Thy Will be Done by Diego Christian | Book Review


 
Judul : Thy Will be Done
Penulis  : Diego Christian
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : April, 2015
ISBN : 9786020314945
Jumlah Hlm : 216 hlm
*

"Papaku masuk rumah sakit karena pneumonia kronis. Aku nggak nepatin nazarku ke Tuhan. Hubunganku dengan Mamaku nggak baik. Dan aku baru aja selingkuh dari pacarku.” Rahangku mengeras. Balkon tidak sehangat tadi saat hanya ada Esther dan diriku.
Bermula dari menyanggupi permintaan sang Ayah kepadanya untuk bernazar, Adela Priscia Hutagalung sadar bahwa ia telah menarik batas antara kehidupannya yang baru dan yang lama. Kejadian demi kejadian silih berganti menghampiri hidupnya, tak peduli sekeras apa pun hatinya menolak nazar yang terpaksa dibuatnya itu.
Keluarga, cinta, bahkan pekerjaannya dipertaruhkan demi memenuhi nazar tersebut.
Jadi, pertanyaannya cuma satu:
“Sampai kapan Adela bisa mengelak dari janji yang telah terikat dengan Sang Pencipta?”

*


"Membahagiakan Ayah adalah keinginan utama dalam hidupku. Setidaknya untuk saat ini, sebab saya menyayangi Ayah lebih dari apa pun." Hlm. 22

Bermula dari nazar untuk menjadi pelayan Tuhan setelah lulus kuliah, Adela menjadi sosok yang lebih religius dari sebelumnya. Adela mengikuti pembaptisan selam di gereja Galilea. Sebenarnya, pembaptisan ini bukanlah inisiatif Adela. Di situlah Adela bertemu dengan Dirga. Kemudian, Adela mulai mengikuti Ibadah Dewasa Muda dan ternyata Dirga juga mengikutinya. Sebagai seorang sekuler dan hedon, sebenarnya Adela tak percaya akan hal-hal berbau religi macam pembaptisan, dll. Namun demi ayahnya yang kesehatannya makin menurun, Adela rela melakukan nazarnya tersebut.
Kehidupan bebas yang dijalani Adela membuatnya sering abai dengan nazarnya menjadi pelayan Tuhan. Clubbing maupun freesex bukanlah hal tabu bagi Adela. Dengan kehidupan bebas yang ia jalani, Adela bertemu dengan Gani—seorang produser di stasiun TV. Menjadi news anchor telah menjadi mimpinya sejak dulu. Pertemuannya dengan Gani membuka peluang yang sangat besar baginya untuk menjadi bagian dari stasiun TV tersebut, apalagi Gani memintanya untuk mengirim lamarannya ke emailnya secara langsung.
Sebelum menjadi seorang news anchor, Adela masih sering untuk menghadiri kegiatan ibadah. Bersama Dirga, Adela sering menghabiskan waktu untuk beribadah. Bahkan, pria religius tersebut senantiasa mengingatkan Adela untuk selalu beribadah. Bersamaan dengan hal itu, kedua orang tersebut menjadi kian dekat.
Setelah menjadi seorang news anchor, aktivitas menjadi Pelayan Tuhan semakin menjauh darinya. Ia semakin jarang menjalani Ibadah Dewasa Muda, bahkan Dirga mulai menegurnya. Adela mulai geram dengan tindakan Dirga tersebut sehingga dia memutuskan untuk mengekos saja. Dirga tak tahu tentang kosan Adela tersebut, tapi Gani tahu. Adela dan Gani menjadi dekat. Namun, Adela sadar bahwa keberadaan Dirga di kehidupannya membuatnya lebih bahagia. Begitu pula dengan Gani, Adela juga merasakan kebahagiaan—tetapi berbeda dengan kebahagiaan dengan Dirga. Lantas, di antara dua orang tersebut, siapakah yang akan Adela pilih? Dan, apakah Adela mampu untuk memenuhi nazarnya menjadi Pelayan Tuhan?

"Kata orang bijak, jangan pernah membuat janji di saat senang dan jangan membuat keputusaan di saat marah." Hlm. 31

Sebagai novel pertama Diego Christian yang kubaca, novel ini tidak memberikan impresi yang buruk. Berkisah tentang seorang badgirl yang bertemu dengan goodboy memang bukanlah hal yang baru lagi dalam dunia novel, namun Diego berhasil meramu kisah tersebut dengan bumbu-bumbu agama sehingga menjadi cerita yang berbeda dan menarik. Ya, novel ini merupakan Christian Romance. Semula, saya tak tahu bahwa ini merupakan novel religi, namun karena saya telanjur tercebur dengan kisahnya, saya meneruskan membaca Thy Will Be Done ini.
Karakter yang diangkat pada novel ini memang umum, tetapi Diego berhasil memberikan nyawa pada setiap tokohnya. Seluruh tokoh pada novel ini cenderung konsisten dengan karakternya, bila ada perubahan pada karakter tokoh, hal itu terasa halus sehingga tidak terkesan dipaksakan. Kegalauan Adela yang menjadi premis utama pada Thy Will Be Done berhasil digambarkan dengan baik.  Dirga yang agamais juga terlihat masuk akal dan natural. Gani yang memiliki kehidupan bebas sebagai produser juga digambarkan tanpa menimbulkan ketimpangan.
Saya benar-benar menikmati gaya menulis Diego. Dengan sudut pandang Adela yang luwes dan tegas kita akan lebih merasakan kegalauan dari Adela sekaligus betapa generalnya pikiran Adela. Saya benar-benar salut dengan penulis yang menurutku sukses menulis dengan sudut pandang perempuan.
Banyak yang berkata bahwa sesuatu tak akan berguna bila tak memberikan inspirasi untuk melakukan hal baik. Novel ini bukan bagian dari ‘sesuatu tak akan berguna’ tersebut. Thy Will Be Done mengajarkan banyak hal kepada para pembacanya; tentang bagaimana kita harus menentukan pilihan di hidup kita. Keluarga, Tuhan, kekasih, teman, semuanya terangkai rapi di novel ini. Berikut ini petikan-petikan yang menginspirasi:

"Kamu sendiri tahu apa yang terbaik buat kamu. Kamu selalu punya pilihan." Hlm. 90
"Mungkin saya harus belajar memercayai bahwa tidak ada suatu apa pun di dunia ini yang kebetulan. Tuhan sudah merencanakan semuanya." Hlm. 109

"Please, jangan pernah berharap sama manusia. Manusia itu nggak pasti, mereka selalu berubah." Hlm. 119
"Jangan sampai karier buat kamu menomorduakan Tuhan." Hlm. 137
"Nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang tenang selama dia belum memenuhi janjinya. Apalagi kalau janji itu ditujukan pada Tuhan." Hlm. 158

Label ‘ChRom’ yang tersemat di kaver belakang memberitahukan bahwa novel ini akan membahas banyak tentang agama. Terdapat banyak ajaran Kristiani yang disematkan pada novel ini. Meskipun saya tak menganut agama yang sama dengan Adela, saya masih dapat merasakan amanat tentang keluarga, teman, maupun kekasih pada novel ini.
Secara keseluruhan, Thy Will Be Done ini merupakan salah satu novel yang patut untuk dibaca. Akan ada banyak amanat baik yang terjejalkan pada otak kita. Bacaan yang menarik!

"Dari sini saya belajar satu hal baru. Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukai kita. Dalam perjalananku, orang-orang yang tidak menyukai keputusan dan pilihanku adalah orang-orang yang membentukku menjadi pribadi lebih kuat. Mereka membuatku membuktikan bahwa saya bisa berjalan dan mencapai tujuan." Hlm. 195

3 stars for Thy Will Be Done!


XOXO
PutriPramaa

1 komentar:

 
La Distances Blog Design by Ipietoon