My Wedding Dress by Dy Lunaly | Book Review




Judul : My Wedding Dress
Penulis : Dy Lunaly
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 9786022911067
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Hlm : vi + 270 hlm
Penyunting : Starin Sani
Perancang Sampul : Titin Apri Liastuti
Ilustrasi isi : Dy Lunaly
Pemeriksa Aksara : Fitriana STP & Septi Ws
Penata aksara : refresh.atelier
Harga : Rp. 59000
*
Apa yang lebih mengerikan selain ditinggalkan calon suamimu tepat ketika sudah akan naik altar? Abby pernah merasakannya. Dia paham betul sakitnya.
Abby memutuskan untuk berputar haluan hidup setelah itu. Berhenti bekerja, menutup diri, mengabaikan dunia yang seolah menertawakannya. Ia berusaha menyembuhkan luka. Namun, setahun yang terasa berabad-abad ternyata belum cukup untuk mengobatinya. Sakit itu masih ada, bahkan menguat lebih memilukan.
Lalu, Abby sampai pada keputusan gila. Travelling mengenakan gaun pengantin! Meski tanpa mempelai pria, ia berusaha menikmati tiap detik perjalanannya. Berharap gaun putih itu bisa menyerap semua kesedihannya yang belum tuntas. Mengembalikan hatinya, agar siap untuk menerima cinta yang baru.
*

“Aku menunggu. Berjam-jam. Hingga matahari sempurna menghilang.
Akan tetapi, percuma. Dia tak kunjung datang.
Kenapa kamu tega ngelakuin ini, Dre? Apa salahku?!” (Hlm. 11)
Abigail Kenan Larasati begitu bahagia saat hari itu akhirnya tiba. Akhirnya, dia akan menikah dengan kekasihnya, Andre, setelah empat bulan sebelumnya ia dibuat menangis terharu karena pria itu melamarnya bersama dengan miniatur Tokyo Tower dan cincin bermata zamrud. Sayangnya, mendadak hari yang seharusnya membahagiakan itu berubah menyedihkan setelah papa Abby mengatakan bahwa Andre tidak datang.
Andre tidak datang. Rasanya tidak mungkin sekali bagi Abby. Abby mencoba memastikannya sendiri, dia memasuki ruang pemberkatan sambil berharap bahwa apa yang terjadi padanya hari itu akal-akalan Andre semata. Namun, Papa benar. Tidak ada Andre di sana, yang ada hanyalah pandangan penuh sedih dan kasihan orang-orang pada Abby. Sejak itu, Abby memiliki gelar sebagai pengantin yang ditinggalkan di altar.
Satu tahun berlalu, tetapi tidak ada perubahan berarti. Setelah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan membuka bisnis online sendiri, Abby kian sering mengurung diri di rumah. Ia tak suka dengan pandangan kasihan yang dilempar oleh orang-orang padanya, ia butuh waktu sendiri dan melihat ke dalam dirinya—setidaknya begitu menurut Abby. Satu tahun berlalu, tetapi rasa luka itu masih ada.
“Tapi, kalau mau jujur, bukankah sebenarnya kita semua merupakan kumpulan masokhis, disadari atau tidak? Terlalu sering kita sengaja membuka kenangan menyakitkan atau menyedihkan dan menyesapnya kembali. Membuka luka yang belum benar-benar mengering. Luka yang tidak akan pernah kita biarkan mengering karena kita mencandu rasa sakit itu.” (hlm. 17)
Abby masih sering mengingat kenangan-kenangannya bersama Andre, bertanya-tanya pada dirinya apakah yang telah ia lakukan hingga Andre meninggalkannya seperti itu, dan menerka-nerka kabar Andre. Rutinitas yang sebenarnya menyiksa dirinya sendiri.
“One bad day is just that; one bad day. Jangan sampai satu hari buruk merusak kebahagiaan yang sedang mengantre untuk menghampiri kehidupan kita. So, smile and don’t ever stop." (Hlm. 18)
Sepotong tulisan Quirky Traveler—seorang penulis buku travelling—berhasil menampar Abby. Membuat Abby buru-buru bangkit untuk masuk ke kamarnya, memantapkan niatnya untuk memusnahkan semua barang kenangannya bersama Andre. Ketika tiba di bagian lemari, Abby menemukan gaun pengantinnya yang membuat mulutnya mendadak pahit. Dia hampir saja menggunting gaun simpel nan manis itu, namun urung karena kenangan tentang Andre menyerbu. Abby masih tak bisa keluar dari kesedihan yang mengungkungnya.
Abby mengutarakan keinginannya untuk travelling pada Gigi—adiknya. Dan, siapa sangka jika akhirnya Abby dibawa untuk memperpanjang paspor esoknya. Abby hanya bisa menurut dan memutuskan untuk travelling. Mungkin travelling ke Penang bukan ide buruk? Kali ini sendirian dan dinikmatinya sambil mengenakan gaun pengantin—yang Abby harapkan mampu untuk berubah menjadi hitam setelah menyerap kesedihannya. Beruntungnya, gaun pengantin yang Abby gunakan bukanlah jenis gaun yang menyusahkan. Gaunnya sederhana dan kesannya santai sehingga tidak masalah untuk digunakan sembari travelling.
“Bandara tempat semua hal yang saling bertolak belakang berkumpul dan terlihat wajar. Perpisahan dan pertemuan, akhir dan awal sebuah kisah, suara tawa dan isak tangis, masa lalu yang ingin dilupakan dan masa depan yang masih misteri. Semua menyatu dan saling melengkapi.” (Hlm. 29)
Di bandara, itulah pertama kalinya Abby bertemu dengan pria pirang tersebut. Saat itu, ia mengira-ngira pekerjaan pria yang asyik membaca sambil mendengarkan musik melalui earphone tersebut. Di Penang, Abby bertemu lagi dengan pria pirang itu saat ia kebingungan cara menuju hotelnya menggunakan Rapid Penang. Abby merasa canggung sekaligus malu dengannya karena sebuah insiden di pesawat saat ia kebingungan mencari kabin yang kosong. Insiden yang sangat buruk untuk dua orang asing. Abby tak tahu cara menuju hotelnya dan pria pirang tersebut memberitahunya, tidak menggunakan Rapid Penang, melainkan dengan jalan kaki. Saat itulah, Abby tahunya namanya. Namanya... Wira.
“Hidup kayak nyusun puzzle, harus berantakan dulu biar kita semangat nyusunnya karena penasaran bakal sebagus apa kalau semua udah tersusun.” (Hlm. 120)
Wira mengajak Abby untuk mencoba kuliner Penang, dan untuk pertama kalinya Abby tidak mengatakan ‘tidak’ lagi, ia mengiakan ajakan pria berwajah bule yang ternyata berpaspor sampul garuda itu. Dan setelah pertemuan tersebut, selalu ada pertemuan-pertemuan lain. Liburan Abby di Penang tidak dijalaninya sendirian, ada Wira—expert traveller—yang menemaninya. Bersama Wira, Abby tak merasa kesepian, pria itu selalu memiliki bahan obrolan menarik, membuatnya betah untuk bersamanya terus-menerus. Yah..., meskipun terkadang kenangan tentang Andre hadir.
Abby menikmati liburannya. Abby mengajaknya ke banyak tempat seperti Armenian House, Chinatown, Little India, Penang Hill, Pantai Tanjung Rhu, dan lain-lain. Bukan hanya spot-spot menarik di Malaysia, bahkan, Wira mengajak Abby pergi ke Singapura! Kunjungan Abby ke Singapura bersama Wira membuatnya menemukan jawaban akan pertanyaannya selama ini; perasaan Andre, perasaan Wira, dan perasaannya sendiri.  
Armenian House

Pantai Tanjung Rhu

Clan Jeties, Penang
 “Buatku rumah itu bukan bangunan. Rumah itu seseorang yang aku cintai, pasanganku.” (Hlm. 173)
Akhirnya saya memiliki kesempatan untuk mengetahui kelanjutan dari kisah Wira. Jadi, Wira ini adalah satu dari lima orang sahabat yang ikut jalan-jalan bersama ke Eropa di novel Kak Dy yang lain yaitu Pssst...! (nanti saya akan reread dan me-review-nya bila memungkinkan). Kali ini Wira hadir bukan di sebuah novel remaja lagi, melainkan di novel dewasa pertama Kak Dy Lunaly, sounds interesting, right?
Ini novel kedua Dy Lunaly yang kubaca setelah sebelumnya saya membaca Pssst...! Novel ini jauh dari kesan remaja karena mengangkat kisah pernikahan. Sebagai salah satu seri dari Wedding Lit Bentang Pustaka, novel ini pastilah memiliki unsur pernikahan, bukan? Akhir-akhir ini, dunia perbukuan Indonesia memang sedang musim novel pernikahan. Ada banyak sekali novel-novel sejenis di pasaran, namun My Wedding Dress berbeda. My Wedding Dress bukan hanya mengisahkan tentang pernikahan saja, tetapi juga memiliki unsur travelling sebagai penopang cerita. Paduan yang menarik, bukan?
Rasa travelling yang diselipkan di kisah ini sangat terasa dibandingkan rasa pernikahannya. Hal ini dapat dirasakan dari cara penulis mengisahkan perjalanan Abby yang terasa menarik. Bukan hanya Penang, penulis juga menyampaikan rasa travelling dari kisah ini dengan latar Singapura dan Menjangan, Bali. Penulis pandai sekali untuk mengajak travelling dengan tulisannya, selipan-selipan informasi tidak terasa seperti reportase, terselip sempurna sehingga nyaman sekali untuk dibaca. 
Penang, Malaysia

Singapura

Menjangan, Bali, Indonesia
 Novel ini mengangkat tema pernikahan, meskipun rasa travelling-nya cukup kental. Pernikahanlah yang menjadi akar permasalahan dari kisah Abby ini. Kegagalan pernikahan Abby membuatnya mengambil keputusan untuk mencoba travelling sendirian sembari mengenakan gaun pengantinnya. Dari situlah, kisah ini bergulir dengan manis.
Abby digambarkan sebagai seorang perempuan yang sering pasrah saja dengan apa yang dialaminya, terkadang labil, polos, dan mudah untuk digoda. Wira seringkali menggoda Abby hingga membuat gadis itu berteriak kesal dan berteriak, “In your dreams, Wira!” Saya suka dengan konsistensi penulis untuk mempertahankan karakter Abby dari awal hingga akhir. Penulis hanya membuat tokohnya lebih dewasa lagi dalam berpikir tanpa menghilangkan nyawa yang telah ditiupkannya sejak awal. Saya suka sekali dengan karakter Abby ini, selain karena karakternya konsisten, karakter Abby juga sangat realistis. Percayalah, pasti ada orang seperti Abby yang suka mencandu perihnya mengenang.
Wira, seorang traveller yang sangat ahli. Dia hidup secara nomaden selama melakukan travelling. Karena hobinya tersebut, karakter Wira digambarkan sebagai seorang yang bijaksana, sangat menghargai orang lain, dan teman mengobrol yang seru. Wira adalah seorang pria berambut pirang alami yang berkewarganegaraan Indonesia. Seperti yang kusebut di atas, Wira adalah sahabat dari Jiyad, Noura, Adhia, dan Kalyan—tokoh-tokoh di novel Pssst...!.
Selain kedua tokoh utama di atas, ada Gigi—adik Abby yang dewasa dan protektif, Andre—kekasih Abby yang meninggalkan Abby di hari pernikahannya, Jiyad, Noura, Chacha, Adhia, dll. Sebagian besar tokoh-tokoh yang ada di My Wedding Dress ini hadir dengan porsi yang pas dan setiap tokoh memiliki karakter yang menarik. Jujur, saya senang sekali karena akhirnya tokoh-tokoh Pssst...!, dapat reuni kembali di novel yang berbeda, ikut senang. :D
“Kalau lagi patah hati, kamu cukup ingat ini, if it’s good, it’s wonderful, if it’s bad, it’s experience. Intinya, kita nggak perlu menyesali apa pun yang terjadi, baik atau buruk. Kalau udah bisa ngelakuin itu, berarti kita udah berdamai dengannya.” (Hlm. 234)
Dengan sudut pandang Abby, penulis menuliskan kisah ini. Sangat menarik karena pembaca akan dibuat lebih tahu bagaimana rasanya apabila ditinggalkan pasangan saat akan masuk altar. Diksi-diksi yang penulis pilih benar-benar memukau sehingga setiap perkataan dari para tokohnya dapat dipahami oleh pembaca dengan mudah. Gaya bahasa mengalir dan kalimat-kalimat yang quotable membuatku betah sekali untuk membaca novel ini.
My Wedding Dress memiliki alur maju yang mendominasi. Penulis secara gamblang mengajak pembaca untuk tahu kelanjutan dari kisah Wira dan Abby ini, meskipun sesekali penulis menyelipkan potongan-potongan masa lalu pada bagian mengenang.  
Twist yang dihadirkan penulis lumayan mengejutkanku. Alasan Andre meninggalkan Abby benar-benar tak mudah tertebak. Endingnya memang mudah tertebak, tetapi untuk plot twist ini, sama sekali tak tertebak! Penulis pandai sekali menyimpan rahasia ini hingga akhir cerita dan mengungkapkannya dengan tenang tanpa terburu-buru.
Saya suka sekali dengan penulis yang masih berbagi informasi di novelnya kali ini. Paling kusuka sih, pada bagian yang menjelaskan balet. Saya suka dengan cara Wira dan Abby yang menjelaskan Swanlake melalui obrolan mereka. Tak dipaksakan dan informasinya menarik sekali. Good job, Kak Dy! 
Bolshoi
 Jika ditanya bagian kufavoritkan, maka saya akan memilih bagian ketika Abby memutuskan untuk membuang barang-barang yang mengingatkannya pada Andre. Saya suka sekali dengan cara Abby mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya tersebut.
Dari My Wedding Dress, saya belajar banyak hal, terutama tentang mengapa kita harus bangkit kembali dari keterpurukan. Dari Abby saya belajar bahwa setiap luka pasti akan ada yang menyembuhkan, hanya perkara waktu—entah lama atau sebentar luka tersebut akan sembuh. Tidak ada gunanya terus menerus bersedih, move on then move up!
“Aku pernah baca, cinta itu sama kayak energi. Sekali hadir, dia nggak akan pernah bisa menghilang, hanya bisa berubah bentuk. Kamu pernah cinta dia sebagai wanita, tapi bisa aja tanpa kau sadari, cinta itu berubah jadi cinta sebagai sahabat.” (Hlm 110)
Kaver dari My Wedding Dress ini begitu cantik. Saya suka dengan pilihan warna yang digunakan; gambar gaun, kamera, topi, sachel-bag, flatshoes dengan latar belakang berwarna hitam. Font untuk judul, sub judul, maupun nama penulisnya sangat cocok dan terasa pas. Kavernya sangat menarik! Two thumbs up, deh!
Novel ini dilengkapi dengan ilustrasi di setiap bab yang menggambarkan setiap babnya bersama dengan quotes berbahasa Inggris yang menarik. Yang membuat ilustrasinya adalah Kak Dy Lunaly—penulis My Wedding Dress ini—lho!
Potongan kertasnya kurang rapi

ilustrasi yang dibuat oleh Kak Dy

Oh ya, satu kopi My Wedding Dress milikku memiliki cetakan yang kurang rapi menurutku. Pemotongan kertasnya tidak sama sehingga bukunya terkesan bergerigi. Sebenarnya tak terlalu bermasalah, namun kurang sedang saja untuk dipandang. Entah ini hanya punyaku saja, atau banyak yang memiliki eksemplar yang bernasib sama denganku.
Secara keseluruhan, My Wedding Dress merupakan novel pernikahan unik yang mengajarkan kita untuk menikmati hidup. Seperti kata Kak Dy, novel ini sangat cocok bagi kalian yang (masih) percaya akhir setiap kisah cinta adalah bahagia selamanya. Percayalah, kebahagiaan itu pasti ada! Recommended sekali novel ini!
“Kamu tahu cara terbaik untuk menjalani hidup, By? Enjoy your life whether it’s up or down. Life is always like a rollercoaster. You have the right to be afraid, but try to climb into the front seat, throw your arms in the air, and enjoy the ride.Find the joy in all choices you make. Remember, in the end good girls always win.” (Hlm. 244)

4 bintang dari 5 bintang untuk My Wedding Dress!


XOXO,
PutriPramaa

7 komentar:

  1. Asikkkk akhirnya di post juga. Semoga berhasil! Amiinnn

    BalasHapus
  2. Asikkkk akhirnya di post juga. Semoga berhasil! Amiinnn

    BalasHapus
  3. Bisa dikatakan travelling itu menjadi terapi penyembuhan patah hati nggak? Saya menangkapnya demikian dari review ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget, apalagi kalo pas travellingnya ketemu sama orang macam Wira ini. Patah hati hilang, cinta bersemi :D

      Hapus
  4. Balasan
    1. amiin, makasih dukungannya ya, mbak :D

      Hapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon