A Untuk Amanda by Annisa Ihsani | Book Review



 
Judul : A Untuk Amanda
Penulis : Annisa Ihsani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 9786020326313
Jumlah Hlm : 264 hlm
*
Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.
Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?
Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.
Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.

*


Tadinya kukira orang mengalami depresi ketika ada sesuatu yang salah dengan hidup mereka. Tapi bagiku, depresi datang ketika segala hal dalam hidupku berjalan dengan sempurna.


Amanda selalu mendapatkan nilai sempurna, selalu menjadi orang pertama yang mengangkat tangan ketika guru melempar pertanyaan. Akan tetapi, Amanda merasa memiliki suatu masalah. Dia merasa bahwa apa yang didapatkannya selama ini adalah keberuntungan belaka. Padahal, selama ini Amanda mengira bahwa hidupnya baik-baik saja; ibu yang sangat bangga padanya, sahabat sekaligus pacar yang juga menjadi tetangganya, berteman dengan anak-anak populer di sekolah, sekaligus bergabung dengan klub komputer yang katanya berisi anak nerd. Hidupnya sempurna sekali, kecuali untuk bagian bahwa ia tidak lagi memiliki ayah.
Kegelisahan Amanda bahwa apa yang ia dapatkan selama ini hanyalah keberuntungan belaka semakin menjadi-jadi. Saat di kelas Ekonomi, seorang guru menanyakan tentang organisasi bisnis. Seperti biasa, Amandalah yang mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi, guru tersebut meminta siswa lain yang menjawab. Di benak Amanda jawabannya adalah serikat dagang. Siswa yang ditunjuk untuk menjawab itu menjawab, “Uh... er... k-k-koperasi?” dan BENAR! Jawaban Amanda salah. Kepercayaan diri Amanda pecah berkeping-keping dan sejak saat itu, Amanda berhenti mengangkat tangan di kelas.
Amanda merasa beruntung lagi. Amanda takut topengnya terlepas. Ia takut teman-temannya menertawainya karena Amanda ‘Hermione’ ini salah.
Keberuntungan itu tidak didapat terus menerus, kan?
Amanda pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi psikiater karena kegelisahan tak kunjung usainya ini. Serangkaian psikoterapi ia jalani meskipun terlihat sedikit konyol baginya. Sekarang ... Amanda ‘hanyalah’ seorang gadis depresi yang mengonsumsi Zoloft untuk tetap tenang. Lantas, bagaimana kelanjutan kisah Amanda?

Karena ini kehidupan nyata, bukannya post tolol di Tumblr yang menyuruh semua orang menjadi diri sendiri tanpa harus memedulikan pikiran orang lain.


Bacaan yang sangat sangat sangat menarik!
Sebagai novel pertama Annisa Ihsani yang kubaca, novel ini benar-benar sukses besar. Ya, sukses besar membuatku penasaran akan novel sebelumnya Ihsani—Teka-Teki Terakhir dan sukses besar juga membuat seerti orang limbung selama kurang lebih dua hari. Setelah membaca novel ini, aku bingung. Bahkan saat menutup bukunya, aku cuma lihat ke depan sambil hembusin napas—tidak ada ekspresi sama sekali. Aku terdistorsi!
Aku tersedot ke dunia Amanda. Aku merasakan kegelisahannya sebagai seorang remaja yang merasa tidak beruntung lagi. I feel you, Amanda. Mungkin aku tidak sesempurna Amanda yang mendapatkan nilai sepurna 4,00 di rapor semester pertamanya, tapi aku merasakan hal yang sama tentang apa yang kudapatkan selama ini mungkin hanyalah keberuntungan belaka. Buku ini adalah representasi dari perasaan-perasaan sebagian besar anak-anak SMA yang ‘depresi’ dengan dunia pendidikannya. Jika Amanda sampai mengunjungi seorang psikiater dan mengonsumsi Zoloft, aku tidak sampai separah itu, aku berusaha mengisi hari-hariku dengan membaca dan menemukan kawan-kawan yang memiliki hobi yang sama denganku untuk menutupi perasaan gelisah akan dunia akademik.
Mungkin karena perasaan sama tersebut, A Untuk Amanda membuatku tercengang dan hangover selama beberapa hari, ya?
Ada bagian yang paling kusuka di novel ini. Bagian itu adalah saat Amanda menuliskan email untuk Tommy. Kuberi cuplikannya, ya.

KENAPA SAAT TANGANKU SAKIT, KAU MEMPERLAKUKAN GIPSKU SEOLAH ITU BENDA PALING KEREN SEDUNIA, TAPI SAAT OTAKKU SAKIT KAU KABUR DARIKU? KENAPA WAKTU ITU KAU MENEMANIKU TAPI SAAT AKU TERTEKAN KAU BAHKAN TIDAK MAU MENDENGARKANKU?


Aku hampir menangis saat membaca bagian itu. [Iya, masih hampir karena aku hampir nggak pernah baca novel sampai nangis, hehehe] Aku merasakan bagaimana Amanda membutuhkan seorang teman di saat-saat seperti itu. Saat membacanya pun, aku sama gelisahnya dengan Amanda dan sama ‘depresi’nya dengan Amanda.
Sudah banyak beredar review-review yang mengatakan bahwa A Untuk Amanda adalah novel cerdas. Aku setuju! Begitulah yang kurasakan ketika membaca A Untuk Amanda. Dengan gaya bahasa yang sedikit sarkas dan seperti terjemahan, kisah Amanda dan depresinya mengalir dengan mulus. Meskipun ada bahasan tentang ilmu-ilmu fisika maupun astronomi di novel ini, novel ini tetap mudah dipahami, kok.
Aku sering sekali mendengar bahwa Ihsani adalah John Green-nya Indonesia atau John Green versi cewek? Entahlah, yang jelas banyak yang mengatakan bahwa tulisan Ihsani ‘seperti’ John Green. Iya, aku merasakan aroma John Green di tulisannya. Setiap kalimatnya cerdas dengan sesekali sarkas. Aku menyukainya!
Oh ya, satu hal yang membuat A Untuk Amanda lebih menarik bagiku adalah keberadaan kota sub-urban yang menjadi setting tempat novel ini. Bukan soal sub-urbannya, melainkan soal dunia khayalan yang dibangun penulis. Di novel ini, terdapat Universitas Omar Nawaz, Institut George Gamow, dll. Aspek ini membuat novel ini lagi-lagi berbeda dari Young Adult lain.
A Untuk Amanda adalah novel yang realistis dengan bahasan mental illness yang memukau.
Secara keseluruhan,  A Untuk Amanda adalah salah satu Young Adult terbaik Indonesia yang wajib kalian baca!

4.5 stars untuk A Untuk Amanda!


XOXO,
PutriPramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon