The Architecture of Love by Ika Natassa | Book Review



 
 
Judul : The Architecture of Love
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Juni, 2016
ISBN : 978-602-03-2926-0
Jumlah Hlm : 304 hlm
*

“Kita selalu tahu kapan yang pertama, tapi kita tidak pernah tahu kapan yang terakhir untuk semua hal dalam hidup ini, sampai kita sendiri mengembuskan napas terakhir.” Hal. 97

Raia, si penulis best-seller, melarikan diri ke New York dengan harapan ia bisa menulis lagi. Setelah cobaan menimpa keluarganya, Raia tidak bisa menulis satu kalimat pun karena kehilangan muse-nya. Suatu ketika Erin—sahabat Raia—mengajak Raia untuk menghadiri pesta perayaan tahun baru di rumah salah satu temannya. Dan di sanalah dia bertemu dengan River—pria yang juga melarikan diri ke New York.
Ternyata, Raia dan River bertemu kembali di Wollan Skating Rink. Keduanya memang sama-sama melarikan diri ke New York dengan membawa harapan. Keduanya sama-sama berharap dapat melanjutkan kehidupannya dengan normal kembali. Karena kemiripan tersebut, mereka pun menjadi dekat. Hampir setiap hari mereka menelusuri kota New York bersama untuk mengisi waktu luang dengan Raia mencari kalimat pertamanya sedangkan River menggambar arsitektur kota New York.
Bagi River, bersama Raia dapat membuatnya bangkit kembali dengan hati yang tak lagi remuk redam. Dan bagi Raia, bersama River dapat membuatnya merasakan New York yang berbeda dari yang sebelumnya ia tahu.
Dan bersama-sama, mereka berharap agar tak lagi dihantui oleh bayangan masa lalu yang kelam.

“Mungkin ini satu lagi kutukan perempuan. Tetap melakukan sesuatu yang dia tahu dan sadar akan berujung menyakiti, hanya karena itulah yang diinginkan seseorang yang disayanginya.” Hal. 171

Membaca buku ini bagaikan membaca curahan hati seorang penulis best-seller yang sedang mendapatkan cobaan. Penulis berhasil menyampaian desakan emosi pada diri Raia—sang penulis best-seller—di kota pelariannya, New York. Dengan nyaman, penulis menceritakan tentang bagaimana usaha Raia untuk bangkit dari keterpurukannya. Meskipun penulis cenderung memberikan narasi panjang di setiap bab, penulis berhasil menyampaikannya tanpa membuat bosan dan terasa mengalir.
The Architecture of Love diklaim sebagai novel pertama di dunia yang menggunakan #PollStory. Ya, novel ini memang bermula dari #PollStory yang merupakan bentuk kerjasama penulis dengan pihak Twitter Indonesia. Hal yang sungguh menarik karena The Architecure of Love melibatkan pembaca untuk menentukan bagaimana kelanjutan ceritanya. Ribuan interaksi hadir untuk menentukan bagaimana kelanjutan kisahnya sehingga sebagian besar pembaca yang mengikuti #PollStory tidak merasa kecewa dengan buku ini.
Seperti judulnya, novel ini memiliki konten arsitektur. Penulis dengan riset yang memukau berhasil memesona pembacanya akan keindahan New York lewat novel ini. Kehadiran tokoh sentral pria yang merupakan seorang arsitek membuatnya kian menarik untuk memerhatikan setiap sudut kota New York.
Novel ini mengajarkan pembacanya untuk segera bangkit dari keterpurukannya. Memang bukan perkara mudah, namun dengan bangkit dari keterpurukan kita bisa melanjutkan kehidupan dengan lebih tenang. Yang perlu dilakukan saat dilanda musibah adalah sabar dan bangkitlah sesegera mungkin. Yakinlah bahwa anugerah Tuhan yang lain sedang menanti di masa depan.

“Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan tidak ada yang bisa melawan takdir.” Hal. 270



*) Dimuat di Radar Sampit edisi 16 Oktober 2016

1 komentar:

  1. Waaaahh kereeeen Put masuk koran :D
    Ini salah satu wishlistku yang belum kesampaian hiks

    BalasHapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon