinteraksi  dengan orang lain dan sesuatu yang menurutnya asing, serta tidak menyukai melakukan sesuatu tanpa adanya persiapan sebelumnya. Dan di satu hari berani itu, Mia harus melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya dan itu sama dengan Mia harus melakukan sesuatu yang tidak biasa ia lakukan.
Deadline skenario yang harus Mia but semakin dekat, sementara dia sama sekali belum memiliki ide tentang skenarionya. Lalu, tercetuslah ide gila dari adiknya yang memang menjadi provokator dalam hidup Mia. Alana mengusulkan agar Mia pergi ke Dublin saja supaya bisa mendapat ide untuk skenarionya nanti sekaligus untuk menuntaskan hari beraninya tahun ini. Mia setuju dengan itu meskipun pada awalnya dia tidak yakin. Bahkan tunangannya, Aditya, berniat menemani Mia karena tahu bahwa Mia jarang pergi sendirian. Akan tetapi,  pada akhirnya Mia berangkat ke Dublin sendirian.
Mia tahu bahwa Dublin adalah tempat lelaki bernama Ragga itu tinggal. Lelaki di masa lalunya yang tak kunjung bisa menghilang dari benaknya. Dan benar saja, takdir membuat Ragga dan Mia bertemu di Dublin. Dengan sabar, Ragga menemani Mia selama di Dublin—menjadi guide bagi gadis itu.
Saat kunjungannya hampir berakhir, ada perasaan tak rela untuk kembali ke Indonesia. Ada yang menahannya untuk tetap berada di kota yang menurut Mia tak sesuai ekspektasinya itu. Ada perasaan ragu yang begitu besar hinggap di hati dan otaknya. Skenario yang belum selesai dan tunangannya yang menunggu menghantuinya. Lantas, bagaimana keputusan Mia? Akankah dia mengalah pada perasaan ragu itu? Atau bersikeras dengan apa yang telah ia rencanakan sebelumnya?
“Setiap manusia terlahir dengan emosi yang lengkap. Sebagian besar orang memperlihatkan semuanya, sebagian yang lain memilih menahannya. Ada orang-orang yang terobsesi ingin disukai semua orang, ada orang-orang yang bahkan nggak peduli apa yang orang lain pikirkan tentang mereka. Orang-orang seperti ini biasanya memiliki sedikit sekali orang yang mereka anggap berharga. Dan kepada orang-orang inilah mereka ingin menunjukkan diri mreka yang sebenarnya. Kepada orang-orang yang mereka sukai dan mereka ingin agar balik menyukai mereka.” Hlm. 74
“Pihak yang ditinggalkan selalu lebih menderita, Ragga.” Hlm. 127
Novel yang sangat indah, dan ... sangat dekat dengan saya. Memang bukan kali pertama membaca novel karangan Yuli Pritania, tapi di sini saya seperti melihat banyak perubahan dalam tulisannya. Jika biasanya Yuli Pritania terkenal dengan novel-novel Korea-nya, maka di Dublin ini, Yuli Pritani menjelma menjadi seorang penulis novel lokal (maksudnya di sini adalah novel yang tokoh-tokohnya orang Indonesia). Sebenarnya, penulis sudah pernah menulis karya dengan tokoh-tokoh Indonesia, yaitu CallaSun, tapi di Dublin ini rasanya lebih “Indonesia” dibandingkan CallaSun.
Sebagai pembaca yang hampir membaca semua karya penulis, saya merasakan banyak perbedaan antara novel-novel Yuli Pritania sebelumnya dengan novel ini. Di novel ini, Yuli Pritania menggunakan bahasa gaul meskipun nggak sampai level lo-gue. Tapi, inilah yang menarik. Tulisannya menjadi lebih segar dan sangat polos.


Dari blurbnya kita menyadari bahwa Dublin ini berkisah tentang seorang yang harus menemui seseorang dari masa lalu lagi setelah sekian lama tak bertemu. Sudah banyak tema seperti ini, tokoh-tokoh gagal move on (okelah, begitulah memang penggambaran seorang Mia dari blurb-nya) itu sangat banyak, tetapi di sini ada yang berbeda. Yuli Pritani menciptakan tokoh-tokoh fiksi yang sangat menarik. Dimulai dari Mia yang merupakan seorang introvert yang suka membaca buku dan menoton film. Ya, karena itulah saya merasa novel ini sangat dekat dengan saya. Mia adalah seorang yang terencana, tidak bisa melSayakan segala hal dengan spontan. Lalu, ada Ragga yang merupakan pria berhobi nonton dan membaca buku (pria yang jarang banget kutemukan di sekitarku, fyi). Kedua tokoh tersebut dipertemukan di masa remaja yang menyenangkan dan manis. Selain itu adapula Alana dan Aditya yang mengiringi kisah Ragga dan Mia ini. Saya suka dengan kehadiran dua tokoh pendukung ini, tetapi porsi kehadiran Aditya serasa kurang. Mungkin jika dieksplor lebih jauh, kita akan diberi lebih kelegaan dan helaan napas yang diikuti ucapan, “Oalah gitu....” Ada yang masih menjadi dugaan-dugaan saja di benakku tentang beberapa tokoh di novel ini.
Saya sungguh menyukai momen-momen manis yang penulis hadirkan untuk membangun kisah Ragga dan Mia ini. Setiap scene dalam buku ini terasa pas dan tidak berlebihan, jadi saat membacanya aku merasa bahwa novel ini adalah novel yang epic alurnya. Penulis tidak terburu-buru membawa kisah Ragga dan Mia. Okelah, mungkin aku sedikit tidak rela ketika harus berpisah dengan flashback dari kisah Ragga dan Mia ini, tapi ini semata-mata karena aku mencandui buku ini. Aku sangat menyukai buku ini.
Dengan judul nama sebuah kota, tentu novel ini menjanjikan nuansa kota tersebut dalam kisahnya. Latar Dublin yang penulis ceritakan dalam buku ini tampak menarik karena aku sama sekali tidak tahu tentang bagaimana kota Dublin itu. Bahkan aku baru tahu ada bahasa Irlandia di bumi ini. Maafkan aku.... Karena novel ini saya jadi tertarik dengan bahasa Irlandia yang sangat unik itu. Sementara itu, penjelasan yang penulis berikan tentang Dublin ini terlalu berlebihan dan terkesan terlalu tahu dan terkesan tidak manusiawi dengan kemampuan mengingat para tokohnya yang brilian. Mungkin jika penulis menyisipkan karakter Ragga yang lebih sederhana, maka aku yakin bahwa Ragga akan menjadi salah satu pria dalam novel yang pacar-able.
Dalam Dublin, dapat kutemukan banyak nasihat yang diberikan dari setiap tokohnya serta nasihat dari penulis bagi pembacanya. Sepertinya adalah sebagai berikut:
 “Yang mengerikan dari jarak adalah fakta bahwa saya nggak bakal pernah tahu apakah kamu rindu sama saya ... atau malah sudah lupa.” Hlm. 181
“Dia bisa mendapatkan apa saja, siapa pun yang dia inginkan. Tapi yang dirindukannya adalah seseorang yang hanya bisa dia miliki dalam mimpi. Manusa emang gitu, ‘kan? Semakin sulit mendapatkan, semakin bersikeras kita menginginkan.” Hlm. 168
Kehadiran quotes-quotes tersebut membuatku kian tertarik dengan bagaimana kelanjutan dari kisah Ragga dan Mia ini. Yah, meskipun Saya bacanya dikit-dikit karena sama sekali tidak rela buat. Dublin adalah salah satu novel romance terbaik yang kubaca tahun ini.
Kisah antara Ragga dan Mia mungkin memang klise bagi sebagian dari kalian nantinya. Tapi, sorot utama dalam kisah ini adalah tentang pemaknaan rasa cinta kita yang sebenarnya sehingga menurutku, ending yang dituliskan oleh Yuli Pritania di sini sangat memuaskan pembaca. Saya menyukai endingnya serta keterpautan orang-orang di novel ini.
Dalam penulisannya, penulis menggunakan bahasa yang terkesan lugas, penuh deskripsi panjang dan potongan-potongan kalimat manis dari kedua tokohnya. Saya hampir tidak menemukan kesalahan ketik, kecuali medengar (Hlm. 144) seharusnya mendengar.
Dublin mengajarkan pada kita tentang ‘mengambil keputusan’ sekaligus melawan perasaan ragu. Saya menangkapnya, jangan pernah mengorban masa depan hanya untuk sesuatu yang kebahagiaannya serasa semua bagi kita. Keputusan yang diambil haruslah tulus dari hati sehingga perasaan menyesal tak akan datang secara berlebihan.
Secara keseluruhan, Dublin menyuguhkan kisah cinta yang manis tentang cinta lama bersemi kembali. Awesome dan sama sekali nggak nyia-nyiain waktu untuk baca novel ini!
4 of 5 stars untuk Ragga dan Mia!

“Orang-orang yang mencintai dirinya terlebih dahulu, Alana, adalah orang yang tahu gimana cara mencintai orang lain dengan benar.” Hlm 203


XO,
PutriPramaa


2 komentar:

  1. astagaaa kak yuli:v reviewnya sukses bikin aku kangen baca tulisan kak yuli:D
    sip, anak kak yuli yg masuk wishlist selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku ini bagus banget. Bikin banyak kupu-kupu di perut. >_<

      Hapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon