[Book Review] Penjaja Cerita Cinta by @edi_akhiles




Judul               : Penjaja Cerita Cinta
Penulis            : @edi_akhiles
Penerbit          : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1      : Desember 2013
Tebal              : 192 halaman

*

Sebuah antologi cerpen dengan sub-judul “kesetiaan, rindu, perpisahan, dan kenangan” menjadi santapanku di ujung minggu ke-dua Januari.  Sebenarnya, membaca antologi cerpen tidak terlalu kusukai, lebih menyukai novel. Namun, sejak awal, aku sudah tertarik dengan sub judul yang Bapak @edi_akhiles bocorkan di timeline twitter-nya. Ya, kata-kata “kesetiaan, rindu, perpisahan, dan kenangan” yang langsung melesak masuk ke dalam hati, terlebih pada kata “perpisahan” yang benar-benar menggambarkan diri sendiri.
Well, dari kover depan antologi ini, kita pasti menebak-nebak gambar tangan dan kertas-kertas usang di sana. Warna cokelat yang mendominasi sampul depan dan belakang seolah menunjukkan bahwa antologi ini sedikit klasik dan natural. Itu yang kulihat dari kover depannya.

Lalu, pada bagian layout dan ilustrasinya di bagian dalam antologi. Coretan-coretan yang menyerupai sketsa menghiasi setiap halaman, dan seakan berteriak, “ini tentang tulisan tangan yang menggelora”. Layout dan ilustrasinya tidak membuat pembaca bosan dengan serangkaian kalimat di setiap halaman, tidak monoton. 
Setelah menyelesaikan antologi ini, aku sadar jika cerita-cerita di sini tidak memiliki garis besar yang sama. Cerpen-cerpennya mengangkat teknik-teknik yang berbeda dari penyampaiannya. Ada yang hanya berisi dialog, ada yang disertai kalimat-kalimat pendukung dan sangat nyastra
Bagi yang ingin belajar tentang teknik-teknik jitu dalam menulis itu, sebaiknya membeli antologi Penjaja Cerita Cinta - @edi_akhiles ini! Recommended! Setiap cerpennya memiliki pesan moral tentang hidup tentunya. Eitss, tapi jangan membaca cerpen-cerpen di antologi ini separuh-separuh, harus dibaca hingga selesai agar tidak membuat kerancuan para pembaca. 
Di antologi ini terdapat 15 cerpen yang—seperti kukatakan tadi—tema yang berbeda-beda. Oke, aku akan membagikan spoiler untuk kalian semua. Eits, tapi tidak semua cerpen akan kuberikan spoiler di sini. Come on! Belilah antologinya sendiri! :p
1)      Penjaja Cerita Cinta
“Kamu tahu aku selalu menunggu...” (Perpisahan – Penjaja cerita cinta, hal. 30)
Menunggu? Di cerpen ini ada sebacam empat sub bagian, yaitu Kesetiaan, Rindu, Perpisahan, dan Kenangan.Kisah yang berawal dari sang penjaja cerita yang menceritakan sebuah cerita yang benar-benar menawan. Dengan bahasa yang lihai dan benar-benar nyastra, membuat aku tak henti-hentinya berdecak kagum. Salut untuk kisah Senja sekaligus salut dengan diksi-diksi epik di cerpen ini. Senja yang membenci senja karena senja merenggut kekasihnya dan penantian-penantiannya benar-benar menggugah hati.
Namun, di awal cerpen, aku menyangka jika cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun, tiba di bagian tengah, ada bagian saat Nyonya Sri membatin, padahal di sini sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama (si Penjaja cerita cinta).
Dan yang terakhir adalah typo, aku menemukannya di cerpen ini. Namun, tidak terlalu berdampak jika dibandingkan dengan diksi-diksi epik di cerpen ini. Oleh karena itu, aku memberi 8 of 10 star untuk cerpen ini. Awesome!
2)      Love is Ketek!
Hanya 6 halaman!
“Ah, cewek, cewek. Juara banget jorokin cowok ke sudut-sudut terjal ‘rasa bersalah’, untuk kemudian merasa senang bahagia, lalu punya senjata untuk di kemudian hari kembali mengangkat masalah lama, yang intinya adalah untuk ‘kemenangan dia’.” (hal 51)
Sebagai ceorang cewek kata-kata itu membuatku sedikit tertampar. Oke, reaksiku memang berlebihan. Di cerpen ini, kata “aku” tidak digunakan, melainkan kata “gue” yang digunakan sebagai pengantar cerita.
Sebagai cewek yang kudet tentang sebutan-sebutan semacam parmincemmm, aku tidak tahu apa arti sebenarnya kata itu. Hanya di-italic tanpa ada keterangan arti. Mungkin ini karena aku terlalu kudet. Jadi, kuberi 6 of 10 star untuk cerpen yang bener-bener santai namun berhasil membuatku tersudut.
3)      Cinta yang tak berkata-kata
Pertama lihat judul, komentarku, “aduh rasanya ini aku banget. Gimana ceritanya nanti, ya?” Aku curhat di sini, hueee.
“Bukankah dari dulu aku selalu ada untukmu? Bukankah itu sudah cukup jadi bukti nyata betapa aku sangat menerima keadaan kita apa adanya, nyaris 3 tahun ini?” (hal.55-56)
Aduh, kisah cinta seorang penyair ini benar-benar menggetarkan hatiku di bagian awal. Sungguh, dari judul saja sudah menampar, bagaimana menurut kalian? Jujur saja, kalian sama tidak denganku?
Ending cerpen ini benar-benar mengejutkan. Silahkan baca sendiri bagaimana endingnya. Maaf.... :p Oh ya, masih ada typo yang terselip. Untuk cerpen ini 8 of 10 star patut didapat cerpen ini.
4)      Dijual murah surga seisinya.
Aku selalu membaca cerpen/novel dengan menilai judulnya, dan judul cerpen ini membuat sedikit mendesah berat. “Sepertinya akan benar-benar mengupas keagamaan deh.” Itu komentar awalnya. Namun, aku salah besar! Cerpen ini tidak berceramah panjang lebar tentang surga. Sungguh!
Pesan moral di cerpen ini sungguh apik. Ingin tahu? Baca sendiri cerpennya ^_^ 8 of 10 star didapat cerpen ini dariku^^.
5)      Menggambar Tubuh Mama
“Ya Allah, terimalah ayah dan mama di sisi-Mu, ampunilah semua kesalahan mereka, ...” (hal 79)
Mengharukan, dan aku menangis membacanya saat kejadian itu menimpa Mama. Benar-benar menginspirasi! 10 of 10 star untuk cerpen ini!
6)      Secangkir Kopi untuk Tuhan
Ini tentang kisah idola dan motoGP. Aku tidak tahu banyak tentang motoGP, namun aku menikmatinya. Rasa menjadi seorang penggemar dapat kekecap di cerpen ini.
9 of 10 star untuk cerpen yang mengharukan ini!
7)      Tak Tunggu Balimu
Lagu koplo yang menjadi sumber datangnya ide cerpen ini. Mencerikan si tokoh Edi yang menyukai lagu koplo. Ada syair yang bikin ngakak di cerpen ini, rasanya seperti menertawai fakta diri sendiri. Yah..., meskipun memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar lagunya, tapi ini benar-benar menggelitik!
Awesome! 7 of 10 star for it!
8)      Cinta Cantik
“Cinta sejati itu sulit, Bro, butuh perjuangan, kerja keras, pengorbanan, dan pengertian. Nggak heran deh kalau Kahlil Gibran tuh sampai ngomong gini: Jika engkau ingin melihat indahnya fajar, maka engkau harus melihat kelamnya malam…” (hal 112)
Rasa-rasanya, cerpen ini seperti ditujukan pada para kaum adam. Ada pesan moral di sini! Come on, Boy! Read it!
7 of 10 star for this! (^_^)
9)      Tamparan Tuhan
“Tidak ada yang bisa menghentikan cermin kehidupan untuk menangkap setiap lakumu, bahkan ia sanggup menembus alam imaji dan khayalmu sekalipun.” (hal 118)
Cerpen ini buat aku ngaca. Merasakan tokoh aku yang mengaku sebagai orang yang terdzalimi membuatku sadar. Ya, pesan moralnya benar-benar menyusup ke hatiku!
10 of 10 star for this story!! Wuhuu!
10)  10. Abah, I Love You…
“Abah, kendati aku memang tak pernah bilang ‘sayang, cinta, dan bangga padamu’, tetapi sepenuh hatiku amat sangat sayang padamu, cinta padamu, dan bangga padamu.” (hal 132)
Ini seperti diri sendiri yang mengalami. Sungguh, ini seperti aku yang tak pernah berkata sayang, cinta, dan bangga pada Papa. Lagi-lagi cerpen buatan Pak Edi ini bikin aku meleleh, bukan menangis. Terima kasih untuk pesan moralnya.
Tapi, di cerpen ini sedikit sekali ada dialog-dialog antar tokoh, hanya beberapa. Jadi, cerpen ini layaknya sebuah curhatan dari Pak Edi. 8 of 10 star for this!
11)  Cerita Sebuah Kemaluan
Pertama baca, aku sedikit nggak mudeng. Beneran, ada beberapa kata yang diberi bintang-bintang, nggak ngerti itu apa. Terus baca, aku mulai ngoceh, “Ya Ampun Pak Ediiiii.” Dengan muka berantakan aku teriak itu di pagi buta.
Aku sempat milih nggak nerusin cerpen ini, tapi, kuterusin lagi beberapa hari kemudian. Dan, aku sadar, kalau baca cerpen itu nggak boleh separuh-separuh, nanti pesan moralnya masuk separuh-separuh juga.
“Dasar manusia! Punya otak bukannya dipakai untuk berpikir benar, malah nyeleneh jorok ke mana-mana gitu!” (hal 134)
 6 of 10 star untuk ini!
12)  Munyuk!
Apa yang kalian pikirkan dengan judul seperti itu? Hayo?
Aku nggak mau memberi banyak spoiler untuk kisah ini. Kesendirian dan keluarga. Itu saja. Baca saja cerpennya sendiri!
“Jika kau berpikir bahwa kebahagiaan itu adalah penjelajahan duniawi tanpa batas, bukankah kau sendiri pernah berkata beberapa tahun lalu tentang kesia-siaan itu?” (hal 143)
6 of 10 star for this!
13)  Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya
Ini kisah tentang seorang anak yang harus merelakan ibunya pergi. Sedikit tidak nyambung dengan judulnya menurutku. But, it still inspires me!
 7 of 10 star untuk cerpen yang lagi-lagi buat aku intropeksi diri dengan segera!
14)  Aku Bukan Batu!!
“Kau, bahwa kekekalan hanyalah milik Tuhan! Kalau ada yang kekal selain-Nya, berarti Tuhan bukanah yang maha kekal! Ingat itu...!!!” (hal 161)
Cerpen ini berisi nasehat-nasehat yang merangkap menjadi pengingat bagi kita semua. Kita harus sadar tentang kekekalan di dunia ini! Menyadarkan kita!
8 of 10 star untuk cerpen ini!
15)  Si X, Si X, and God
Aku pernah baca cerpen ini di blog Pak Edi. Cerpennya tidak ada narasi sama sekali! Hanya dialog perbedatan antar tokoh! Aku nggak bohong! Beneran, nggak percaya? Baca sendiri!
8 of 10 star untuk cerita yang penyampaiannya unik ini!

Dari keseluruhan, aku tempelin 4 of 5 star untuk antologi ini!
Oh ya, di antologi ini ada bonus khusus mengenai dosa-dosa preett dalam menulis (over pede menganggap diri serba tahu!, abai pada detail, dan emosi sesaat). Berbeda dari kebanyakan antologi! Banyak teknik menulis yang dapat dipelajari di cerpen ini! Great!

0 komentar:

Posting Komentar

 
La Distances Blog Design by Ipietoon