Madre by Dee | Book Review



 
Judul : Madre
Penulis : Dee
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 9786028811491
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Hlm : 162 hlm
*

“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempatTionghoa, Nenek saya seorang penjual roti, dan dia, Bersama kakek yang tidak saya kenal, Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Terdiri dari 13 prosa dan karya fiksi, Madre merupakan kumpulan karya Dee selama lima tahun terakhir. Untaian kisah apik ini menyuguhkan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati.

Lewat sentilan dan sentuhan khas seorang Dee, Madre merupakan etalase bagi kematangannya sebagai salah satu penulis perempuan terbaik di Indonesia

*

     Madre adalah sekumpulan cerpen dan prosa karya Dewi ‘Dee’ Lestari.

“Kamu ingin cinta. Tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang -kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.”

“Anggap aja kamu ikan lele. Bisa berkembang biak di septic tank. Dia hidup bahagia di tempat sampahnya.”

“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya bukan bebas lagi, ya?"

“Hidup telah menunjukkan dengan caranya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu ke mana ini semua berakhir.”

     Madre adalah sekumpulan cerita pendek dan prosa karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Total, terdapat 13 kisah yang dimuat di buku ini, salah satunya adalah Madre yang menjadi judul buku ini. Jujur, aku bingung harus menuliskan apa di review ini. Pertama, ini merupakan kumpulan cerita sehingga aku bingung harus menuliskan masing-masing atau sebagian saja. Kedua, aku terpukau sehingga aku bingung harus bilang apalagi. Oke, tapi aku akan mencoba mereviewnya.
     Madre berarti ibu dalam bahasa Spanyol. Benar, Madre merupakan ibu bagi roti-roti di toko roti Tan de Bakker. Madre adalah biang roti yang dibuat sekitar tujuh puluh tahun yang lalu. Biang roti tersebut diturunkan kepada Tansen—cucu dari Lakshmi, si pembuat biang roti tersebut. Tansen sendiri merupakan seorang pekerja serabutan yang tiba-tiba mendapatkan warisan dari Pak Tan.
   Semula, Tansen benar-benar tak peduli Madre. Namun, ternyata Madre membuat Tansen lebih menghargai kehidupan yang dijalaninya, menjadi lebih bertanggung jawab. Dan berkat Madre pula, Tansen mengetahui rahasia-rahasia keluarganya di masa lalu. Berkat Madre pulalah ia bertemu dengan penggemar blognya, Mei, yang senantiasa membantu Tansen.
     Selain Madre, terdapat kisah lain seperti Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan, Percakapan di Sebuah Jembatan, dan yang paling saya suka: Menunggu Layang-Layang.
      Sudah menjadi rahasia umum bila Dee mampu meracik ceritanya menjadi sangat menarik. Dengan gaya bahasanya yang memukau, saya—sebagai pembaca—dibuat selalu menempel dengan buku ini sebelum menyelesaikannya. Seringkali Dee menyisipkan humor-humor dan percakapan-percakapan santai antar tokoh yang terkadang membuat saya senyum-senyum sendiri.
      Oh ya, alasan saya menyukai Menunggu Layang-Layang dibandingkan cerita utamanya, Madre, adalah kisah ini menceritakan Starla dan Christian yang benar-benar bertolak belakang. Keduanya bersahabat dan dengan perbedaan di antara mereka, mereka selalu merasa cocok. Sejak awal, aku sudah terpesona dengan cara Dee membuat karakter Christian; bagaimana teraturnya kehidupan pria itu. Aku terpesona habis-habisan dengan karakternya! Oleh karena itu, aku sungguh menyukai cerita Menunggu Layang-Layang tersebut. (y)
     By the way, saya sengaja membaca kisah ini dari akhir sehingga Madre menjadi yang paling bontot untuk dilahap. Sayangnya, meskipun dilahap paling akhir, saya tetap saja terpesona pada Menunggu Layang-Layang dan Madre menduduki urutan kedua.
     Overall, Madre merupakan bacaan yang seru. Sangat kurekomendasikan untuk mengisi waktu luang, deh! So, 4 stars of 5 stars!


XOXO
PutriPramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon