[Book Review] Mencari Sebuah Titik by Torianu Wisnu




 

Judul                   : Mencari Sebuah Titik
Pengarang           : Torianu Wisnu
Penerbit              : Quanta [Imprint Penerbit PT Elex Media Komputindo]
ISBN                  : 978-602-02-7217-7
Edisi                    : Cetakan I, 2015
Jumlah Hlm          : 160 hlm
How I Get           : Gift from #LiveInterview with @atriasartika
***
Ada 24 titik yang menjelaskan tentang pemikiran-pemikiran Genta bebarengan dengan pemikiran ‘saya’ di buku ini. Buku ini... aku kurang tahu harus menyebutnya novel atau buku nonfiksi. Novel ini lebih mirip dengan nonfiksi, namun penulis mejelaskan semuanya dengan tokoh. Novel ini benar-benar unik.
Dari 24 titik, aku suka dengan pembahasan mengenai air di titik keduapuluhtiga. Di situ genta berbagi cerita tentang air di diri kita; air mata dan keringat. Dari situ kita diajari tentang kehidupan, bagaimana kita seharusnya bersyukur, dll.

Selain itu, aku juga suka dengan titik kedua, yaitu Mahar Buku. Bagian ini unik sekali, ada semacam form tempat kita menuliskan nama kita, nama pasangan, dan lain-lainnya. Aku benar-benar antusias, maksudnya untuk seru-seruan semata. Ini unik sekali.
Novel ini dipenuhi dengan pembelajaran tentang hal-hal yang sering terlewat. Kita bisa banyak belajar dari buku ini. Berikut akan aku berikan sedikit kutipan-kutipan dari buku ini, sedikit banyak bisa menggambarkan buku yang menginspirasi ini.

“Sedalam-dalamnya bumi masih bisa digali. Tapi soal hati siapa yang tahu?” (Hlm. 14)
“Aku adalah aku, aku tak bisa menjadi kamu. Jika kamu ingin menjadi seperti aku, itu adalah terserah padamu.” (Hlm. 26)

“Segala bentuk peristiwa yang terjadi pada diri kita adalah atas dasar keputusan demi keputusan yang kita buat.” (Hlm. 30)

“Segala sesuatu tetap ada jalan keluarnya, kebuntuan itu ada hanya ketika kita benar-benar berhenti.” (Hlm. 55)

“... kita harus tetap menyediakan waktu penuh untuk diri kita sendiri. Untuk mengejar yang kita sebut dengan cita-cita....” (Hlm. 80)

“Saya tidak boleh menempatkan ikhlas di depan. Jika ikhlas menempati urutan pertama, maka saya pastikan diri saya ini cuma akan berleha-leha, karena meyakini bahwa inilah takdir-Nya.” (Hlm. 145)

“Gagal memahami keadaan adalah gagal untuk mengambil tindakan.” (Hlm. 152)
Kupikir kutipan yang kuberikan itu sudah lumayan banyak. Buku dengan tebal 180 halaman ini secara tidak langsung akan menyuntikkan hal positif pada pikiran kita. Oh ya, di buku ini terdapat sindiran berikut:
“Eksistensi seorang pria itu ditunjukkan dengan sebuah karya. Malunya seorang pria itu ditaruh paling belakang.” (Hlm. 63)

Ini nih ada Book Trailer untuk buku ini. Monggo ditonton :)


3 bintang untuk Mencari Sebuah Titik!



Cheers,
Putri Pramaa


0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon