[Book Review] Cermin Tak Pernah Berteriak by Ida R. Yulia



Sumber: goodreads



Judul                   : Cermin Tak Pernah Berteriak
Pengarang           : Ida R. Yulia
Penerbit              : Elex Media Komputindo
ISBN                  : 978-602-02-6640-4
Tahun Terbit        : 2015
Jumlah Hlm         : 291 hlm
How I Got          : Beli di Togamas Probolinggo (Rp. )
***
 Cermin Tak Pernah Berteriak berfokus tentang kehidupan Ega bersama ayahnya yang agak ‘berbeda’ pasca meninggalnya sang ibu. Semula, kehidupan Ega benar-benar menyenangkan; memiliki ibu yang baik, adik yang lucu, serta teman-teman yang selalu peduli. Namun, sejak awal, peran ayah di mata Ega digambarkan agak kurang peduli pada Ega, buktinya pada saat penerimaan rapot bukan ayahnya yang menerimanya, melainkan ibunya—yang berujung pada kecelakaan bersama adiknya.
Setelah meninggalnya sang ibu dan adik perempuannya, Ega benar-benar terpukul. Dia menjadi sosok yang mengurung diri di kamar, bahkan memuntahkan makanan yang dimakannya. Sang ayah pun sama terpuruknya dengan Ega, dia semakin murung, pendiam, bahkan terkadang berhalusinasi tentang istrinya.

Kemudian, hadirlah sosok dari masa lalu Baskoro—ayah Ega—yaitu Jonathan yang membuat kepribadian yang selama ini ‘tidur’ di jiwa Bas kembali bangkit. Baskoro adalah seorang biseksual yang menyukai crossdressing. Bas kembali mencoba untuk mengenakan pakaian-pakaian Alia—istri Bas. Hadirnya Jonathan membuat kehadiran sosok Ayah di hidup Ega semakin pudar, ayahnya semakin tidak memedulikannya.
***
Novel ini mendarat di tasku saat aku lagi sumpek-sumpeknya dengan kegiatan anti-NAPZA di sekolah. Akhirnya, terbeli juga novel ini dan terbayar sudah rasa penasaranku tentang kisah Ega bersama ayahnya ini. Dan, aku nggak menyesal untuk novel LGBT pertama yang kubaca ini.
Ini adalah novel keempat Miss Ida a.k.a Mbak Ida yang kubaca dan masih mengangkat tema yang sama dengan sebelum-sebelumnya, yaitu keluarga. Lebih tepatnya di novel ini berfokus pada biseksual dan bagaimana reaksi seorang remaja 15 tahun tentang hal itu. Masih mengusung unsur psikologi seperti novel-novel Miss Ida yang lain.
Tokohnya adalah Agasthya Ega Baskoro—remaja 15 tahun yang bersekolah di MAN 1 Yogyakarta—dan Baskoro—ayah Ega yang seorang biseksual yang sering melakukan crossdressing. Lalu, ada Jonathan—pria yang jelas-jelas penyuka sesama jenis yang bertemu dengan Baskoro di London. Ada juga, Kak Wedha—kakak kelas di ekstra PMR, Risma—cewek yang disukai Ega, Pak Harjo, Hendi—tukang masak di rumah Ega yang selalu berusaha memasak sebaik-baiknya, dan tokoh-tokoh lainnya.
Karakter Ega di Cermin Tak pernah Berteriak ini, menurutku, di beberapa bagian terlalu menye, tetapi di bagian lainnya tampak sangat mengesankan—tegar, keren, loveable. Kehadiran Risma membuat kisah ini seperti kebanyakan kisah ‘real’ dari remaja-remaja sekarang ini—gemesin xD Risma membuat cerita ini menjadi lebih menarik.
Latar tempat ceritanya di Yogyakarta. Sepertinya, penulis benar-benar melakukan riset untuk latar tempatnya. Seperti MAN 1 Yogyakarta—yang merupakan sekolah Ega—yang dijelaskan juga tentang nama ekstranya. Dengan begitu, kisah ini seakan-akan benar-benar terjadi.
Alurnya campuran. Terkadang pembaca dibawa ke masa lalu Baskoro di London—tempat segala jiwa sebenarnya Bas terungkap. Lalu, pembaca dibawa kembali ke masa sekarang di Yogyakarta bersama Ega dan kisahnya.
Kisah ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, meskipun terkadang-kadang menjadi sudut pandang orang pertama bila menyangkut Bas. Sebenarnya, dengan memfokuskan pada Bas seperti itu membuat kisah ini tidak sepenuhnya novel remaja. Yaah, walaupun dengan sudut pandang bas membuat pembaca lebih mengerti bagaimana masa lalu Bas.
Oh ya, di novel ini masih ada kesalahan ketiknya. Misalnya:
Pada halaman 132, “...tartuh di bawah deh, Mas.”
Lalu, kesalahan ketik untuk ‘nggakun’ yang seharusnya gaun, ‘nggakwang’ yang seharusnya ‘gawang’, dan ‘nggakmang’ yang seharusnya gamang. Menurutku, kesalahan ketik ini dikarenakan penggunaan CTRL+H dari ‘ ga’ di-replace menjadi ‘ nggak’ (kesalahannya setipe sih, hehehe).
Aku suka dengan selipan-selipan sajak Sapardi Djoko Damono di novel ini, setidaknya aku tahu sedikit sajak-sajak dari beliau. Yang paling aku suka adalah ‘Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi.’. Judul novel ini pun merupakan sajak dari Sapardi Djoko Damono, aku suka sekali. ^_^
Covernya terlalu bagaimana gitu. Bagiku sih, bikin ilfeel xD. Apalagi, posenya agak nyebelin gimana gitu. Covernya memang menggambarkan novel ini, sih, hanya saja art-nya kurang halus. Tapi, ingat-ingat ini: don’t judge book by its cover.
Di novel ini, ada petikan seperti ini: “Semua kenakalan remaja berawal dari ketidakpatuhan anak pada orangtuanya.” (hlm. 197) So, remaja(s) (bukan hanya remaja aja, sih) patuhi orang tua yaa... Novel ini mengajarkan kita untuk menghargai, bersabar, dan menerima segalanya.
3 of 5 stars untuk Agasthya!


Cheers,
Putri Pramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon