[Book Review] And, Then... by Yuli Pritania




 

Judul                      : And, Then...
Penulis                  : Yuli Pritania
Penerbit               : Grasindo
Edisi                       : Cetakan pertama, September 2015
ISBN                       : 978-602-375-183-9
Jumlah Hlm         : 218 hlm.
Keterangan         : Beli di Togamas Probolinggo (Rp. 40.250)


“Jika akan terjadi kehancuran, maka aku bukan lagi sebagai objek, tapi sebagai subjek. Pelaku. Bukan lagi dihancurkan, tapi menghancurkan.” (hlm. 3)

Dimulai dengan prolog tentang kebencian Seo Jeong-Hoo pada semua orang yang telah membuatnya begitu menderita; ibu, ayah, istri baru ayahnya beserta anak-anaknya. Jeong-Hoo ingin membalaskan dendamnya pada mereka semua. Jeong-Hoo ingin mereka merasakan penderitaannya diusir dari rumahnya sendiri, ditinggal ibunya bunuh diri, dan berjuang mati-matian untuk hidup.
Jeong-Hoo kemudian memutuskan menjadi manajer Lee Jung-Ha, seorang artis papas atas Korea Selatan yang angkuh dan arogan namun semua orang tak bisa menampik bahwa dia adalah perempuan memesona dan menawan hati setiap pria. Tujuan utama Jeong-Hoo masih sama, yaitu membalaskan dendam pada Lee Jung-Ha (salah satu orang yang menurutnya menghancurkan hidupnya), gadis yang bersembunyi di belakang ibunya ketika dia diusir pergi dari rumahnya sendiri.
Lee Jung-Ha sering memiliki skandal. Dia terkena skandal bersama seorang pria yang mempunyai tunangan, bertengkar dengan senior, dll. Siapa sangka bila Jung-Ha ternyata terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai Jeong-Hoo. Gadis itu kerap menggoda Jeong-Hoo meskipun Jeong-Hoo hanya menunjukkan respon datar, sinis, atau mengejek. Tapi, Jeong-Hoo tetap berusaha untuk membalaskan dendamnya, ia tetap ingin menjadi subjek, yang menghancurkan.
Bagaimana kelanjutan kisah Seo Jeong-Hoo? Apakah ia berhasil membalaskan dendamnya? Kenapa dia ditinggalkan banyak orang? Lalu, bagaimana dengan Lee Jung-Ha? Apa dia berhasil memikat Jeong-Hoo? Jawabannya hanya satu, baca novel ini. :D

“Apa yang dilihatnya dengan mata, belum tentu merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Apa yang dia dengar, belum jelas salah atau tidaknya.” (hlm. 22)

And, Then... adalah novel keempat (review untuk novel lainnya menyusul) Yuli Pritania yang aku baca. Penulis yang awalnya kukenal dari dunia per-fanfiction-an ini memang telah menarik minatku sejak dulu karena gaya bahasanya yang menyenangkan.
Tapi, entah karena apa, aku merasa bahwa novel ini masih terasa fanfiction banget, mungkin karena novel ini adalah hasil jaringan #PSA3 yang berkonsep Korea Selatan, jadi ada beberapa yang terasa sekali citarasa fanfictionnya.
Dibandingkan novel Yuli Pritania yang sebelum-sebelumnya kubaca, novel ini adalah novel dengan konflik yang lebih berat dari novel-novel pendahulunya. Sebelumnya, Yuli Pritania biasanyanya menulis novel dengan konflik ringan yang manis. Konflik yang diangkat di novel ini memang sudah umum, ya, benci jadi cinta. Tapi, selalu ada cara dari Yuli Pritania untuk mengemas cerita ini menjadi lebih menarik, mengonsep suatu tema ‘benci jadi cinta’  dengan latar belakang dunia entertainment Korea. Selain itu, di novel Yuli Pritania ini banyak kalimat-kalimat yang bermakna sekali, seperti:

“Jika dia tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa, dia tidak akan pernah mau buka mulut, meskipun semua orang menuduhnya yang tidak-tidak.” (hlm. 21)

“Bahwa, tujuan hidupnya kini adalah mencari kebahagiaan.” (hlm. 36)

“Jadi apa yang membuatmu berpikir bahwa kau punya hak mengomentari kelakuannya kalau kau bahkan tidak kenal dia secara langsung dan tidak tahu apa yang sesungguhnya telah dia lakukan?” (hlm. 105)

“Bagiku, seseorang boleh-boleh saja memiliki masa lalu kelam, masa lalu yang tidak akan pernah bisa mereka perbaiki. Tapi mereka memiliki masa depan yang masih suci. Masa depan yang tidak melakukan kesalahan apa-apa. Masa depan yang bisa mereka ubah sesuai keinginan mereka. Caranya? Dengan menjalankan masa sekarang dengan sebaik-baiknya. Bersenang-senang dan berbahagia, seolah-olah kau akan hidup selamanya. Bekerja keras segiat-giatnya, seolah-olah hari esok tidak akan pernah ada.” (hlm. 128)

“Setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Kapan mereka ada di atas, kapan mereka di bawah. Kalau seseorang hanya bahagia dan tidak pernah pernah menderita, bisa-bisa mereka mati karena bosan.” (hlm. 160)

“Cinta memang membuatmu lemah. Tapi, di saat yang bersamaan, cinta juga membuatmu kuat. Dan tidak terkalahkan.” (hlm. 162)

Untuk penulisannya, hampir tidak ada salah pengetikan, yang kutemukan hanya kata ‘tampa’ yang seharusnya menjadi ‘tampak’ di halaman 116. Lalu, terkadang, aku merasa bingung dengan -nya yang dirujuk kepada siapa, aku harus membaca ulang kalau sudah bingung, mungkin aku yang kurang konsentrasi bacanya.
Untuk cetakannya, ada bagian yang terkadang kurang terang. Di punyaku, contohnya di halaman 188 dan 116, ada yang tercetak kurang terang.
Untuk ilustrasi di novel ini, aku benar-benar suka. Hanya saja, ketika menggambarkan Lee Jung-Ha dan Seo Jeong-Hoo malah kesannya seperti ilustrasi untuk novel teenlit, padahal novel ini tergolong fiksi-dewasa.
Endingnya agak mudah ditebak, tapi tidak mengecewakan. Lalu, ada kejutan juga dari salah satu tokohnya.
Cover depannya menarik, latar belakang warna hitam dan merah hati yang dipilih memang menggambarkan cerita yang sedikit dark. Tapi, Seo Jeong-Hoo di cover kurang macho dikit *ditampol* dan Lee Jung-Ha-nya kurang menawan hati *eaa* Oh ya, untuk bagian cover depan yang bolong, aku merasa terganggu, apalagi ketika membaca halaman-halaman awal karena khawatir covernya rusak ketika novelnya dibuka (beginilah orang yang terlalu overprotektif ke buku). Awalnya menurutku bakal seru kalau dibolongin begitu, tapi kalau bolongnya terlalu dekat dengan tepi jadi agak mengkhawatirkan kondisi novel.

Overall, kisah Seo Jeong-Hoo dan Lee Jung-Ha mendapat 3,5 of 5 stars!

Cheers,
Putri Pramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon