A (wo)man's Scent by Yuli Pritania | Book Review





Judul : A (wo)man’s Scent
Penulis : Yuli Pritania
Penerbit : Grasindo
Edisi : Cetakan kedua, Maret 2016
ISBN : 978-602-251-857-0
Jumlah Hlm : 194 hlm
*

Lee Yeol
Jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Song Joon bukan karena ketampanannya, tapi karena pria itu memiliki—menurut indra penciumannya yang super sensitif—aroma tubuh paling lezat di dunia. Saat itulah dia memulai.
Tapi yang menyulitkan bukanlah saat menghadapi Joon yang sering membuatnya salah paham, juga bukan tentang kemunculan Hye-Ji, adik Joon, si pengidap brother complex yang terang-terangan membencinya sejak awal, tapi kemungkinan besar bahwa pria itu adalah seorang penyuka sesama jenis alias GAY!
Song Joon
Menganggap dirinya sebagai seorang pengamat yang detail. Dia tertarik saat mengetahui bahwa Lee Yeol, pegawai baru di kafenya, memiliki dua kepribadian bertolak belakang yang bergantung pada ada atau tidaknya sinar matahari.
Bagi dirinya yang belum pernah menyukai wanita, hal paling masuk akal yang seharusnya dia lakukan adalah kabur. Tapi sebaliknya, dia malah memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak malam lagi bersama gadis itu.

*


“Demi aroma tersebut, dia bersedia mengikuti pria itu ke mana pun. Ke mana saja.” Hlm. 4

Berkisah tentang Lee Yeol yang memutuskan untuk tinggal di Seoul bersama kakaknya, Lee Seol. Dalam perjalanannya menuju Caffest—tempat bekerja Lee Seol, Lee Yeol bertemu dengan seorang pria yang memiliki harum yang memikat indera penciumannya yang super sensitif itu. Pada saat itu juga, Lee Yeol mengikuti pria itu tanpa peduli seberapa banyak yang ia tabrak hanya karena aroma itu.
Tak disangka-sangka langkah kakinya yang mengikuti aroma pria tadi membawa Lee Yeol ke tempat yang ditujunya, Caffest. Ternyata, pria pemilik aroma yang membuat Lee Yeol lapar itu adalah pemilik Caffest sekaligus barista di kafe tersebut. Semula Lee Yeol hanya berjanji untuk bertemu kakaknya di cafe tersebut, akan tetapi berkat suatu kekacauan ada sebuah celah kecil bagi Lee Yeol untuk tetap berada di dekat pria beraroma memikat bernama Song Joon. Lee Yeol melamar pekerjaan sebagai pelayan di kafe tersebut!
Bertatap muka dengan Song Joon saat sesi wawancara memberikan efek tersendiri bagi Lee Yeol. Sejak bertatap muka itulah Lee Yeol akan memastikan bahwa itu bukanlah terakhir kalinya bagi mereka.
Pertemuan demi pertemuan Lee Yeol dan Song Joon alami. Mereka berdua tinggal di kamar yang bersebelahan dan seringkali bertemu saat malam hari di kafe. Lee Yeol yang sedang menikmati me time-nya dan Song Joon yang menggunakan waktu malamnya untuk mencari resep baru. Saat malam, Lee Yeol yang ceplas-ceplos selalu berubah menjadi sosok yang lebih tenang tidak heran bila akhirnya Song Joon dan Lee Yeol saling berbagi cerita bersama.
Lee Yeol jelas-jelas sudah jatuh hati pada Song Joon mendapat info bahwa Song Joon tak seperti kelihatannya. Katanya ... pria itu adalah gay! Banyak saksi yang mengatakan bahwa pria itu berciuman dengan seorang pria di dapur. Selain info gay tersebut, adik Song Joon jelas-jelas memperlihatkan ketidaksukaannya pada Lee Yeol. Hye Ji melakukan konfrontasi habis-habisan pada Lee Yeol. Lantas, apakah info bahwa Song Joon gay itu benar? Akankah Lee Yeol berhasil mendapatkan cinta pada pandangan pertamanya tersebut?

“Tapi bukankah lebih berat kehilangan orang yang kau sayangi daripada orang yang tidak kau ingat sama sekali?” Hlm. 63

Karya Yuli Pritania yang entah ke berapa saya baca. Saya tidak menghitungnya, tapi sejauh ini saya menikmati karya-karya penulis dari Padang ini. Saat kaver novel ini rilis dengan label seri Bloodtype, saya antusias sekali. Sayangnya, saya tidak membelinya. Karena ya... saya tidak pernah membeli buku online kecuali lagi berduit sekali, berhubungan satu hari setelah dirilis tidak ada di Togamas kota saya, saya menyerah dengan novel ini. Akan tetapi, saat novel ini ditambahi label Best Seller dan penulisnya mengadakan kuis di facebook, saya dengan sukarela ikutan. Beruntunglah saya menjadi salah satu yang mendapatkan langsung dari penulisnya. For your information, ini pertama kalinya saya memiliki novel Yuli Pritania dengan bubuhan tanda tangannya menggunakan spidol hitam. Saya beruntung sekali. Seperti yang saya pernah saya ceritakan di sini, saya memfavoritkan Yuli Pritania.
Oke, seperti biasa, Yuli Pritania dengan pandainya meramu kata-kata di novel ini menjadi manis. Kisahnya manis bersama gaya penceritaannya yang juga manis.
Baiklah, mari membahas tokoh-tokohnya. Di novel ini kita akan berkenalan dengan Lee Yeol yang menggemaskan (setidaknya bagi saya), polos, dan unik dengan kemampuan indera penciumannya itu. Lalu, ada Song Joon yang manis (lagi-lagi ini menurut saya), keras kepala, dan cuek. Keduanya merupakan tokoh utama pada novel ini. Ada juga tokoh-tokoh lain yang mendukung seperti Lee Seol, Hye Ji, dan lain-lainnya. Sayangnya, pada novel ini saya merasakan Yuli Pritania menggunakan formula yang kurang lebih sama dengan CallaSun (maupun sebagian besar novelnya yang lain); pria dingin dengan perempuan agresif. Saya tidak terlalu mempermasalahkannya karena novel ini benar-benar menghibur, akan tetapi kalau terlalu sering memiliki karakter tokoh yang hampir sama ya ... kurang seru saja. Ini kembali ke keputusan penulis lagi, sih. Toh di luar sana sebenarnya banyak penulis yang menggunakan formula masing-masing, tetapi kalau ada yang ‘baru’ akan lebih seru, kan?
Kisah ini menarik meskipun Yuli Pritania kembali ke ciri khasnya yaitu kisah yang less-conflict. Iya, di A (wo)man’s Scent ini tidak terlalu banyak konfliknya, hanya perkara usaha Lee Yeol untuk mendapatkan Song Joon. Tidak ada yang namanya orang ketiga, jadi novel ini benar-benar ringan dan cocok sekali kalau dibaca untuk meningkatkan mood atau sekadar menghibur diri.
Setting tempat pada novel ini tidak terlalu dijelaskan, hanya di Myeongdong, Jung-gu, Seoul, utamanya di kafe imajiner bernama Caffest. Saya benar-benar tertarik dengan kafe imajiner, apalagi penjelasannya tampak sangat menyenangkan. Furniturnya dari kayu dengan dinding-dinding tertutupi rak buku dengan bermacam-macam buku. Segar sekali, kan? Saya tidak mempermasalahkan Seoul yang tak terlalu dieksplorasi, toh ini bukan buku panduan wisata ke Seoul. Jadi, bagi saya tidak masalah.
Di atas sudah saya singgung bahwa novel ini merupakan novel seri Bloodtype yang diterbitkan oleh Grasindo. Sebagai seri blood type, novel ini menghadirkan nuansa golongan darah di dalamnya. Di bawah kavernya saja dicantumkan bahwa novel ini berkisah tentang Mr A vs Miss AB. Jadi, di setiap pembuka bab, terdapat penjelasan tentang perempuan bergolongan darah AB dan pria bergolongan darah A. Yaah, saya kurang percaya hal itu, tapi kalau untuk seru-seruan, saya sih oke aja. Menurut saya kurang logis saja kalau perasaan dapat dikategorikan menjadi empat jenis saja, pendapat saya ini sama dengan pendapat Lee Seol.

“Dan kalau aku boleh tahu, golongan darahnya apa? A ya?”
Seol  dengan gemas memukul kepala adiknya itu. “Berhentilah menebak-nebak sifat orang dari golongan darahnya! Itu sama sekali tidak masuk akal! Ada miliaran manusia di dunia dan hanya ada empat golongan darah. Logislah sedikit, Yeol!”

Meskipun di pembuka bab ada penjelasan tentang golongan darah, akan tetapi di ceritanya sendiri rasa 'golongan darah’nya belum terlalu terasa.
Oh ya, di novel ini terdapat beberapa kejanggalan dalam pengetikannya di antaranya:
“(...). Aku mengiyakan.” Hlm 143 seharusnya menjadi “(...). Aku mengiakan.” Saya cek di KBBI tanpa ‘y’.
“Dia hanya belum pria yang tepat saja.” pada halaman 53, seharusnya ditambahkan kata ‘bertemu’ menjadi “Dia hanya belum bertemu pria yang tepat saja.”
Lalu, kaver novel ini cantik sekali! Aku suka dengan ilustrasinya berikut warna yang soft-blue yang digunakan di kavernya. Bukan hanya ilustrasi perempuan di kaver saja yang manis, tapi ilustrasi pria sebagai pembatas bukunya juga menarik. Keren!
Secara keseluruhan novel ini benar-benar menarik untuk dibaca. Kita akan diajak lebih banyak tertawa karena tokoh-tokohnya yang menggemaskan dan lucu. Novel ini kurekomendasikan bagi kalian yang ingin membaca suatu novel dengan less-conflict untuk membangkitkan semangat!

“Wanita cantik hanya untuk dijadikan kekasih agar bisa dipamerkan. Pada akhirnya, mereka akan tetap mencari wanita baik-baik yang lebih sering menghabiskan waktu di dapur daripada di depan meja rias. Wanita cerdas yang memiliki pengetahuan luas tentang banyak hal, bukan sekadar tentang fashion terbaru dan tempat berbelanja barang bermerek dengan harga yang menguras dompet suami.” Hlm. 85

3.5 stars of 5 stars for A (wo)man’s Scent!

XOXO,
PutriPramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon