Complicated Thing Called Love by Irene Dyah | Book Review



 Judul : Complicated Thing Called Love
Penulis : Irene Dyah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 9786020325576
Jumlah Hlm : 256 hlm
*

Awalnya, alur cerita ini sedikit membingungkan. Tak jelas mana hulu mana muara. Tapi jangan menyerah. Percayalah, ada titik ketika semua keping puzzle itu bertemu. Seperti cinta.
Kalau Garin Nugroho punya Cinta dalam Sepotong Roti, maka Nabila punya “Cinta (Monyet) dalam Sepotong Pisang”. Organik. Gadis yang biasanya patuh itu kali ini memilih berontak: tetap pacaran meski dilarang. Bisa ditebak, kisahnya berakhir dan monyet bernama Bayu itu harus diusir.
Lalu hadir Bagas, pria sempurna pilihan ibunda. Semua jadi terlihat mudah bagi Nabila. Sayang, Bayu belum betul-betul pergi dari hatinya. Duh, bagaimana bisa Nabila memilih di antara Bagas si calon suami idaman dan Bayu yang bengal dan bikin deg-degan? Dan kenapa Nabila mesti berguru pada kisah cinta para sahabatnya?
Sebabnya satu: cinta memang repot!

*
Nabila diminta oleh ibunya untuk pulang ke Jogja setelah sebelumnya ia menetap di Jepang untuk melanjutkan pendidikannya. Pulang ke Jogja yang dimaksud ibunya bukanlah pulang ke Jogja biasa. Ia diminta pulang ke Jogja bersama Bagas—pria yang ibunya sodorkan padanya untuk dijadikan suami.
Akan tetapi, memutuskan pulang ke Jogja dengan tujuan seperti itu tidak semudah yang dibayangkan. Bayangan akan cinta monyet sewaktu SMA membuat Nabila ragu untuk pulang ke Jogja bersama Bagas. Nabila tidak bisa melupakan kisah cinta masa SMA-nya bersama Bayu yang bermula dari sepotong pisang. Bayu merupakan anak yang dapat dikategorikan sebagai anak nakal, hanya saja ia pandai memainkan berbagai alat musik. Bayu yang benar-benar bertolak belakang dengan Nabila itu terlalu memesona baginya hingga membuatnya meragu untuk kembali ke Jogja bersama pria pilihan ibunya.
Ibunya yang telah mendapat gelar ‘selalu benar’ dalam kehidupan Nabila mendadak kehilangan gelar tersebut di mata Nabila untuk urusan percintaan. Nabila berdalih bahwa ibunya tak perlu ikut campur dengan urusan percintaannya, toh ibunya termasuk gagal dalam urusan tersebut. Nabila meminta bantuan sahabat-sahabat—Dania, Aalika, Dewi, dan Sora yang memiliki kisah cinta yang juga menarik. Lantas bagaimana keputusan yang diambil Nabila?

“Semua orang pasti ragu-ragu saat hendak memulai hal besar. Itu normal. Tapi, ya, jangan terus didengarkan ragu-ragunya, nanti kamu nggak maju-maju, jalan di tempat terus.” Hlm. 157

Novel yang sangat unik! Dengan intro sepanjang 100 halaman membuat novel ini menyandang gelar unik tersebut. Bukan hanya perkara intro 100 halaman yang terbagi menjadi lima bagian, pada bagian Intro pembaca diajak berkenalan terlebih dahulu dengan sahabat-sahabat Nabila yang nantinya akan menunjang cerita Nabila. Kehadiran 5 bagian intro tersebut memberikan warna yang berbeda bagi novel ini. Saya sudah menyukai novel ini sejak menjadi intro pertama yang mengisahkan Sora bersama pria bernama Langit di Verona, kemudian berkenalan dengan Aalika dan Pangeran Hujannya di Chiang Mai, Dania bersama hantunya—Casper, dan Dewi yang berusaha men-charge kembali cintanya bersama Dewa. Intro kelima sendiri merupakan intro yang sebenarnya, karena di sini, dikisahkan awal mula kegalauan Nabila untuk memilih Bagas atau Bayu.
Seperti yang dikatakan oleh blurb, memang agak membingungkan saat membaca intro-intro tersebut. Pembaca tak tahu akan dibawa ke mana cerita ini. Namun, saya menyukai kisah-kisah dari sahabat Nabila ini. Meskipun pada akhirnya saya bertanya-tanya, apa guna intro tersebut selain memberikan background story untuk sahabat Nabila? Apa hanya untuk menghadirkan latar tempat yang menarik? Tapi, saya telanjur menyukai konsep semacam ini. Saya senang menyimak setiap kisah sahabat Nabila dan berharap akan ada bagian tersendiri untuk mereka, terutama Sora dan Langit. Saya benar-benar berharap Kak Irene membuat buku tersendiri untuk mereka.
Saya menyukai bagaimana penulis menunjukkan kegalauan Nabila. Saya menyukai cara penulis menghadirkan sahabat-sahabat Nabila dengan debat tentang cinta tersebut. Kehadiran sahabat-sahabat Nabila seolah merangkai pikiran Nabila dalam mengambil keputusan, sangat menarik!
Novel ini merupakan novel pertama Kak Irene yang kubaca, dan saya sudah dibuat jatuh cinta dengan gaya berceritanya. Gaya bahasanya benar-benar merepresentasikan apa yang terjadi pada tokoh tersebut. Saya menyukai bagaimana Kak Irene menutup satu scene dengan kalimat yang menohok atau dibiarkan menggantung penuh tanya.

“Menikah tidak mungkin hanya pakai cinta. Cinta kan bisa dipelajari, bisa dipupuk. Apalagi untuk pasangan nikah.” Hlm. 108

“Tuhan membuat manusia dengan sangat istimewa. Kita sebetulnya memiliki kemampuan untuk menjaga dan menyembuhkan diri sendiri. Fisik dan mental. Kamu tahu itu? Kita selalu bisa pulih, Nabila. Asalkan kita mau. Juga percaya.” Hlm 216

Sebenarnya, novel ini hanya menceritakan Nabila dengan kubangan masalahnya. Kebingungannya untuk memilih cinta masa mudanya yang menantang karena sama sekali tak terencana atau pria pilihan ibunya yang sudah tahu bagaimana perencanaan masa depannya. Meskipun terkesan terlalu berkubang di masalahnya, saya menyukai karakter Nabila pada novel ini. Realistis. Kegalauannya terasa alami.
Penulis berulang kali membawa pembaca kembali ke masa lalu Nabila. Dengan alur campuran seperti ini, pembaca menjadi lebih tahu mengenai apa sih yang membuat Nabila tetap berdebar-debar berada di dekat cinta masa SMAnya. Menjelang akhir novel, penulis berulang kali membawa pembaca ke masa lalu, padahal apabila alurnya dibiarkan maju, maka tanya di benak pembaca akan segera terjawab. Cara penulis mengulur ceritanya benar-benar menarik, contohnya pada bagian pernikahan Nabila yang pembaca tak ketahui dengan siapa Nabila akan menikah. Terlebih, kedua tokoh prianya sama-sama memiliki inisial B sehingga sulit tertebak. Tapi, ngomong-ngomong, tebakan saya benar untuk tokoh yang akan menjadi suami Nabila.
Oh, ya, saya menyukai latar belakang Nabila. Saya ingin menjadi Nabila yang mendapatkan beasiswa Monbusho, semoga saya juga seberuntung Nabila dalam pendidikan saya sekaligus dalam kisah cintanya, hehehe. Perencanaan Nabila bersama ibunya untuk pendidikannya sangat menginspirasi!
Complicated Thing Called Love mengajarkan pada kita tentang ‘mengambil keputusan’ sekaligus bangkit dari keterpurukan. Boleh lah ragu, tapi jangan sampai ragu itu membuat langkah kita terhambat, kurang lebih seperti itu yang ingin disampaikan oleh Kak Irene melalui Nabila.
Secara keseluruhan, Complicated Thing Called Love menyuguhkan banyak kisah cinta disertai pilihan-pilihan yang membingungkan untuk dipilih demi masa depan yang lebih bahagia. Recommended!
4 of 5 stars untuk Complicated Thing Called Love!

“Bagaimanapun, keinginan terbesar seseorang yang mencinta adalah mendapatkan balasan akan cintanya. Dan apabila balasan cinta itu sudah ditemukan, apa layak untuk melepaskannya begitu mudah? Sementara balasan itu demikian berharga, dan bisa jadi tak ada gantinya.” Hlm. 89


XOXO,
PutriPramaa

3 komentar:

  1. Udah maskin buku ini ke wishlist ku �� penasaran sama bayaknya karakter itu apa hubungannya di cerita ini. Jadi inget khokkiri yg punya banyak nama karakter juga ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget loh novel ini! Aku bener-bener suka. Iya, Khokkiri juga banyak tokohnya, konfliknya keren lagi, belum sempet ngereview dan reread nih :D

      Hapus
    2. Iya semoga bisa cepet2 beli buku ini karena banyaknya nama tokoh bikin penasaran bgt deh heheh :D

      Hapus

 
La Distances Blog Design by Ipietoon