Peek A Boo, Love by Sofi Meloni | Book Review



 
Judul : Peek A Boo, Love
Penulis : Sofi Meloni
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786020324081
Tahun Terbit : 2016
Jumlah Hlm : 248 hlm
*

Hey, Cinta. Apakah kamu di sana? Oh, tidak? Mungkin di sini ? Tidak juga ternyata. Sebenarnya kamu di mana?
Memulai kehidupan profesional tidak semudah yang kubayangkan saat aku memutuskan pindah ke Jakarta. Macet dan polusi di mana-mana, Transjakarta yang sesak, serta kopi pahit yang disodorkan rekan kerjaku setiap pagi. Belum lagi atasanku, Pak Daniel, yang kelewat misterius.
Semuanya semakin rumit saat masalah datang dan mempertemukanku kembali dengan Evan, pria yang mengajakku be rkenalan di halte Transjakarta. Kejutan lainnya adalah Sam, teman chatting-ku, yang ternyata juga berada di kota yang sama denganku dan mengajak ketemuan! Entah berapa banyak lagi kejutan yang menantiku di kota metropolitan ini.
Hey, Cinta. Apa aku akhirnya akan menemukanmu di sini?

-Lulu-

*



"Mungkin aku terlalu banyak berharap. [...] Aku mungkin hanya membohongi diriku dengan berharap ia akan terus berusaha menghubungiku." Hlm. 114

    Lulu akhirnya mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan di Jakarta. Dia menjadi bagian dari Divisi Purchasing di PT SmartSource. Dengan kepribadian pendiam dan agak tertutupnya, dia berusaha menjadi salah satu dari warga Jakarta yang senantiasa sibuk. Ya, dia menjadi sibuk setelah mendapatkan pekerjaan; sibuk melakukan pekerjaannya, sibuk meladeni rekan satu divisinya yang rewel, sibuk menuruti perintah si bos misterius, dan sibuk mengatur perasaan terhadap Evan—rekan seperusahaan yang hanya berbeda divisi dari dirinya.
    Evan dan Lulu bertemu di halte TransJakarta dan Evan mengajak Lulu berkenalan. Saat itu, Lulu masih seorang karyawan baru yang tak terlalu mengenal rekan satu kantornya. Karena suatu masalah yang terjadi di bagian Marketing dan Purchasing, Lulu dan Evan terlibat dalam suatu proyek bersama sehingga mereka pun semakin dekat. Seiring berjalannya waktu, mereka kian sering bertemu di halte TransJakarta dan diam-diam Lulu menyimpan perasaan pada Evan.
    Lulu berharap perasaannya berbalas karena hubungannya dengan Evan jelas-jelas bukan lagi seperti hubungan antara rekan kerja. Mereka berdua sering jalan-jalan ke tempat-tempat yang mereka sukai bersama, bahkan Evan menunjukkan ‘kecemburuannya’ ketika Lulu berbagi payung dengan Pak Daniel—bos divisi Lulu. Hal-hal itulah yang membuat Lulu yakin bahwa perasaannya berbalas.
    Sayangnya, menyimpan perasaan itu tak pernah mudah. Lulu harus senantiasa bersabar saat Outing perusahaan karena Cindy—rekan satu divisinya yang rewel—selalu mendekat pada Evan dan Evan tampak tak keberatan akan hal tersebut. Hingga suatu hari, Lulu mendengar ucapan seorang bahwa maksud Evan mendekatinya adalah untuk mendekati Lulu. Saat itu, hati Lulu patah.
    Kekecewaannya tersebut ia tumpahkan pada teman chat-nya, Sam. Dengan Sam, Lulu merasa melupakan permasalahannya meskipun sejenak. Sam menjadi teman chat Lulu karena blog fotografi yang dimiliki oleh pria tersebut. Sam menjadi tempat Lulu berkeluh kesah tentang pekerjaannya, bosnya, dan perasaannya. Hingga suatu hari, Sam mengajak Lulu bertemu. Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah Lulu? Akankah dia benar-benar bertemu dengan Sam? Dan, bagaimana dengan Evan? Yuk, baca novel ini. J

"Anehnya, rasa hangat yang dulu sering kurasakan kini efeknya melemah. Ada kebahagiaan, tapi tidak cukup besar untuk membuat jantungku berdetak lebih kencang." Hlm. 199

    Peek A Boo, Love merupakan novel kedua Sofi Meloni yang kubaca. Sejak awal, aku sudah tertarik dengan novel ini karena memiliki cover yang menarik; seorang perempuan tampak tertidur di depan laptopnya. Warnanya yang lembut membuat calon pembaca merasa tenang sekaligus tertarik.
    Novel ini mengangkat kisah yang ringan, cenderung berjalan dengan ritme yang tenang. Dengan tokoh sentral bernama Lulu yang agak tertutup, Peek A Boo, Love menyajikan kisah tentang pencarian cinta di tempat perantauan sekaligus perasaan untuk mengadu nasib di perantauan.
    Latar dunia kerja yang mengiringi perjalanan Lulu di kisah ini kurang lebih menunjukkan bagaiamana kerasnya dunia kerja. Di dunia kerja, terdapat banyak jenis orang, contohnya Cindy—teman sedivisi Lulu—yang ambisius dan egois, Evan yang selalu optimis dan selalu bekerja keras, dan Daniel yang cenderung misterius. Di dunia kerja, keprofesionalan adalah yang utama, karena hal itulah suka atau tidak suka harus dihadapi. Penulis juga memaparkan tentang bidang yang digeluti oleh Lulu, seperti yang dapat kita lihat di halaman 15, “Jika memang kesediaan barang di gudang terlalu banyak, salah satu jalan untuk mengurangi stok barang yang ada adalah dengan meningkatkan penjualan.” Mungkin penulis juga menggeluti bidang yang sama dengan Lulu sehingga dapat menjelaskan pekerjaannya dengan begitu detail. Atau penulis melakukan riset habis-habisan tentang pekerjaan Lulu? Yang jelas, aku salut dengan penulis yang mendeskripsikan pekerjaan Lulu seperti ini.

“Banyak yang bilang Jakarta adalah kota harapan, tempat paling tepat untuk meraih mimpi. Jika hal itu tidak benar rasanya mustahil puluhan juta jiwa, yang sebagian besar pendatang, berlomba-lomba memenuhi setiap sudut Kota Metropolitan ini.” Hlm. 7

    Di novel ini juga digambarkan bagaimana rasanya hidup di kota metropolitan seperti Jakarta; tentang bagaimana agar tak terjebak macet dengan menggunakan transportasi umum, dll. Untuk yang satu ini, aku suka dengan ide penulis untuk mempertemukan dua tokohnya di halte TransJakarta, sungguh menarik. Walaupun menunjukkan bagaimana jenuhnya hidup di kota metropolitan, novel ini tetap terasa nyaman untuk dibaca.
    Novel ini menggunakan alur maju yang mendominasi, bahkan aku merasa hanya bagian Lulu flashback tentang chatnya dengan Sam saja yang menggunakan alur mundur. Dengan alur maju dan ritme penceritaan yang cenderung konstan, novel ini membuat pembaca seringkali merasa gemas dengan para tokohnya.
    Oh ya, sudut pandang yang digunakan di novel ini adalah sudut pandang orang pertama, yaitu Lulu. Dengan sudut pandang Lulu, kita akan lebih mengerti tentang bagaimana perasaan Lulu, bagaimana  kegalauannya akan perasaannya, dan bagaimana Lulu menyikapi kerasnya dunia kerja yang memiliki aturan ketat dan kota metropolitan yang terkadang menjemukan.
   Di novel ini, aku paling menyukai karakter Sam. Sebagai teman chatting, Sam tidak pernah mengecewakan Lulu. Selain itu, karakter itu cenderung konsisten sejak awal. Aku suka dengan bagaimana Sam membalas chat Lulu, begitu sebaliknya. Pertemanan mereka benar-benar seru untuk disimak. Lalu, sejak awal hingga akhir, aku sangat membenci karakter Cindy. Mungkin hal tersebut dikarenakan aku agak mirip dengan Lulu, jadi aku sering sebel dengan tingkah Cindy.
    Twist yang dihadirkan di novel ini sebenarnya mudah ditebak. Akan tetapi, bila diperhatikan lebih lanjut, twist itulah yang membuat kisah Lulu ini menjadi manis sekali.
    Sayangnya, ada beberapa bagian dari cerita ini yang membuatku agak kecewa. Seperti hubungan Evan dan Cindy di novel ini. Aku merasa bahwa ada bagian dari hubungan mereka berdua yang perlu ditulis di novel ini. Seakan ditinggal begitu saja dan dibiarkan menggantung, membuat penasaran saja. Selain itu, Cindy yang kemudian seolah lenyap, meskipun aku tidak menyukainya, namun kehadiran Cindy menurutku perlu untuk menopang cerita. Akan tetapi, aku berterima kasih pada penulis karena mengganti perasaan kecewaku dengan akhir kisah yang manis.
    Penyelesaiannya mungkin sudah bisa ditebak sejak awal. Klimaks dari kisah ini manis. Jujur saja, aku suka dengan endingnya, tetapi aku tak bisa berkata bahwa aku sangat menyukainya karena ending novel ini bukanlah jenis ending yang mengagetkanku. Namun, tenang..., ending-nya tidak mengecewakan, kok, bisa diterima oleh akal dan tak terkesan dipaksakan.

"Just stop over analyzing everything in your head." Hlm. 53

"Tidak seharusnya aku menangisi sesuatu yang sejak awal bukan milikku." Hlm. 110

"Tidak sepatutnya orang dinilai dari sepenuhnya dari penampilan luarnya saja." Hlm. 163

"Girl is surely sensitive about their weight." Hlm. 195

"Banyak yang bilang menunggu adalah hal yang paling menyebalkan. Terlebih lagi saat tidak ada kepastian tentang yang ditunggu." Hlm. 238

    Mungkin, novel ini terdengar klise bagi sebagian orang, tetapi bagiku novel ini memberikan banyak amanat. Dari yang aku tangkap, aku belajar tentang bagaimana kita selalu bersikap tabah dalam menghadapi permasalahan, perlunya memiliki seorang untuk berkeluh-kesah, serta pentingnya peran keluarga bagi kita (mengingatkan kita agar tak menghubungi keluarga saat susah saja, tapi juga saat senang, pokoknya jangan lupa keluarga lah!).
    Novel ini memang bacaan ringan. Kalau diibaratkan dengan roti, novel ini adalah roti dengan rasa original, hanya roti  tanpa ada isian. Namun, bagaimanapun ceritanya, roti tersebutlah yang selalu menemani isian apapun, jika hanya ada isiannya tidak bisa disebut roti, kan? Seperti itulah novel ini, sederhana namun memikat. Selain sisi realistis yang dibawa juga membuat novel ini menarik. So, overall novel ini pantas banget untuk dibaca. Recommended!
    4 of 5 stars untuk Peek A Boo, Love!


XOXO
PutriPramaa

3 komentar:

  1. suka banget kovernya, unyu!! ><

    "...be rkenalan..." sedikit typo, Mba' :D
    Berasa novel terjemahan gara-gara kovernya, dan tokoh utamanya Lulu? kamu tahu siapa yang pertamakali melintas di benakku? Lulu=Luhan XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maafkan typonya :v
      Yuk baca novel ini, yuk :D

      Hapus
    2. tunggu waktu yang tepat ><

      Hapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon