[Book Review] To All The Boys I’ve Loved before by Jenny Han





Judul : To All The Boys I’ve Loved Before
Pengarang : Jenny Han
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Penerbit : Penerbit Spring
ISBN : 978-602-71505-1-5
Edisi : Cetakan I, April 2015
Jumlah Hlm : 380 hlm
***
“Surat-suratku membebaskanku. Atau paling tidak, seharusnya itulah fungsi mereka.” (hlm. 5)
Novel ini dimulai dengan sebuah prolog yang menceritakan kebiasaan si tokoh utama, yaitu Lara Jean Song Covey, menyimpan barang-barang berharganya di kotak topi yang diberikan oleh ibunya. Benda paling berharga Lara Jean adalah surat-suratnya pada orang-orang yang disukainya, yaitu Josh Sanderson (pacar kakaknya), Peter Kavinsky (mantan pacar sahabatnya), John Ambrose (sahabat kecilnya), Lucas, dan Kenny. 

Lara Jean tinggal bersama ayahnya, kakaknya (Margot), dan adiknya (Kitty), ibunya telah meninggal. Diceritakan bahwa Margot pergi ke Skotlandia untuk kuliah Antropologi di sana. Lalu ... dimulailah segalanya!
“Kalau kau milikku, aku tidak akan pernah putus denganmu, sampai kapan pun.” (hlm. 64)
Sebelum Margot pergi ke Skotlandia, Margot memutuskan hubungan dengan Josh. Berulangkali Lara Jean menyayangkan putusnya hubungan Margot dan Josh. Meskipun ia menyukai Josh, ia tak ingin Margot tidak bahagia. Tapi, dengan putusnya mereka, semakin rumitlah perasaan Lara Jean.
Cerita berlanjut pada terkirimnya surat-surat itu pada lima orang tersebut. Lara Jean bingung harus bagaimana. Dia mendapat pandangan tajam dari Peter karena apa yang ditulisnya, mendapat serentetan pertanyaan dari Josh, Lucas yang justru memberi ‘reaksi positif’. Semuanya membuat Lara Jean bingung setengah mati apalagi di antara lima orang itu, Lara Jean masih menyukai Josh. Jadi, terbentuklah sandiwara Lara Jean dengan Peter Kavinsky untuk membuat semuanya kembali normal bersama orang yang disukainya itu dan Peter ingin menyulut api cemburu untuk mantan kekasihnya, Gen. Dengan adanya sandiwara itu, dimulailah babak baru di kehidupan Lara Jean.
“Atau mungkin aku tidak mengharapkannya, karena terkadang menyenangkan rasanya menjadi satu-satunya orang yang mengetahui sesuatu.” (hlm. 172)
Dalam sandiwaranya itu, Lara Jean harus meyakinkan perasaannya sendiri. Banyak sekali hubungan antara kisah masa kecil Lara Jean bersama sahabatnya (Gen dan Chriss) di novel ini. Siap-siap saja dengan kisah sahabatan ala anak kecil (nggak kecil-kecil amat sih sebenarnya) yang menggemaskan. Lalu, bagaimana kelanjutannya? Apa Lara Jean berhasil melaksanakan misinya? Bagaimana dengan Margot, Josh, dan Peter?
“Karena kau mengenalku, kau mengenalku lebih baik dari siapa pun dan kau tidak mencintaiku.” (hlm. 240)
“Jangan biarkan dia menyadari kalau kau merasa kecewa.” (hlm. 277)
Nah, ini novel pertama Jenny Han yang aku baca. Semula, alur novel ini lambat sekali, aku sampai menyimpannya di urutan kedua tumpukan novelku karena perkenalan Lara Jean dengan pembaca terlalu lama, apalagi aku masih belum terbiasa dengan aku-an Lara Jean yang (awalnya) menurutku buang-buang kertas banget karena segala hal selalu dijelaskan oleh Lara Jean. Namun, memasuki bagian ketika Margot berangkat ke Skotlandia, aku semakin memacu kecepatan membacaku untuk novel ini karena perlahan-perlahan konflik mulai hadir dan novel ini menjadi lebih menarik.
Novel ini menceritakan kehidupan SMA di Virginia. Kupikir segmen pembacanya adalah remaja karena kehidupan SMA yang dibahas, tapi setelah aku browsing fancasting di internet, novel ini tergolong young-adult yang berarti dewasa muda. Di luar negeri emang nggak ada teenlit sih xD Memang, untuk apa yang digambarkan di novel ini, novel ini tidak ditujukan pada remaja melainkan dewasa muda.
Karakter dari setiap tokoh di sini benar-benar membuatku terhanyut, aku sampai bergabung dengan website fancasting untuk ikut memilih tokoh idaman untuk Lara Jean, dan tokoh lainnya bila novel ini difilmkan (katanya sih memang mau difilmkan). Itu sudah menunjukkan bahwa penggambaran setiap karakternya kuat sehingga membuat kita semua nggak luput begitu saja dengan tokoh-tokohnya, Lara Jean yang terkadang suka bingung, Peter yang kepedean, Josh yang terkadang iri, Kitty yang menggemaskan, dll. Overall, aku suka dengan penokohannya yang kuat!
Lalu, untuk ending novel ini benar-benar ciamik, rasanya cocok banget untuk dijadikan ending dan menuntut saya sebagai pembaca mengeksplorasi kisahnya. Oh, ya, novel ini memiliki sekuel, jadi jangan khawatir dengan ending To All The Boys I’ve Loved Before ini! Nggak mungkin digantungin begitu aja kok endingnya. :D
Kalau untuk kaver novelnya, udah nggak usah banyak ha-ho, kavernya keren banget! Apalagi covernya sama dengan versi inggrisnya di sana. Font yang digunakan untuk judulnya juga keren, terkesan seperti tulisan menggunakan spidol.
Ketika membaca novel ini aku membayangkan visual setiap tokohnya, kurang lebih seperti ini:
Lara Jean (Chelsea Zhang)
Josh Sanderson (Ansel Elgort)
Peter Kavinsky (Manu Rios)
Kitty (Suri Cruise)
Margot (Lana McKissack)
Gen (Dianna Agron)
 “Cinta itu menakutkan. Cinta berubah. Cinta tidak bisa menghilang. Itulah bagian dari risikonya. Aku tidak ingin merasa takut. Aku ingin berani.” (hlm. 376)
“Dan aku yakin, tiba-tiba aku merasa sangat yakin bahwa semua terjadi seperti yang seharusnya terjadi, bahwa aku tidak harus takut pada perpisahan, karena perpisahan tidak selalu untuk selamanya.” (hlm. 376)
Novel ini benar-benar kurekomendasikan bagi orang-orang yang menyukai bacaan ringan kisah cinta pertama dengan setting luar negeri. Dan, semoga film-nya cepat rilis, nggak sabar ngelihat Peter Kavinsky yang ganteng versi filmnya :D
To All The Boys I’ve Loved Before get 4.5 of 5 stars!


Cheers,
Putri Pramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon