Blue Vino by K. Fischer | Book Review



  


Judul : Blue Vino
Pengarang : K. Fischer
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-8019-7
Edisi : 2013
Jumlah Hlm  : 328 hlm
*

“Menangis bukanlah pilihan. Menangis tidak pernah menjadi pilihan. Marah-marah juga tidak ada gunanya.” (Hlm. 11)

Roz merasa hasil kerjanya sia-sia setelah dia menyadari bahwa yang mendapat untung dari pekerjaannya adalah temannya. Akhirnya perempuan itu memutuskan untuk membalas perbuatan temannya—Hubert—dengan mengambil cuti liburan. Sayangnya, Roz bingung harus berlibur ke mana.

Beruntunglah ada Lisa yang kebetulan juga ingin cuti. Akhirnya, dia memutuskan untuk berlibur ke guest house Lisa di Langenlois—kota Wine terbesar di Austria. Keluarga Lisa memiliki sebuah guest house bergaya barok yang menawan bernama Hennerhof.  Di sana, Roz bisa menikmati keindahan kebun anggur bahkan ikut menjadi seorang petani anggur. Meskipun sedang cuti, cap Miss Fix-it di diri Roz tetap saja melekat. Saat berlibur pun dia membantu Lisa yang kelimpungan dengan bisnis keluarganya itu.
Selain itu, di sana, Roz bertemu dengan Bjorn dan Dagny. Kedua pria itu berhasil mencuri perhatian dari Roz. Bjorn adalah seorang aktor film action yang tanpa malu-malu menggoda Roz. Di samping wajahnya yang tampan, Bjorn juga mudah berbaur dengan orang baru sehingga Roz merasa nyaman dengannya. Sementara itu, Dagny adalah sosok pria kumal yang pertama kali Roz temui saat membeli Mars Bars di sebuah toko. Dia adalah pria yang misterius sekaligus pemilik tanah di sebelah tanah milik keluarga Lisa.
Liburan dengan kehadiran dua orang itu membuat Roz mendapatkan pengalaman yang seru. Sayangnya, di antara kedua orang itu ada yang membuat hatinya remuk seremuk-remuknya karena rahasianya. Rahasia itulah yang membimbing Roz  untuk mendapatkan akhir yang pantas untuknya.

“Mungkin rasa curigaku terlalu berlebihan. Mungkin dia benar-benar dapat dipercaya.” (Hlm. 150)

“Sayangnya tidak semua yang tampak seperti teman adalah benar teman.” (Hlm. 223)
“Jadi ia tahu kalau menyukai dua orang dalam waktu yang sama itu mungkin saja terjadi.” (Hlm. 252)

“Tidak ada ‘kita’. Tidak pernah ada ‘kita’. Yang ada hanyalah aku yang begitu bodoh untuk pernah memercayaimu.” (Hlm. 281)
“Aku tahu hatimu bukan taman bermain, yang aku dapat seenaknya keluar-masuk, menggunakan mainan di sana sampai ada yang terluka dan keluar lagi jika sudah bosan.” (Hlm. 317)

Blue Vino adalah novel kedua K.Fischer yang kubaca setelah sebelumnya aku membaca Berlabuh di Lindoya. Jika harus dibandingkan, aku lebih suka dengan berlabuh di Lindoya. Tapi, novel ini juga enak dinikmati kok. Setelah sebelumnya aku disuguhkan dengan sebuah pulau kecil bernama Lindoya, kali ini aku disuguhkan dengan keindahan Langenlois—si kota Wine. Karena settingnya di Kota Wine, maka tentu saja kita juga akan diberitahu tentang wine itu sendiri, bahkan bagaimana berkebun yang baik, seperti yang ada di kutipan di bawah ini:

“Ekosistem yang baik membuat tumbuhan tidak rentan hama. Sebaliknya, bahan kimia hanya membuat tanaman rentan. Tidak heran mereka butuh osis yang lebih tinggi tiap tahunnya.” (Hlm. 171)

 Aku kurang tahu dengan Wine, tapi berkat novel ini, aku tahu tentang Wine meskipun sedikit. Apalagi ada kutipan begini:

“In Vino Veritas, kata orang. Di dalam wine terdapat kebenaran.” (Hlm. 178)

Kutipan tersebut provokatif sekali. Sayangnya, aku tidak mau mencoba wine untuk membuktikan itu, hehehe.
Sudut pandang di novel ini adalah sudut pandang orang ketiga, namun berasa aku-annya Roz. Hal tersebut karena penjelasan di novel ini terfokus pada Roz, pikiran dan perasaan Roz lah yang banyak diketahui. Karena itulah, aku sering banget kesal dengan Roz. Aku kurang suka dengan karakter tokoh utama macam Roz ini. Meskipun dia mendapat julukan Miss Fix-it, untuk urusan cinta, terkadang dia plin-plan dan berspekulasi seenaknya sendiri.
Lalu, untuk tokoh prianya, menurutku khas novel-novel romance lainnya deh. Bedanya, di novel ini kedua tokoh utama prianya berhubungan dengan Wine. Sebenarnya, aku kurang suka dengan pria macam Bjorn. Dia terlalu mudah untuk akrab dan mendekati perempuan, playboy banget rasanya. Sedangkan untuk Dagny, aku suka dengan penggambarannya. Dia sosok yang misterius dan menarik untuk dicaritahu, sebenarnya.
Untuk chemistry-nya sudah dapet, sih. Tapi, hanya saat Roz-Dagny saja, kalau dengan Bjorn aku kurang suka karena yaa... seperti alasanku di atas tadi. Nuansa romantis di novel ini benar-benar terasa, apalagi saat mereka turun ke ruang bawah tanah.
Gaya bahasa di novel ini santai dan ringan. Namun, aku agak kurang sreg dengan gaya bahasanya. Hal itu dikarenakan, aku merasa gaya bahasa yang santai ini lebih cocok untuk setting dalam negeri. Lalu, untuk penulisan seruan yang dikapital semua itu juga agak kurang enak aja dibaca. Seperti di halaman 125: “AKU TIDAK BUTUH BOLA DARIMU!”. Ini selera pribadi aja, sih. Lalu, masih ada kesalahan penulisan juga, mohon di cetakan selanjutnya, kesalahan ketiknya diperbaiki. Seperti di halaman 252 ‘nomer’, halaman 281 ‘tertap’, dan lain-lain.
Alur novel ini agak cepat sehingga ada bagian yang kurang tereksplor seperti konflik antara Dagny dan Bjorn. Terabaikannya hal tersebut, mungkin karena penulis lebih terfokus pada konflik lain di cerita ini. Aku merasa bila penulis terkadang terlalu over membahas suatu hal, namun kurang membahas hal lain. Bila konflik antara dua pria itu lebih tereksplor, maka akan lebih baik lagi.
Hmm, aku sempat stuck membaca novel ini karena ... aku sempat merasakan apa yang Roz rasakan. Untuk menghalau perasaan sebalku itu, aku biarkan diriku tidak membaca terlebih dahulu daripada perasaan sebal itu merembet di novel ini. Dari novel ini aku sadar bahwa terkadang hal seperti ‘ketikung rejekinya’ oleh orang lain itu bisa saja terjadi. Rasanya sakit sekali. :’)
Overall, kisah ini benar-benar menarik untuk dibaca. Dengan citarasa wine dan suasana Langenlois-nya, novel ini menjadi sangat menarik dan memaksa untuk diselesaikan. Recommended deh bagi kalian yang ingin tahu tentang wine atau ingin membaca novel dengan setting yang anti-mainstream.
Blue Vino got 3 of 5 stars.


XOXO
PutriPramaa

2 komentar:

 
La Distances Blog Design by Ipietoon