Mermaid Fountain by Dyah Rinni | Book Review



 

Judul : Mermaid Fountain
Penulis : Dyah Rinni
Penerbit : Writerpreneur Club
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 9789790561557
Jumlah Hlm : 224 hlm
*

Mairin Malya, seorang chef. Ia memperjuangkan segalanya demi mimpi membangun restoran seafood. Hingga suatu ketika, tragedi datang dan meremukkan semua harapannya.
Laguna Senna, seorang penyanyi bersuara emas. Seumur hidup ia berjuang unutk ketenaran dan kekayaan. Hingga suatu hari, dunianya yang rapuh terancam runtuh.
Mereka bertemu di depan air mancur Putri Duyung. Bersama-sama mereka melemparkan koin. Bersama-sama, mereka berharap agar impian mereka tercapai.
Dan kemudian keajaiban terjadi. Tapi, tidak dengan cara yang mereka inginkan. Takdir memutarbalikkan dunia keduanya, membawa mereka ke arah yang tak terduga: musuh, masalah dan juga, cinta.
Akankah pada akhirnya mereka menemukan kebahagiaan yang mereka cari? Ataukah mereka akan hancur menjadi buih seperti dongeng sang Putri Duyung?

*


Bagaimana rasanya kalau kamu kehilangan hal yang paling penting dan kalau kamu mengungkapkan itu pada dunia, maka duniamu juga akan ikut runtuh?

Mairin Malya—chef sekaligus pemilik restoran Putri Duyung—ditimpa masalah yang paling membunuh karirnya sendiri. Mairin tak bisa lagi mencium aroma maupun mencecap rasa setelah kepalanya dihantam dengan batu. Sebelum dia mendapat kemalangan itu, kemalangan yang lain terlebih dahulu datang. Restorannya tidak mengalami perkembangan yang berarti untuk melawan lawannya—Fishteria. Bahkan, karena permasalahan restoran itu, satu-satunya juru masak andalan Putri Duyung memutuskan berhenti baik-baik.
Sedangkan Laguna Senna adalah seorang penyanyi dengan suara bariton yang sangat indah. Selain suara baritonnya itu, dia juga merupakan sosok yang gagah nan tampan sehingga tak perlu kaget jika dia adalah sosok idaman semua wanita di seluruh dunia.
Suatu ketika, demi sebuah lagu duet yang disiapkan oleh Amelinda, Laguna harus merayu Vivian—mantan pacarnya—agar menjadikannya pasangan duet, alih-alih Jay Jevlin yang merupakan penyanyi baru. Meskipun dia begitu hebat di atas panggung, tetap saja dia harus merayu Vivian dengan menuruti permintaan gadis itu untuk makan bersama dengan menu seafood yang Laguna yakin Vivian tahu bahwa dia membencinya. Selain memberi persyaratan seafood, Vivian juga meminta didatangkan chef favoritnya. Chef favorit Vivian adalah Mairin Malya.  
Dari situlah, kehidupan Mairin bersinggungan dengan kehidupan Laguna. Mairin menganggap kesempatan itu untuk memperkenalkan restoran Putri Duyungnya, maka tanpa ragu Mairin menerima tawaran itu meskipun dia tahu bahwa hidung dan lidahnya tidak mampu merasakan apa pun.
Pertemuan pertama Mairin dan Laguna tidak bisa dibilang baik, namun di pertemuan selanjutnya Mairin justru menemukan Laguna tak semenyebalkan Laguna di hari pertama dia bertemu. Mereka berdua akhirnya mencoba kepercayaan yang telah lama berkembang tentang air mancur Putri Duyung. Bersama-sama mereka melempar koin dan melemparkan harapan. Sayangnya, bukan harapan yang datang pada mereka, justru kesialan lah yang menghampiri mereka.

Kamu tahu apa itu cinta, Laguna? kata mamanya dulu. Itu adalah ketika kebahagiaan orang lain menjadi lebih penting daripada kebahagiaan kita.

 Re-telling little mermaid pertama yang kubaca. Dan aku merasa beruntung membaca re-telling Little Mermaid ini karena dulu ... banget aku sempat terobsesi dengan sad ending yang dimiliki oleh Little Mermaid ini. Dulu loh ya, sekarang mah lebih suka jika kisah yang kubaca berakhir gantung atau manis. :p
Aku sungguh salut dengan oenulis yang melakukan re-telling dari suatu dongeng. Kenapa? Karena telah ada ide dasar yang begitu mengakar di banyak otak orang, dan penulis yang bersangkutan harus membua sesuatu yang baru dari ide dasar tersebut. Menjadi tetap menarik, bahkan jauh lebih menarik dari dongeng semula. Dari Mermaid Fountain ini, aku sungguh salut dengan usaha Mbak Dyah Rinni membuat sesuatu yang baru dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

“... Kreatif adalah kata yang licin. Hari ini kamu mendapatkan inspirasi, besok belum tentu. Bukankah itu yang menakutkan? Bukankah terkadang lebih nyaman bergantung yang pasti-pasti saja seperti tampang dan suara emas?”

Jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya buku ini memiliki unsur fantasi. Yaitu mendadak hilangnya ingatan Laguna tentang Mairin maupun kutukan yang dihadirkan oleh Air Mancur Putri Duyung. Namun, aku justru menyukai hal-hal seperti ini sehingga novel ini terkesan seperti light novel.
Gaya bahasa yang penulis gunakan juga  mudah dimengerti dan mengalir—tidak membuat mengerutkan dahi. Pokoknya penulis telah berhasil membawa saya ke dunia Mairin Malya melalui ceritanya yang satu ini. Hal ini membuat saya berharap bisa membaca karya Kak Dyah Rinni yang lain. Sepertinya menarik.

“Hanya batu yang tidak bisa berubah, Prima.”

Novel ini terbit melalui jalur indie sehingga tidak usah kaget jika menemukan beberapa kata yang terlewat untuk diedit. Masih ada typo yang bertebaran di novel ini. Tapi aku lagi-lagi dibuat takjub dengan layout novel ini yang begitu indah. Dua jempol untuk Mermaid Fountain.
Mermaid Fountain mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah untuk menggapai sesuatu. Dengan keterbatasan yang kita miliki kita harus tetap berusaha dan berdoa—barangkali Tuhan memberikan mukjizat sehingga kita dapat menikmati anugerahnya lagi.

Tidakkah pemuda itu tahu, semakin dalam cinta seseorang pada kekasihnya, semakin besar kekuasaan yang dimiliki sang kekasih untuk melukai hatinya?

3,5 bintang untuk Malya! ^_^


XO,
PutriPramaa

2 komentar:

  1. spesial memang novel karangan dyah rinni, dari dulu aku sudah ngikutin novel2nya, salam kenal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jdi penasaran sm karya Dyah Rinni yang lain. Salam kenal juga.

      Hapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon