Morning Breeze by Viera Fitani | Book Review



 
Judul : Morning Breeze
Penulis : Viera Fitani
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2015
ISBN : 9786020259833
Jumlah Hlm : 255 hlm
*

Fabian Aganta (30 tahun) dokter tampan yang kelebihan hormon ramah dan baik hati sukses membuat suster Dinasty (25 tahun) yang baru saja menjadi asistennya sebal setengah mati. Pekerjaannya berubah, dia lebih sering membantu Fabian mengusir pasien-pasien yang betah menggoda sang dokter sampai berjam-jam.
Kebiasaan Fabian yang menulis segala keperluannya dalam notes kecil oleh asisten sebelumnya, membuat Dinasty lebih merasa menjadi pesuruhnya dibanding asistennya. Tak disangka, dokter ganteng itu ternyata menyukai Dinasty yang selalu cemberut dan mengeluhkan setiap pekerjaan yang disuruhnya.
Seseorang dari masa lalu Dinasty datang tepat ketika Fabian menyatakan perasaannya pada wanita itu. Seseorang yang sangat Dinasty cintai dan nanti-nantikan. Mungkinkah Dinasty akan menyukai Fabian dan meninggalka orang dari masa lalunya? Atau Fabianlah yang dipilih Dinasty untuk menemani seumur hidupnya?

*

Dinasty harus menjadi asisten Dokter Fabian karena asisten dokter tersebut cuti. Semula hidup Dinasty mencoba untuk tidak peduli dengan pesona tersebut; setiap kali ia bertemu dengan Dokter Fabian, Dinasty selalu membuang muka. Dinasty tidak ingin berurusan dengan dokter itu. Sayangnya, Dinasty harus berurusan dengan Dokter Fabian. Ia harus menjadi asistennya! Lebih disayangkan lagi, posisi asisten yang dimaksud lebih menyerupai pesuruh bagi Dinasty. Membelikan panganan kesukaannya yang aneh, makan siang, dan menangani pasien-pasien Dokter Fabian yang menyebalkan membuat dunia Dinasty mendadak berubah.
Memang pesona Dokter Fabian tak bisa dibantah lagi, namun Dinasty kadung mencintai mantan pasiennya—Dirga—sehingga pria sememesona Dokter Fabian tidak bisa meruntuhkan perasaannya. Dirga sudah lama menghilang dari kehidupan Dinasty. Dengan sebuah kertas yang berjanji untuk kembali, Dirga benar-benar menghilang. Tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi membuat Dinasty sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan orang yang dicintainya tersebut.
Sementara itu, posisinya sebagai asisten Dokter Fabian perlahan-lahan membuat pertahanan Dinasty akan pesona dokter tersebut runtuh. Dokter Fabian tanpa malu-malu sering menggoda Dinasty, bahkan lebih sering mencari-cari kesempatan untuk bersama dengan Dinasty. Salah satunya dengan memutuskan ikut acara outing rumah sakit ke Anyer. Dokter Fabian jelas telah jatuh hati pada Dinasty.
Mereka berdua kian dekat dan kehadiran Dokter Fabian membuat Dinasty dapat melupakan Dirga. Dinasty bingung akan perasaannya. Sayangnya, Dirga hadir kembali membuat Dinasty kian terombang-ambing. Kehadiran Dirga juga diliputi dengan kejutan yang benar-benar tak disangka-sangka. Seseorang tidak bisa mencintai dua orang sekaligus, Dinasty harus memilih salah satu di antara Dirga atau Fabian.
Siapakah yang Dinasty pilih? Dan, kejutan apa yang hadir bersama kembalinya Dirga?

“Tapi cinta selalu seperti itu bukan? Datang tak terduga, tanpa pernah kita tahu kapan waktunya, atau bahkan dengan siapa hati kita memilih untuk berdebar cepat.” Hlm. 84

Morning Breeze merupakan novel pertama Viera Fitani yang kubaca. Secara garis besar, novel ini sebenarnya tergolong kisah cinta biasa. Formula yang digunakan penulis tergolong biasa, yaitu: bertemu, saling sebal, jatuh cinta, dilema karena seseorang di masa lalu, lalu harus memilih. Sesederhana itu. Namun, novel ini memiliki citarasa yang manis sehingga dapat dijadikan bahan hiburan bagi pembacanya. Selain manis, kata ‘syahdu’ juga cocok disematkan pada novel ini. Kisahnya memang sederhana, tetapi dari kesederhanaan itu kita dapatkan perasaan bahagia.
Selain tampan, Dokter Fabian digambarkan sebagai seseorang yang sangat ramah pada banyak orang. Karena ketampanan dan keramahannya, Dokter Fabian memiliki banyak pasien yang didominasi para kaum hawa. Pasien-pasien tersebut hadir dengan berbagai motif, ada yang benar-beanr sakit dan ada pula yang sakitnya dibuat-buat hanya untuk mendekatkan diri dengan Dokter Fabian. Karakter plus-plus yang ditunjukkan Dokter Fabian ini berbeda dengan karakter yang ditunjukkannya pada Dinasty. Dokter tersebut sering menggoda Dinasty yang kelewat jutek, setidaknya menurut Dinasty. Sementara itu, Dinasty digambarkan sebagai sosok yang selalu menunjukkan pemikirannya pada setiap orang, contohnya ketika berada di dekat dokter Fabian, Dinasty tanpa malu-malu menunjukkan rasa tidak sukanya. Dinasty merupakan sosok yang tidak mudah melupakan cintanya di masa lalu meskipun ia ditinggal entah ke mana. Perempuan semacam Dinasty sebenarnya sudah banyak bertebaran di dunia fiksi, tetapi yang unik dari Dinasty adalah sikapnya yang menurut saya realistis dalam menunjukkan kebimbangan. Lalu, ada Dirga, sosok dari masa lalu Dinasty ini digambarkan sebagai orang yang teguh dengan keputusannya. Dia juga sosok yang legowo dalam menghadapi keputusan orang lain. Selain ketiga tokoh di atas, juga ada tokoh lainnya, yaitu: Kamila, Katrina, dll.
Seperti yang telah  saya sebut di atas, novel ini merupakan novel yang manis. Penulis menulisnya dengan gaya bahasa yang mengalir dan juga luwes. Rasa ‘manis’ terselip di antara untaian-untaian kalimatnya.
Penggunaan multi point of view membuat novel ini timpang. Memang benar karena sudut pandang tiga tokoh utamanyalah, novel ini sukses membuat pembaca setidaknya mengerti dengan pemikiran pada tokohnya. Sayangnya, saya kurang merasakan perbedaan tone antara setiap tokohnya. Semuanya terasa sama, seperti diceritakan oleh satu orang yang sama.
Alur cerita ini sebenarnya sudah rapi, sayangnya saya merasa perasaan Dinasty terhadap Dokter Fabian terkesan dipaksakan. Kurang natural dan terkesan terburu-buru dalam merubah pemikirannya. Selain itu, pembahasan tentang Katrina kurang tereksplor, padahal side-story seperti ini menurut saya penting.
Oh, ya, di novel ini masih banyak kesalahan penulisan. Mungkin, ilmu menulis saya tidak sebaik penulis, namun dari yang saya tahu penulisan percakapan seperti ini: “Sedihnya berbeda, mbak,” jawabku lirih. Sedangkan pada novel ini justru ditulis: “Sedihnya berbeda, mbak.” Jawabku lirih. Selain peletakkan koma, saya juga menemukan sapaan yang huruf pertamanya tidak kapital. Seperti contoh di atas, seharusnya ‘mbak’ ditulis ‘Mbak’. Mungkin bila ada cetakan selanjutnya, novel ini dapat disempurnakan lagi editannya.

“Namun akhirnya aku paham, dalam hidup terkadang ada hal-hal yang tidak bisa kita ceritakan kepada orang lain.” Hlm. 183

“Dan lebih menyakitkan ketika kita tidak bisa merasakan apa-apa bukan? Lebih baik merasa marah dan kecewa, kita bisa melampiaskannya. Tetapi kosong ... membatmu bahkan tidak bisa berpikir tentang apa pun.” Hlm 211

“Jangan pernah mencoba menebak isi hati dan pikiran seorang wanita. Sehebat apa pun dirimu, kemungkinan salahnya lebih dari 70%. Dia bisa saja baik-baik, tapi di dalam hatinya dia hancur. Dia bisa saja terlihat bahagia secara fisik, tapi belum tentu secara mental.” Hlm. 223

Dari novel ini saya belajar bahwa seseorang harus jujur akan perasaannya pada diri sendiri. Apabila pada diri sendiri saja tidak bisa jujur, bagaimana bisa kita jujur pada orang lain tentang perasaan kita? Kalau cinta ya... kejar!
Cover-nya manis sekali dan terkesan dewasa. Saya suka sekali!

“Karena cemburu dan cinta itu seperti jantung dan paru-paru. Berdampingan dan butuh keduanya bekerja maksimal agar jaringan dan organ tubuh mendapat darah yang kaya oksigen.”

3 stars for Morning Breeze!


XOXO,
PutriPramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon