[Book Review] Berlabuh di Lindoya by K. Fischer

Judul                   : Berlabuh di Lindøya
Pengarang           : K. Fischer
Editor                  : Irna Permanasari
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
ISBN                   : 978-602-03-1866-0
Edisi                     : Cetakan I, 2015
Jumlah Hlm           : 280 hlm
How I Get            : Blogtour Berlabuh di Lindoya with Rizky Mirgawati
***
“Sebelumnya dunia kami tidak sama, sekarang pun tidak sama, dan aku yakin nanti pun tidak akan pernah sama.” (Hlm. 157)
    Berlabuh di Lindoya secara garis besar menceritakan kehidupan Sam pasca kepindahannya ke Pulau terpencil bernama Lindoya. Di pulau tersebut, ia memiliki tetangga bernama Rasmus, pria bermata biru yang pandangannya selalu menyedot orang yang melihatnya.
    Semula, Sam yang dipindahtugaskan ke Oslo mendadak kebingungan mencari tempat tinggal yang sesuai dengan ‘kriteria’nya. Sebelumnya, ia bekerja di Kutub, tidak memiliki tetangga yang banyak. Namun, kepindahan Sam ke ibukota Norwegia tersebut akhirnya tidak terlalu merepotkannya karena Inga menawarkan tempat tinggal di rumahnya di Lindoya. Sam—tentu saja—menyetujuinya.
   Bertetangga dengan Rasmus membuat Sam akhirnya membuka hatinya kembali untuk kembali ‘berinteraksi’ dengan lebih banyak orang. Karena suatu kejadian di masa lalu, Sam tidak pernah mau untuk berkumpul dengan banyak orang yang dapat membuatnya lengah. Selama beberapa tahun terakhir, Sam hanya hidup dengan luka batin yang menganga lebar karena ... masa lalunya.
    Ketika Sam merasa siap untuk kembali membuka hatinya dan menyingkirkan perasaan curiga kepada setiap orang, masa lalunya kembali datang, membuatnya harus menyelessaikan permasalahan di masa lalu yang belum usai. Mau tidak mau, ia harus menyelesaikan ‘masa lalu’nya. Lalu, bagaimana dengan Rasmus? Apa masalah yang membuat Sam begitu curiga pada setiap orang?
***
“Mengapa orang-orang di sekitarnya selalu mengaitkan hidup baru dengan menikah? Hanya itukah arti hidup baru?” (Hlm. 171)
“Yang aku tahu, kalau bisa menolong, mengapa tidak?” (Hlm. 180)
“Tidak mungkin kita melihat apa yang orang lain lakukan, apalagi kalau kita sudah sibuk sendiri dengan diri kita.” (Hlm. 184)
     Aku merasa beruntung menjadi salah satu pemenang blogtour novel ini. Novel ini benar-benar seru untuk dibaca. Berlabuh di Lindoya adalah novel yang manis sekaligus pahit. Sejak awal, pembaca sudah ditarik ke permasalahan baru dalam hidup Sam, yaitu: kepindahannya ke Oslo. Tidak terlalu banyak basa-basi dalam novel ini, namun, tidak terlalu cepat juga. Pas.
    Tema yang diangkat dalam novel Berlabuh di Lindoya ini adalah pemberdayaan perempuan. Tentang bagaimana seorang wanita harus dihormati oleh orang-orang. Bukan tentang prestise masing-masing wanita, melainkan tentang bagaimana kita seharusnya menghargai wanita, memperlakukan wanita, dan menghormatinya. Dan, novel ini sukses menggambarkan tema tersebut.
     Latar ceritanya menarik, yaitu Lindoya. Sebuah pulang kecil yang hanya ditinggali oleh sedikit orang saja. Di novel tersebut djelaskan bahwa Sam dan Rasmus bertetangga, hanya dua rumah—rumah kuning dan rumah biru—yang saling berdekatan. Penjelasan-penjelasan tentang tempat-tempat menarik di Oslo juga dijelaskan tanpa paksaan, tidak terkesan seperti reporter. Yang aku suka adalah kebiasaan Rasmus dan teman-temannya saat malam hari, entah kenapa aku suka saat mereka bersama-sama melakukan hal tersebut. Hal tersebut apa? Silakan baca sendiri :p
    Penokohannya, well done! Sam adalah seorang insinyur yang merantau ke utara dunia. Cerita lebih banyak menyorot Sam, jadi, karakter Sam lah yang lebih banyak dieksplor. Lalu, Rasmus..., dia pria yang baik, bukan pemaksa dan loveable sekali. Selain itu, ada Deri, Inga, Bunda, Knut, dll.
    Bahasa yang digunakan di novel ini benar-benar menyenangkan, tidak terlalu baku. Meskipun penulisnya tinggal di luar negeri, namun, penulisnya sukses menggunakan diksi-diksi sebagaimana halnya penulis-penulis yang tinggal di dalam negeri. Maksudnya, bila seseorang tinggal di luar negeri, maka ia akan lebih banyak menggunakan dan bisa saja melupakan beberapa kata yang jarang digunakan seperti ‘onak’, dll. Kemudian, pada bagian Sam gemas pada Rasmus, bahasa yang digunakan untuk menjelaskannya benar-benar lucu. Terkesan seperti novel-novel teenlit, but it’s not teenlit, guys. Salut dengan Mbak Uti!
    Plot twist. Sebenarnya, aku sudah bisa menebak ke arah mana cerita ini akan mengalir, bahkan aku bisa menebak masa lalu Sam dengan mudah karena ... sejak awal penulis tidak terlalu menyembunyikan fakta-fakta. Endingnya pun mudah ditebak. Apalagi, endingnya tidak disembunyikan sedikitpun. Jadi, apabila ada pembaca yang membuka halaman akhirnya (seperti aku), dipastikan dia akan mengetahui endingnya secara langsung. Jadi, mungkin akan lebih baik bila diberi epilog yang membuat pembaca tidak bisa mengintip endingnya.
    Kavernya ... two thumbs up! Keren! Eye-catching sekali! Kavernya memang sederhana, namun benar-benar merepresentasikan sosok Sam dan Rasmus dengan kehadiran dua perahu tersebut. Warnanya benar-benar menarik, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya lagi karena aku terlalu suka dengan kavernya!
    Oke, berikutnya ini sebenarnya tidak terlalu penting. Aku hanya menunjukkan bagaimana kurang lebih aku memvisualkan tokoh-tokoh di novel ini. Aku hanya akan menyebutkan dua tokoh ini saja dan ini tergantung selera juga. 
Sam

Rasmus
“Jika jiwa manusia yang retak, bagaimana aku dapat memperbaikinya?” (Hlm. 216)
“Aku tidak mau ia melihatku lagi dengan iba. Aku mau ia melihatku dengan penuh cinta. Aku mau merasakan hidup tanpa beban.” (Hlm. 226)
    Novel ini kurekomendasikan bagi kalian yang menginginkan novel dewasa dengan latar tempat yang menonjol. Novel ini bisa dijadikan bacaan di akhir minggu kalian untuk melepas penat. Sediakan banyak waktu untuk membaca novel ini karena novel ini benar-benar memaksamu untuk segera menyelesaikannya.

    Berlabuh di Lindoya got 3.5 of 5 stars


Cheers, 
Putri Pramaa

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon