New York After The Rain by Vira Safitri | Book Review



 
Judul : New York After The Rain
Penulis : Vira Safitri
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2015
ISBN : 9786020315065
Jumlah Hlm : 288 hlm
*

Tidak ada yang tahu bahwa Julia Milano adalah sosok di balik penulis best seller terbitan BlackInk, tempat Julia bekerja sebagai editor.
Ketika Ethan Hall, sutradara ternama, ingin mengangkat salah satu karya Julia ke layar lebar, mau tidak mau Julia harus membuka topeng yang selama ini ia kenakan dan membuka diri untuk bekerja sama dengan pemuda itu.
Tapi siapa sangka, kedekatan membawa mereka pada skenario yang membuat luka hati dan rahasia-rahasia yang mereka sembunyikan tersibak.
Ketahuilah, seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. Apa pun....

*


“Kenapa ia harus membuatku merasa spesial? Kenapa ia harus sebaik ini di depanku? Kenapa?” Hlm. 62

Julia Milano—seorang editor di BlackInk—diam-diam menjadi penulis dengan nama samaran Jane Martin. BlackInk memiliki aturan bahwa editornya dilarang menjadi penulis sehingga mau tak mau Julia harus menyembunyikan identitasnya tersebut. Berkat bantuan sahabat sekaligus rekan kerjanya, Brianna, Julia berhasil merahasiakannya.
Namun, status sebagai penulis Best Seller membuat Jane Martin mendapat tawaran untuk adaptasi novelnya. Ethan Hall—sutradara kenamaan yang sebelumnya vakum—berniat untuk membuat film dari salah satu novel Jane Martin. Hal itu membuat Julia kalang kabut karena Jane Martin mendapat undangan dari pihak BlackInk untuk bertatap muka. Bukan hanya perkara adaptasi novel yang membuat Julia kelimpungan, ternyata Ethan Hall mengetahui bahwa Julia Milano adalah orang yang sama dengan Jane Martin. Benar-benar mengejutkan. Akhirnya, Julia menerima tawaran film tersebut demi menutup mulut Ethan Hall.

“Hanya orang bodoh yang menyembunyikan perasaan untuk orang yang dicintainya, Juli...” Hlm. 181

Karena proyek film tersebut, Ethan Hall dan Julia Milano kian dekat. Namun, keduanya seolah menyangkal hal tersebut. Apalagi, faktanya, Julia menyimpan perasaan pada bosnya, Jacob, sejak lama. Memendam perasaan memang banyak cobaannya, entah Jacob yang kurang peka atau Julia yang tak terlalu berusaha, hubungan antara mereka berdua tak kunjung mengalami kemajuan. Hal tersebut sering membuat geram Brianna, terlebih ketika Julia cemburu akan kedekatan Jacob dengan wanita lain. Lantas, bagaimana kelanjutan dari kehidupan cinta dari Julia?

 “Ketahuilah, seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. Apa pun.” Hlm. 222

Sebagai novel pertama Vira Safitri yang kubaca, novel ini memberikan impresi yang lumayan baik. Berkisah tentang cinta segitiga memang suatu hal yang sangat umum. Namun, kisah antara Ethan-Julia-Jacob ini memiliki rasa sendiri dan terasa sedap untuk dinikmati. 
Berlatar di Kota New York yang sarat akan kehibukkannya membuat novel ini memberikan ekspektasi yang lumayan tinggi tentang penggambaran kota New York-nya, terlebih pada judul novel terselip kata New York. Namun ternyata, novel ini tak terlalu menggambarkan latar secara besar-besaran. Ciri-ciri kebanyakan novel penulis lokal apabila bersetting di luar negeri adalah menunjukkan secara barbar tentang spot-spot di kota yang digunakan sebagai latar tersebut. Ada yang sukses, namun ada yang tidak. Meskipun novel ini tak tergolong debagai novel penulis lokal yang menjelaskan settingnya secara barbar, novel ini bisa dibilang sukses menghadirkan New York secara alami layaknya novel yang ditulis oleh penulis dar New York sana. Penulis tidak terlalu banyak mendeskripsikan New York, namun penulis berhasil menyisipkan citarasa New York di setiap bagian novelnya.
Sebenarnya, selain New York, novel ini juga memiliki setting di Italia, tetapi saya tak ingin membahasnya di sini karena porsinya yang tak semendominasi New York.
Penulis mengantarkan kisah ini dengan gaya bahasa yang kaku, sehingga jatuhnya terkesan seperti novel terjemahan. Meskipun menggunakan gaya bahasa yang kaku, cerita bergulir secara alami dan terasa nyaman untuk diikuti. Hal itulah yang membuat saya menyukai novel ini.

“Sungguh aneh kau mencari kebahagiaan hingga sejauh ini, padahal kebahagiaan itu ada pada dirimu.” [...] “Lakukan apa yang membuatmu bahagia, maka kau akan bahagia. Semudah itu.” Hlm. 204

“Sebaiknya jangan pernah sia-siakan air matamu untuk orang yang salah. Karena ketika air mata sudah telanjur mengalir, sulit sekali bagi siapa pun menghentikannya.” Hlm. 186

Seperti yang saya sebutkan di atas, cerita cinta segitiga memang umum. Namun, penulis menggiring pembaca tidak hanya berfokus pada kisah cintanya saja. Penulis mengajak pembaca ikut tenggelam dengan proyek film dari novel Jane Martin. Bahkan, pada beberapa bagian, saya merasa bahwa penulis tak terlalu menonjolkan kisah cinta segitiga di sini. Menjelang akhir novel, saya mulai bosan membacanya karena konflik yang menurutku kurang greget lagi, terlebih setelah bagian keputusan Jacob untuk .... *spoiler alert*
Perkembangan setiap karakternya terasa manis. Ethan Hall berhasil mendapatkan gelar sebagai tokoh favoritku di novel ini. Dengan penggambarannya sebagai seorang pria dengan suara berat yang memiliki hati lembut sukses membuatku memekik, “Ah, Ethan....”
Aku menyukai cara penulis menggambarkan hujan di novel ini. Sangat menyukainya hingga aku tak tahu bagaimana caranya untuk menceritakan alasan sukaku tersebut.
Hm, mungkin ending untuk novel ini benar-benar mudah tertebak, namun penulis menghadirkan twist yang benar-benar tak disangka. Saya berhasil menebak endingnya, namun gagal menebak twist-nya. Keterkaitan setiap tokohnya serta masa lalunya membuatku gemas dan benar-benar menarik untuk disimak.

 “Kalau cinta mirip patah hati seperti katamu, mungkin ia menyerupai penyesalan. Selalu datang belakangan, hadir saat sudah kehilangan, dan terasa sakit ketika baru menyadarinya?” Hlm. 84

Secara keseluruhan, saya benar-benar menikmati New York After The Rain. Novel ini benar-benar kurekomendasikan bagi kalian yang menantikan kisah cinta yang manis.
3 bintang untuk New York After The Rain!

“Perasaan adalah hal yang sangat kompleks. Kita berdua tahu itu.” Hlm. 27


XOXO,
PutriPramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon