Girls In The Dark by Akiyoshi Rikako | Book Review



 
Judul : Girls in The Dark
Pengarang : Akiyoshi Rikako
Penerjemah : Andry Setiawan
Penerbit : Haru
ISBN : 9786027742314
Edisi : Mei, 2014
Jumlah Hlm : 284 hlm
*

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?
Gadis itu mati.
Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.
Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.
Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....
Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

*


“Dua orang yang mirip kalau tidak saling mendukung, pasti saling berlawanan. Lalu, dua orang yang bertolak belakang kalau tidak saling mendukung, pasti saling berlawanan. Tidak ada yang terletak di antaranya.” Hlm. 16

Shiraishi Itsumi—ketua klub sastra—ditemukan tewas dan di tangannya ditemukan bunga lily sebagai petunjuk kematiannya. Untuk mengenang kematiannya tersebut, Klub Sastra melakukan pertemuan setelah sebelumnya setiap anggota diminta untuk membuat cerpen. Pertemuan kali itu adalah pembacaan cerpen dari anggota klub sastra tentang kematian mantan ketua klub mereka. Sembari menyimak pembacaan cerpen, mereka harus menikmati makanan dari yaminabe (panci dalam kegelapan yang isinya misterius) di tengah kondisi temaram.
Ada enam anggota klub sastra, yaitu Sumikawa Sayuri, Nitani Mirei, Kominami Akane, Diana Detcheva, Koga Sonoko, dan Takaoka Shiyo. Semuanya membacakan cerpennya, kecuali Sumikawa Sayuri yang merupakan ketua baru klub sastra sekaligus teman dekat Shirashi Itsumi. Dalam cerpen-cerpen tersebut, ternyata setiap anggota mencurigai satu sama lain. Setiap anggota memiliki alibi dan tuduhan tersendiri bagi anggota lain disertai bukti. Siapakah pembunuh yang sebenarnya?

“Kalau kesialan seseorang itu adalah madu yang manis, rahasia seseorang itu adalah rempah-rempah berkualitas tinggi. Rahasia akan menjadikan kehidupan orang yang mengetahuinya menjadi harum dan memberikan rasa yang penuh akan cita rasa.” Hlm. 227
this original picture is not mine

Novel ini tergolong novel yang sulit untuk direview. Sulit sekali untuk tidak spoiler dalam membuat reviewnya. Ini adalah novel pertama Akiyoshi Rikako yang kubaca meskipun review The Dead Returns lebih dahulu mengudara.
Girls in The Dark merupakan novel yang dikonsep tidak seperti novel pada umumnya. Jadi, setiap bab dari novel ini merupakan cerpen dari anggota klub sastra. Yang lebih menarik lagi di cerpen tersebut, diceritakan tentang pendapat mereka tentang kematian dari mantan ketua klub mereka, yaitu Shiraishi Itsumi.
Dengan setting tempat si SMA Putri Santa Maria, akan terasa kesan sekolah di novel ini. Ada kesan glamour yang ditunjukkan novel ini dengan klub sastra yang istimewa. Klub Sastra hanya memiliki tujuh anggota dan ruangannya benar-benar mewah. Sebagai ketua klub sastra, Shirashi Itsumi memilih-milih siapa anggota klubnya tersebut, karena itulah klub sastra menjadi istimewa.
Dari 5 cerpen dari diangsurkan oleh anggota klub sastra kecuali Shiraishi Itsumi dan Sumikawa Sayuri, semuanya sangat menarik. Terlebih cerpen tersebut menggunakan sudut pandang dari masing-masing pribadi sehingga akan muncul banyak dugaan. Ada 2 pernyataan yang diangkat di novel ini, dan juga ditulis dari sudut pandang setiap orang.
Sayangnya, sudut pandang yang begitu banyak tidak terlalu menunjukkan perbedaan tone dari setiap tokohnya. Memang ada yang terasa perbedaan gaya bahasanya, seperti pada bagian Diana Detcheva yang merupakan orang asing. Sebenarnya, aku berharap akan ada perbedaan gaya bahasa—terutama pada bagian Takaoka Shiyo yang katanya seorang penulis, mengingat yang menceritakan berbeda-beda. Sayangnya, ekspektasiku tersebut tidak terwujud.
Penerjemahannya santai. Terkesan seperti novel remaja dengan penggunaan kata-kata ‘nggak’, ‘banget’, dll. Sebenarnya lebih suka dengan bahasa kaku untuk novel terjemahan. Namun, hal itu tidak mengurangi kenikmatan membaca novel ini.
Secara plot, novel ini sangat menarik. Terlebih pada bagian akhir yang mulai menunjukkan fakta dari dugaan-dugaan yang dilontarkan. Aku benar-benar syok dengan twist yang dihadirkan penulis. Semua dugaanku salah dan penulis membuatku kagum dengan idenya yang sangat wow ini.
Masih ada beberapa kesalahan ketik di novel ini. Mungkin bisa direvisi jika dilakukan cetak ulang nanti [Note: aku membaca versi yang tidak memiliki bonus cerita]. Contohnya pada halaman 262, yaitu ‘memilih untuk untuk mati’ yang seharusnya ‘memilih untuk mati’.
Overall, sebagai novel pertama Akiyoshi Rikako yang kubaca, Girls in The Dark berhasil membuatku mewajibkan novel-novel Rikako lain untuk dibaca. Girls in The Dark memiliki kesan misterius yang mendalam bagiku. Novel ini sangat seru dan patut sekali untuk dibaca! Recommended!
4 stars of 5 stars for Girls In The Dark!


XOXO
PutriPramaa

2 komentar:

  1. wah... penasaran banget. hiks
    ini ngga ada GA nya kah? hehehe
    pengen beli, tapi belum ada rezeki.
    tunggu saya ya, i'll be back for you
    :D

    BalasHapus
  2. Wah, sayang ini nggak ada GA-nya. Semoga segera ada rejeki buat beli, ya. :)

    BalasHapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon