More Than Words by Stephanie Zen | Book Review



 
Judul : More Than Words
Penulis : Stephanie Zen
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
ISBN : 9786020313559
Jumlah Hlm : 224 hlm
*

Marvel Wongso punya segalanya. Muda, cerdas, anak orang kaya.
Rania Stella Handoyo kebalikan dari semua itu. Murid beasiswa, sederhana, berusaha bertahan hidup di Singapura dengan tiap lembar dolar yang dimilikinya.
Mereka menyimpan rasa untuk satu sama lain, namun tak berani mengungkapkannya. Ketika berhasil terucap pun, yang satu selalu menganggap yang lainnya tak bersungguh-sungguh.
Dikejar keterbatasan waktu, mampukah Marvel dan Rania memaknai cinta itu lebih dari sekadar kata-kata?

*


You don’t need to know whether it is worth it in the end, because it has been worth it from the beginning.


Marvel Wongso dan Rania Stella Handoyo adalah dua anak Indonesia yang menuntut ilmu di Singapura. Namun, keduanya berbeda. Marvel adalah putra seorang pengusaha kaya yang cerdas sehingga tak sulit baginya untuk melanjutkan studi di Singapura. Sementara itu, Rania adalah putri seorang yang biasa saja, sederhana, dan bertahan hidup di Singapura dengan beasiswa dan dolar-dolar kiriman yang harus ia irit. Di balik perbedaan itu, Rania dan Marvel memiliki beberapa kesamaan terutama pandangan mereka tentang menjalin hubungan. Pacaran bukanlah hal yang main-main bagi mereka. Pacaran adalah sesuatu serius yang mengarah pada pernikahan.
Tidak bisa ditampik bila keduanya memiliki rasa satu sama lain, namun tak berani mengungkapkannya. Rania bisa dibilang minder dengan perasaannya pada Marvel, terlebih Marvel adalah orang yang sangat kaya di Singapura. Keduanya adalah sosok pesimis sekaligus tidak mudah percaya dengan ungkapan perasaan yang muncul. Mereka menganggap bahwa itu hanyalah main-main, sama sekali tidak serius. Buktinya, saat Marvel menyatakan perasaannya, Rania marah besar. Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk memendam perasaannya.
Waktu tidak memihak mereka. Sebentar lagi ia harus pergi jauh untuk melanjutkan studinya. Namun, perasaan itu menggebu-gebu. Kalau bukan sekarang, kapan lagi mereka akan menunjukkan keseriusannya untuk menjalin suatu hubungan serius?

Sebuah hubungan akan berhasil jika kedua pihak menginginkannya dan work it out, kan?


Novel Stephanie Zen pertama yang saya baca. Mungkin saya telat banget untuk mengatakan bahwa tulisan Stephanie Zen benar-benar seru. Mengalir dan enak banget untuk dibaca! Sebagai novel pertama penulis yang saya baca, novel ini berhasil membuat saya sangat-sangat-sangat ingin membaca karya-karya Stephanie yang lain. Baca novel ini pun penuh dengan ketidaksengajaan, kedua kalinya tidak sengaja membaca Chrom karena kavernya yang keren. Saya menyukai kavernya dan kebetulan juga saya menyukai lagu More Than Words—yang bagi saya manis sekali—yang pernah dinyanyikan Westlife dulu, jadi saya membacanya karena alasan-alasan tak masuk akal itu. More Than Words ini adalah salah satu novel terbitan Gramedia Pustaka Utama di bawah label Chrom (Christian Romance).
Kisah Marvel dan Rania ini sesungguhnya sangat sederhana namun manis. Penulis berkubang dengan romansa antara kedua tokoh dengan balutan agama. Label Chrom-nya membuat saya tidak kaget apabila kedua tokohnya merupakan remaja yang hidup bersama perkumpulan remaja agama Kristen gereja, tapi kurang lebih seperti itu. Konflik utama yang sederhana itu dibawa ke arah agama atau setidaknya dibawa kembali ke Tuhan. Begitulah. Meskipun More Than Words tergolong Chrom, namun konten agama dalam novel ini masih dapat dipahami oleh penganut agama lain dan amanatnya dapat dirasakan siapa saja tanpa ada pembatasan agama karena ... nasihatnya ya bersifat universal menurut saya. Berikut ini cuplikan ya:

 “The only way we could and should measure our worth ia by the Word of God. What does the Word of God say about you? You are worth far above rubies. So, please behave likewise, Rania.”


All of us are equal in God’s eyes; for it is being grace that we have been saved, not because of who we are, what we’ve done, or the wealth that we posses.


Lagi pula, Ran... when you spend time worrying, you’re simply using you imagination to create things you don’t want. Choose faith over worry.”


Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.


Diceritakan dari dua sudut pandang, Rania dan Marvel. Jadi, penulis mengeksplor habis-habisan perasaan setiap tokoh. Rania yang gelisah dengan posisinya yang dirasakannya tidak pantas untuk berada di samping Marvel. Marvel yang dipandang remeh karena suatu hal yang biasanya dilakukan oleh lelaki yang jauh dari pasangan dan hal lain yang menyangkut keseriusan berhubungan. Meskipun hanya menelaah sesuatu yang sudah jelas sejak awal-awal, novel ini memiliki ketertarikan sendiri bagi saya. Novel ini dipenuhi dengan quotes-quotes menarik.
Secara keseluruhan, novel ini sungguh menarik untuk dibaca. Kalau pengen baca novel dengan konflik ringan namun memiliki amanat yang dalam, silakan baca novel ini!

To love is to commit. Dan jika kamu sudah menemukan seseorang yang dengannya kamu tahu bisa berkomitmen, bahwa perasaanmu terhadapnya melebihi ketertarikan fisik ataupun emosional, berdoalah untuknya. Bersungguh-sungguhlah terhadapnya. Yang paling penting, tunjukkan kesungguhanmu kepadanya.


Jadi, More Than Words mendapat 3.5 stars~! ^_^

XO,
PutriPramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon