[Book Review] The Long Goodbye by Ida R. Yulia



 
Judul                   : The Long Goodbye
Pengarang           : Ida R. Yulia
Penerbit              : Grasindo
ISBN                  : 978-602-375-210-2
Edisi                   : Cetakan I, Oktober, 2015
Jumlah Hlm         : 194 hlm
How I Get          : Giveaway Gift by Ida R. Yulia
***
The Long Goodbye mengkisahkan tentang seorang cowok blasteran Korea-Rusia berusia 16 tahun bernama Pavel Andreyev bersama ibunya yang menderita Alzheimer Early Onset. Alzheimer Early Onset sendiri adalah penyakit pikun yang diderita oleh seseorang di usia yang masih muda atau sebelum penderita berusia 65 tahun.
Sebelumnya, Pavel tinggal di Rusia dengan tenang. Namun, karena perceraian orangtuanya di usianya yang 11 tahun, Pavel harus hijrah ke Korea dan tinggal bersama ibunya. Semula, semuanya baik-baik saja, tetapi kebahagiaannya mulai surut dua tahun ini. Ibunya ... perlahan melupakannya.

Dengan Alz Early Onset yang dideritanya, ibunya sering salah mengiranya. Pavel selalu khawatir akan ibunya hingga akhirnya bocah itu memutuskan untuk lebih sering bersama ibunya. Lalu, hadirlah seorang cewek blasteran Korea-Rusia, yang membuatnya ‘mendadak’ menjadi ketua kelas. Pavel berusaha menutup-nutupi tentang ibunya, tetapi pada akhrinya semua terbongkar. Usaha Pavel berlanjut hingga pada akhirnya ia harus sadar akan ‘goodbye’ yang tak kunjung usai antara dirinya dan ibunya. Bagaimana kisah Pavel secara lengkap? Silakan baca The Long Goodbye sendiri. :p
***
Begitu novel ini tiba di rumah, aku segera membuka bungkusnya, foto-fotoin bunya sebentar, lalu mulai membaca. Sebelumnya, kisah Pavel dan ibunya ini pernah Mbak Ida bagikan di facebook sebanyak lima bab (kalau tidak salah). Dan aku menjadi salah satu pembaca kisah tersebut di facebook. Kemudian, Mbak Ida memberitahu bahwa naskah itu menjadi salah satu naskah pilih PSA3, dan post cerita tersebut dihentikan.
Novel ini adalah novel kelima Mbak Ida yang kubaca dan aku semakin suka dengan kefokusan Mbak Ida untuk menulis genre keluarga atau psikologi remaja.

“Senyum tidak menjadikanmu hamba sahaya di Korea.” (Hlm. 100)

“Ketika jatuh cinta seorang gadis bisa terlihat dari senyumnya, sedangkan cowok dari tatapannya.” (Hlm. 111)

“... pemuda yang memperlakukan ibunya seperti ratu, pastilah akan memperlakukan wanita yang dicintainya seperti putri raja.” (Hlm. 118)

“ ... dan kecewa lebih menyakitkan daripada marah.” (Hlm. 129)

Novel dengan tagline ‘Pemenang Pilihan PSA 3 Kategori Fiksi Remaja’ ini tidak mengangkat kisah cinta ala-ala remaja, melainkan kasih sayang antara ibu dan anaknya. Benar-benar anti mainstream. Novel ini mengajarkan pada kita tentang betapa berharganya keluarga yang kita miliki. Novel ini benar-benar penuh amanat tersirat.
Novel ini mengedepankan ‘family’ sebagai genrenya. Meskipun bukan kisah cinta-cintaan (you know what i mean), novel ini sukses mencuri hati. Penulis berhasil membuat kisah Pavel dan ibunya menjadi kisah yang dinanti-nantikan. Feelnya pun benar-benar terasa, sebagai seorang anak yang menyayangi ibunya, novel ini banyak membuat terharu.
Karena tokoh utamanya blasteran Korea-Rusia, jadi novelnya pun blasteran Korea-Rusia juga. Judul babnya saja memakai bahasa Rusia. Lalu, ada selipan perkataan dalam bahasa Rusia bahkan makanan khas Rusia. Jadi, novel ini bukan hanya mengusung rasa ‘Korea’ namun juga ‘Rusia’.
Latar ceritanya di Suwon, Gyeonggi-do. Seperti yang kita tahu, PSA 3 mengharuskan kisah Korea, jadi wajar saja bila latar tempatnya di Korea. Namun, keputusan penulis untuk memilih latar bukan di Seoul membuat novel ini nggak ‘kacangan’. Novel ini tidak terlalu menjelaskan detail tempatnya, namun, kurasa akan lebih baik untuk seperti ini saja daripada berfokus pada penjelasan detail tempat.
Aku suka dengan karakter Pavel. Dia remaja yang patut ditiru. Meskipun Pavel ada sedikit dendam dengan ayahnya, namun itu semata-mata karena ia menyayanginya dan kejengkelannya. Pavel ini memberikan banyak inspirasi. Lalu, ada ibu Pavel, yang seperti kita tahu sebelumnya, beliau mengidap Alz. Selain itu, Natalya—cewek blasteran Korea-Rusia—yang membuat lebih sadar Pavel. Porsi Natalya di novel ini tidak kurang dan tidak lebih, pas. Lalu, ada Ji Hoon dan Ha Na, sahabat Pavel yang agak somplak, menarik.

Dengan sudut pandang orang ketiga dan sesekali sudut pandang pertama dari pihak Eomma, penulis dengan mudahnya menjelaskan apa yang dilakukan setiap tokohnya. Di novel ini, aku sadar, pendeskripsian di tulisan Mbak Ida yang sekarang lebih berisi dibandingkan dulu. Namun, entah karena apa, aku lebih suka dengan cara menulis Mbak Ida di Hold My Hand Don’t Look Back, hehehe, lebih suka aja.
Alurnya campuran. Cerita ini berlangsung di tahun 2013, lalu pada bagian akhir pada tahun 2015. Entah kenapa, aku suka dengan tipe cerita yang seperti ini. Ending cerita ini agak ngeromance dikit, dan aku suka dengan penambahan unsur romance antar beberapa tokohnya ini.
Aku, calibri? Kekecilan pula, bacanya nggak jadi 30 cm dari buku deh. Lalu, pada halaman 132, ada kesalahan penulisan, di sana tertulis “milik punya beliau”, seharunya pilih salah satu saja. Aku memang kurang suka dengan ilustrasi novel PSA 3, terkadang ilustrasinya itu seperti dipaksakan dan timpang gimana gitu, tapi aku bersyukur karena ada ilustrasinya (daripada nggak ada? :p).
Kavernya ... PSA3 banget, setipe dengan novel pemenang lain, hehehe. Namun, bukannya rambutnya ibu Pavel harusnya lebih pendek daripada di kaver ya? Aku ngerasa rambutnya kepanjangan sih. Lalu, pilihan lapis-lapis ungu pada novel ini imut sekali. Kata penulisnya, warna ungu adalah warna kepedulian pada Alz, jadi cocok sekali dengan novel ini. Oh ya, kavernya nyebelin, lubang di kaver utama terasa mengganggu karena terlalu dekat dengan pinggirnya, jadi agak khawatir kavernya rusak. xD
Secara keseluruhan, novel ini patut dikoleksi. Novel ini penuh dengan amanat, khususnya kepada remaja yang terkadang ‘lupa’ pada orang-orang yang selalu menyayanginya. Novel ini benar-benar kurekomendasikan bagi siapa saja yang mencintai ibunya.
The Long Goodbye got  3.5 of 5 stars!


Cheers,
Putri Pramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon