[Book Review] Dae-Ho's Delivery Service by Pretty Angelia


This picture belongs to Putri Pramaa

 Judul : Dae-Ho’s Delivery Service
Penulis : Pretty Angelia
Penerbit  : Grasindo
Edisi : Cetakan Pertama, Agustus 2015
ISBN : 978-602-375-164-8
Jumlah Hlm  : 226 hlm

Blurb:

Han Dae-Ho, memutuskan tinggal sendiri di Seoul setelah ia mengetahui bahwa ia bukanlah anak kandung dari kedua orang tua yang ia sayangi. Dua bulan setelah menetap di Seoul, Dae-Ho mendapatkan pekerjaan sebagai pengantar surat. Dae-Ho akhirnya tahu ia bukanlah pengantar surat biasa. Choi Hyun-Ki, bosnya, menyuruhnya menjamin bahwa si penerima surat membaca surat itu. Karena surat-surat itu adalah surat-surat yang tidak pernah disangka akan didapatkan si penerima.
Dae-Ho sangat menikmati pekerjaannya. Meski begitu ia tetap sulit melupakan keluarganya yang selama ini menemani hari-harinya. Termasuk Hana, gadis blasteran Korea dan Amerika Serikat yang sangat disukainya. Semakin Dae-Ho lari dari masa lalunya, masa lalu itu justru tiba-tiba datang di hadapannya. Dae-Ho bertanya-tanya, mengapa ia memerankan sebuah drama yang tidak pernah ingin dilakoninya ini?


 Review:

“Sayangnya kekayaan itu tidak menjamin kebahagiaan yang kita inginkan, Dae-Ho.” (Hlm. 80)

Dae-Ho’s Delivery Service mengisahkan seorang pria yang baru saja lulus SMA bernama Han Dae-Ho yang bekerja sebagai pengantar surat. Menjelang kelulusannya, Jin-Kyong, ibu Dae-Ho, meninggal dunia dan ia harus menerima kenyataan pahit yang disimpan bertahun-tahun oleh orang tuanya itu. Dae-Ho memutuskan kabur ke Seoul setelah dia tahu bahwa dia bukan putra kandung dari keluarga yang mengasuhnya selama ini. Ia begitu terpukul dengan kenyataan tersebut, oleh karena itu, dia bertekad untuk meninggalkan Daegu—meninggalkan keluarganya dan orang yang disayanginya.
Sesampainya di Seoul, Dae-Ho hanya mengandalkan tabungannya untuk hidup. Namun, dua bulan setelah dia menetap di Seoul, Dae-Ho pun mendapat pekerjaan, yaitu pengantar surat. Menjadi pengantar surat dari proyek pribadi Cho Hyun-Ki—bosnya—benar-benar berbeda dengan pengantar surat biasa. Dae-Ho harus memastikan bahwa si penerima surat membacanya atau setidaknya si pengirim surat puas karena surat-surat yang diantarkannya adalah surat-surat yang istimewa.

“Karena ada sesuatu yang tidak bisa diungkap dengan kata....” (Hlm. 2)

“Ya, karena zaman sudah semakin maju, komunikasi melalui surat pun sudah ditinggalkan.” (Hlm. 29)

Pada proyek pribadi tersebut, Han Dae-Ho adalah satu-satunya kurir sehingga dia harus mengantarkan surat-surat ke segala penjuru Korea Selatan. Secara tidak langsung, cita-cita Han Dae-Ho untuk berkeliling Korea perlahan terwujud. Seoul, Gwangju, Ulleungdo, Busan, Incheon bahkan Daegu dia kunjungi untuk mengantarkan surat. Benar-benar menyenangkan!

“Saya selalu senang melihat orang-orang di sekitar saya terlihat bahagia.” (Hlm. 14)

Mengantarkan surat-surat tersebut membuat Dae-Ho harus ikut menyelesaikan masalah dari si penerima. Dengan menyelesaikan permasalahan mereka Dae-Ho sempat melupakan masalahnya sendiri. Namun, siapa sangka bila ternyata surat-surat itu juga yang membuatnya tertampar akan kehidupannya sendiri? Surat itu mengingatkan Dae-Ho akan masa lalunya di Daegu. Dae-Ho harus menghadapi masa lalunya.
Akan tetapi, hidup selalu penuh kejutan. Dae-Ho tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hidupnya yang kian lama semakin rumit bersama masa lalunya. Bagaimana Dae-Ho menghadapi masa lalu yang kembali melanglang buana di kehidupannya? Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan Dae-Ho di Daegu?
Source: here Edited by me
Dae-Ho’s Delivery Service adalah novel pemenang utama kategori Fiksi Dewasa #PSA3 yang diadakan oleh Penerbit Grasindo. Ini adalah novel pertama Pretty Angelia yang kubaca. Mengusung rasa Korea, novel ini sukses membuat pembaca ikut jalan-jalan di Korea dan mencicipi rasa Korea itu sendiri melalui dunia khayalan pembaca. Dan aku merasa beruntung menjadi salah satu pembaca tersebut.
Membaca novel ini benar-benar menyenangkan. Kisah Dae-Ho tidak diceritakan secara terburu-buru, perlahan-lahan namun pasti Dae-Ho membuat pembacanya terhanyut pada kisahnya. Sebenarnya, Dae-Ho’s Delivery Service memuat beberapa sub-cerita dari para penerima surat yang Dae-Ho antarkan. Hal itu, membuat konten pada Dae-Ho’s Delivery Service lebih berisi. Sub-cerita tersebut terselesaikan tanpa terburu-buru. Dari sub-cerita tersebut, aku paling menyukai bagian Teman Terbaik yang menceritakan seorang anak cacat dengan anjingnya. 
Anjing jindo (source: here)
Menurutku, tema utama yang penulis angkat di novel ini adalah kesabaran dan kegigihan. Dari kisah Dae-Ho, pembaca diajak untuk lebih bersabar dan lebih gigih untuk menjalani peliknya kehidupan. Ada begitu banyak masalah di dunia ini yang lebih berat daripada masalah kita sendiri. Pada setiap sub-cerita, tema yang diangkat berbeda, ada yang menceritakan kesetiaan, persahabatan, kasih sayang, dll. Dengan mengangkat kisah multi konflik seperti ini, penulis berhasil membangkitkan semangat para pembacanya.
Novel ini tidak terlalu mengedepankan unsur romance. Hal ini bisa dilihat dari kisah Dae-Ho yang tak terlalu banyak mengekspos perasaan sukanya pada Hana. Penulis hanya menyinggung-nyinggungnya sedikit, dan itu yang membuat kisah Dae-Ho dan Hana menggemaskan! Aku suka dengan karakter Hana meskipun dia hanya disinggung sedikit, dia digambarkan sebagai seorang gadis yang sabar dan tenang. Penulis berjibaku dengan unsur keluarga dengan menjejalkan banyak nasihat-nasihat baik tentang menghargai orang lain, menyayangi orang tua, dll. Aku suka dengan novel yang sarat makna seperti ini.
Ada begitu banyak kata-kata yang bermakna dan memotivasi di novel ini, berikut ini di antaranya:

“Aku baru menyadari ternyata dilupakan itu lebih menyakitkan dibanding ditinggalkan dan dikhianati.” (Hlm. 46)

“Namun Dae-Ho sadar, begitu banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang....” (Hlm. 67)

“Baginya, meski kebohongan dilakukan demi kebaikan, kebohongan tetaplah kebohongan. Kebohongan akan membuat pedih hati yang dibohongi.” (Hlm. 70)

“Namun percuma, air mata tetap air mata, tidak akan pernah bisa menghapuskan penyesalan.” (Hlm. 147)

“Sepertinya kau sedang jatuh cinta pada seseorang, tapi kau sengaja menampiknya sehingga kau tidak jujur pada dirimu sendiri.” (Hlm. 162)

“Cinta yang terlambat disadari itu memang berbahaya. Jadi, kalau kau punya orang yang sangat kau cintai, jangan pernah meninggalkannya, nanti malah kau yang ditinggalkan.” (Hlm. 162)

“Kau tahu mengapa banyak orang yang memilih tidak menyelesaikan masalahnya? Karena mereka lari dari kenyataan. Kenyataan memang menyakitkan untuk diketahui, Dae-Ho. Namun kenyataan membuat kita lebih manusiawi dan peduli pada diri sendiri, lalu kau pun jadi peduli dengan orang lain.” (Hlm. 209-210)

Tokoh di novel ini sebenarnya lumayan banyak. Namun, tokoh yang selalu diulik di kisah ini adalah Han Dae-Ho dan Choi Hyun-Ki. Dae-Ho digambarkan sebagai orang yang ceplas-ceplos dan penuh semangat, sangat cocok dengan pekerjaan yang digelutinya. Lalu, Choi Hyun-Ki digambarkan sebagai seorang pria tua yang mengayomi dan bijaksana, paduan cocok dengan Dae-Ho. Selain mereka berdua, ada tokoh-tokoh lain yang turut membangun cerita ini, antara lain: Jin-Kyong, Jung-Hwa, Mee-Yon, Hana, Cho-Hee, Sang-Min, Yun-Hee, Da-hee, Joo-Eun, dll.
KTX (source: here)
Latar tempat novel ini di Korea Selatan (tentu saja). Pembaca diajak berkeliling Korea Selatan, yaitu: Seoul, Busan, Gwangju, Daegu, Ulleungdo, dan Incheon. Biasanya, Dae-Ho akan menaiki KTX  untuk pergi ke luar Seoul. Sayangnya, penggambaran latar tempatnya tidak terlalu terasa. Penulis cenderung untuk ‘tell’, bukan ‘show’. Ekspektasiku, aku akan diperkenalkan dengan bagaimana keadaan tempat-tempat tersebut, ciri khasnya, keunikannya, dll.
source: here edited by me
source: here edited by me
source: here edited by me
source: here edited by me
source: here edited by me
source: here edited by me
Cerita berlangsung di tahun 2014 dan dengan epilog (menurut prediksiku) di tahun 2015 atau di masa depannya lagi. Dengan alur campuran, terkadang pembaca dibawa kembali ke masa lalu Dae-Ho di Daegu. Selain itu, di kisah-kisah setiap penerima surat pembaca terkadang dibawa ke masa lalu antara penerima surat dan pengirim surat. Namun, aku menemukan sesuatu yang agak kurang sreg bagiku. Pada kisah Cinta Datang Terlambat, dikisahkan si tokoh pria mengenal si tokoh perempuan pada saat berusia 16 tahun, tetapi di halaman selanjutnya, dijelaskan lagi bahwa di tokoh pria mencintai si tokoh perempuan sejak berusia 14 tahun. Ini nih yang aku agak nggak sreg, tapi aku ber-possitive thinking bahwa mungkin saja si tokoh pria ini semula jatuh cinta pada orang asing yaitu tokoh perempuan tersebut. Bila memang begitu, akan lebih baik lagi bila diberi penjelasan sedikit saja tentang itu. 
Pantai Sokcho (Source: here)
Blue House (source: here)
Bundang Memorial Park (Source: here)
COEX Mall (source: here)
Rumah Sakit Universitas Seoul (Source: here)
 Di novel ini, pembaca juga dikenalkan dengan kuliner Korea, contohnya bibimbap, chajangmyeon, dan bungeoppang. Saat bagian kuliner ini, lagi-lagi penulis hanya menyebutkan, tidak menjelaskan bagaimana rupa makanan tersebut. Andai penulis menjelaskan sedikit tentang kuliner tersebut, novel ini akan lebih terasa lagi Korea-nya! 
bungeoppang (source: here)
bibimbap (source: here)
chajangmyeon (source: here)

Bahasa yang digunakan di novel ini sangat luwes dan mudah dimengerti. Sayangnya, untuk kisah dengan tokoh utama bukan orang Indonesia, aku lebih suka bila gaya bahasa yang digunakan adalah baku, khas terjemahan. Namun, novel ini tidak begitu. Ini tergantung selera masing-masing, sih. Tidak masalah juga sih, aku masih menikmati ceritanya. Karena Dae-Ho’s Delivery Service adalah novel dengan rasa Korea, tentu saja, ada banyak potongan-potongan kalimat dengan bahasa Korea, seperti: Annyeong haseyo, yeoboseyo, Joheun achimieyo, dll.
Masih terdapat kesalahan-kesalahan teknis di novel ini. Mungkin karena waktu mengeditnya sudah mepet atau yang lainnya. Aku masih menemukan kesalahan ketik, seperti:
Pada halaman 12, kata ‘terlanjur’ seharusnya ditulis ‘telanjur’.
Pada halaman 25, kata ‘Marsha’ seharusnya ditulis ‘Masha’.
Pada halaman 61, kata ‘termannya’ seharusnya ditulis ‘temannya’.
Pada halaman 114, kata ‘trenyuh’ seharusnya ditulis ‘terenyuh’.
Pada halaman 143, kata ‘membucah’ seharusnya ditulis ‘membuncah’.
Pada halaman 187, tertulis ‘Hannyoung’ tetapi pada halaman 190 tertulis ‘Hannyang’.
Pada halaman 131, tertulis ‘Hyung-Jun’, tetapi nama yang sebenarnya adalah ‘Hyung-Jung’.
Dan lain-lain. Lalu, untuk penulisan nama, akan lebih baik bila penulisan nama tersebut konsisten. Bila Dae-Ho ditulis dengan ketentuan ada strip memisahkan dua suku kata tersebut dan setiap suku diawali dengan kapital, maka penulisan nama yang lain haruslah sama seperti itu. Tetapi, di novel ini, terkadang penulisan namanya berbeda-beda, ada yang ‘Min Ho’, ‘Sara’, dan ‘Da-hee’. Sebenarnya, permasalahan seperti kesalahan ketik tidak terlalu menganggu, tetapi, bagiku terkadang hal ini mengganggu karena mengganggu konsentrasi membaca sih. Jadi, kuharap pada cetakan selanjutnya (semoga akan ada cetakan kedua dan seterusnya), akan ada perbaikan untuk kesalahan ketik seperti itu.
Ada banyak kejutan dengan plot kisah ini. Penulis berhasil menyimpan semua rahasianya dan dengan tidak terburu-buru, diungkaplah banyak misteri-misteri itu; siapa Choi Hyun-Ki, serta alasan Dae-Ho kabur ke Seoul. Sebagian besar dari misteri itu benar-benar tak kuduga. Aku nggak nyangka bakal sekompleks itu. Namun, untuk plot-twist tentang alasan Dae-Ho kabur ke Seoul itu sebenarnya bisa penulis simpan dengan baik hingga menjelang akhir, sayangnya blurb telah mengungkapkannya dengan gampangnya. Padahal, kurang lebih separuh novel tidak menjelaskan alasan Dae-Ho kabur ke Seoul.
Endingnya tidak terduga. Aku suka dengan endingnya. Dengan epilog yang ‘menggemaskan’ di masa depan, Dae-Ho’s Delivery Service sukses kututup dengan senyuman bahagia. Sebagai pembaca, aku puas dengan endingnya.
Di novel ini terdapat ilustrasi di setiap pembuka bab. Contohnya pada halaman sebelum bab pertama, terdapat ilustrasi layar dengan tulisan ‘REQUIRE NOW’. Ilustrasi untuk novel #PSA3 sepertinya digambar oleh orang yang sama, gaya menggambarnya sama. Aku suka dengan ilustrasi Dae-Ho’s Delivery Service ini karena di sini tidak banyak ditampilkan ilustrasi manusia. Menurutku, ketika menggambarkan manusia, ilustrasinya benar-benar tidak cocok dan terkesan seperti ilustrasi teenlit, padahal ini fiksi dewasa loh.
Kavernya novel ini menarik sekali. Dengan ‘jendela’ berbentuk lingkaran, novel ini berbeda dari kebanyakan novel. Aku bersyukur lubangnya tidak terletak terlalu di pinggir, karena bila diletakkan terlalu di pinggir, membacanya benar-benar tidak nyaman. Warna latar biru dan kuning membuat novel ini benar-benar minta dilirik. Apalagi, gambar pria berkacamata dengan motor itu benar-benar menggambarkan Dae-Ho. Namun, ada yang mengganjal bagiku, di motor Dae-Ho ada semacam kertas bertuliskan huruf hangeul yang dibaca taekbae, nah, apa maksud taekbae di situ? Ada yang mau memberitahu?
Overall, novel ini adalah novel yang patut dikoleksi karena pembaca dibuat lebih sadar tentang hidup. Novel ini benar-benar kurekomendasikan bagi orang-orang yang suka dengan cerita jalan-jalan dengan ‘banyak’ masalah. Menarik sekali untuk dibaca! Menghibur! Read it, Guys!
Dae-Ho’s Delivery Service got 3.5 of 5 stars!


Cheers,
Putri Pramaa


0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon