Rainy’s Days by Fita Chakra | Book Review




 
Judul : Rainy’s Days
Pengarang : Fita Chakra
Editor : Winda Veronika
Penerbit : Ice Cube Publishing
ISBN : 978-979-91-0652-0
Edisi : Cetakan pertama, Januari 2014
Jumlah Hlm : 227 hlm
***

“Bagiku, hujan dan sedih selalu berendengan. Kini dan nanti, aku tetap membenci hujan. Meski namaku sendiri pun berarti hujan.” Hlm. 11

Sebagai gadis beruntung karena berasal dari keluarga yang berada, untuk urusan asmara Rainy tak seberuntung nasibnya sebagai putri dari orang kaya tersebut. Kekasihnya, Ben, adalah sosok yang tidak segan untuk menggerakkan tangannya untuk memukul. Meskipun banyak perempuan yang iri tatkala Rainy berjalan berdampingan dengan Ben yang tampan sekaligus pewaris dari bisnis ayahnya, Rainy tak merasa Ben adalah kekasih idamannya. Ben bukanlah sosok pria yang menyayanginya selayaknya seorang lelaki menyayangi gadisnya.

Rainy benci hujan. Seolah hujan selalu mendukung segala hal buruk yang menimpa dirinya, salah satunya saat ia memutuskan Ben. Perlakuan kasar dan bentakan Ben terhadap Rainy di depan umum, membuat Rainy semakin meyakinkan diri untuk bersembunyi dari Ben. Dia memutuskan untuk tinggal di apartemen, sekaligus pindah kampus demi menghapus segala hal tentang Ben dari kehidupannya. Meskipun sulit sekali (bahkan mustahil) untuk benar-benar menghapus Ben dari kehidupannya, Rainy tetap mencoba menghapus Ben.
Apartemen baru Rainy memaksanya harus bertetangga dengan Fey. Fey adalah tetangga yang agak ‘berisik’. Dia sosok gadis yang ceria dan suka beramah tamah. Sayangnya, Rainy kurang menyukai hal tersebut. Setelah beramah-tamah dengan Fey, Rainy segera menutup pintu apartemennya dan menuju balkon untuk menangis. Sayangnya, tangisnya itu dilihat oleh tetangga—pria bernama Kian. Oleh karena itu, Rainy bersikap tak bersahabat dengan pria itu.
Akan tetapi, kehadiran Kian justru kian sering di kehidupan Rainy. Sayangnya, kehadiran pria itu selalu tidak tepat, ia selalu hadir saat Rainy sedang mengalami kemalangan. Pria itu lah yang membantunya menolong anak kucing di got, bahkan pria itu juga yang berada di sampingnya saat ia muntah ketika mencoba merongrong masuk makanan ke perutnya.
Semakin lama, kehadiran Kian berubah menjadi suatu kebutuhan bagi Rainy. Pria itu bahkan mulai menceritakan kehidupannya beserta keluarganya pada Rainy dan gadis itu tak merasa keberatan untuk menjadi pendengar.
Sayangnya, ketika kenyamanan itu datang menghampiri, suatu bab baru kehidupan yang mengejutkan bagi Rainy siap untuk dibuka.

“Berjanjilah kamu akan mengatakan hal yang membuatmu sedih. Aku ingin melihatmu tersenyum.” Hlm. 146

Novel ini adalah juara pertama event Lomba Blue Stroberi-nya Ice Cube Tahun 2013 lalu. Karena judulnya mengandung unsur hujan, aku segera membeli novel ini saat awal-awal perilisan. Meskipun aku re-read lagi di tahun ini untuk kureview.
Aku suka dengan konsep cerita yang coba diusung oleh penulis. Kisah tentang gadis yang agak ‘depresi’ lalu bertemu dengan sosok pria layaknya malaikat tanpa sayap. Selain unsur putus asa tersebut, aku menyukai dengan bahasan di novel ini; tentang bulimia, ilmu bunga, dan cowok brengsek yang nggak bisa ngehargain orang. However, aku suka dengan cerita yang berunsurkan keputusasaan seperti novel ini.
Sayangnya, aku kurang suka dengan bagian akhir dari novel ini. Aku merasa bahwa itu terlalu dramatis dan cenderung berlebihan sekaligus terasa cepat. Jika dieksekusi lebih halus, mungkin akan terasa lebih enak meskipun tindakan yang dilakukan tokoh tersebut terlalu ekstrem.
Kurang ada penggalian lebih tentang fakta-fakta menarik dari si tokoh utama perempuan, Rainy. Terasa cuma lewat gitu aja untuk permasalahan fisik dan psikisnya.
Secara garis besar cerita, sebenarnya Rainy’s Days sudah oke. Namun, aku merasa bahwa novel ini terlepas dari proses editing. Ada banyak typo. Seharusnya, hal tersebut bisa diantisipasi sebelum novel dijual ke publik. Meskipun bagi sebagian pembaca typo bukanlah masalah, tetapi bagi sebagian pembaca yang lain, typo berdampak sangat fatal karena merusak kekhusyukan membaca. FYI, aku tergolong pembaca kedua. J Selain itu, terjadi ketidakkonsitenan diksi ‘kau’ dan ‘kamu’, menurutku jika sudah memakai ‘kamu’ ya ... terus aja pakai ‘kamu’.
Untuk ending dari kisah ini, aku acungi dua jempol. Aku suka dengan ending yang terkesan tak dipaksakan seperti itu. Kisah dibiarkan terbuka dan realistis bagiku.
Untuk kavernya, aku acungi jempol untuk konsep kaver dari pemenang satu, dua, dan tiga dari lomba kepenulisan ini. Speechless untuk menjelaskan kavernya karena aku sangat menyukainya. J
Overall, Rainy’s Days merupakan novel yang menarik dibaca dengan ending yang juga menarik. So, 3.5 of 5 stars untuk Rainy’s Days.


XOXO
Putri Pramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon